Kolom

Berdamai dengan Covid dan Inovasi Layanan Rumah Sakit

Catherine Maname Uli - detikNews
Selasa, 23 Jun 2020 13:30 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -

Inovasi pelayanan rumah sakit dalam konteks beradaptasi terhadap pandemi Covid-19 merupakan hal yang wajar dan selayaknya dilakukan oleh seluruh rumah sakit. Seperti yang dinyatakan Ketua Umum ARSSI Susi Setiawaty, penurunan rawat jalan yang terjadi saat ini mengkhawatirkan pengelola rumah sakit. Bahkan cash flow rumah sakit juga terganggu karena jumlah kunjungan pasien non Covid-19 yang menurun drastis.

Penurunan rawat jalan itu 50 sampai 60 persen, kemudian rawat inap penurunannya 40-60 persen. Tentunya ini berdampak kepada arus kas di rumah sakit. Belum ditambah biaya yang cukup memberatkan, yaitu menyediakan Alat Pelindung Diri (APD). Perkembangan Revolusi Industri 4.0 pun menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi, tidak hanya sumber daya manusia yang mumpuni dalam penguasaan iptek, tools yang harus lengkap, tetapi yang lebih besar tantangan itu adalah penyebaran Covid-19, di mana semua sendi kehidupan seolah perlahan mulai terjadi keterlambatan bahkan cenderung stagnan bila tidak disikapi dengan pemikiran yang inovatif.

Inovasi dalam pelayanan rumah sakit tentunya berdasarkan pada visi dan misi masing-masing rumah sakit. Lebih khusus lagi, visi adalah suatu inovasi dalam manajemen modern, terutama manajemen strategis. Berangkat dari situ, direksi dan manajer mulai memutuskan apakah perlu mengubah arah bisnisnya, misalnya rumah sakit yang memang sejak awal dijadikan sebagai bagian dalam pemberian pelayanan kuratif dan rehabilitatif, mungkin bisa mengubah memusatkan pada pelayanan promotif dan preventif.

Namun pilihan lain bisa juga tetap pada pusat pelayanan kuratif dan rehabilitatif, tetapi cukup memusatkan pada salah satu jenis pelayanan yang mungkin sebelumnya merupakan andalan di rumah sakit tersebut. Pelayanan promotif dan preventif dapat dibuat secara online. Misalnya, buat acara seminar awam mengenai sesuatu penyakit dan sekaligus mempromosikan fasilitas atau alat medis canggih apa yang dipunya rumah sakit. Pembuatan seminar awam menggunakan fasilitas Zoom Meeting atau Google Meet. Kemudian buat aplikasi sendiri mirip ojek online yang bisa memesan dokter atau perawat ke rumah untuk homecare dan vaksinasi.

Buatlah berbagai macam paket vaksinasi dan homecare yang dapat dipilih pasien. Untuk perusahaan-perusahaan rekanan bisa ditelepon untuk penawaran rapid test massal. Kemudian jika masih mengandalkan pelayanan kuratif dan rehabilitatif, bisa kembangkan promosi tentang service center yang sudah dikembangkan sebelumnya mungkin dengan memberikan diskon. Namun jika belum ada sebelumnya suatu pelayanan yang menjadi ciri khas rumah sakit tersebut, bisa manfaatkan kondisi saat ini.

Menurut data estimasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), terjadi kenaikan sebesar 420.000 kehamilan dalam tiga bulan sehubungan dengan Covid-19 ini. Manfaatkan hal ini menjadi suatu peluang, misalnya dengan membuat aplikasi seperti ojek online di mana pasien yang ingin memeriksakan kehamilannya bisa tinggal pilih dan kemudian bidan datang ke rumah pasien tersebut.

Jika kehamilan masih normal bisa diperiksa oleh para bidan, tetapi jika ada masalah bisa dokter kandungan yang datang memeriksa kehamilan ke rumah atau jika memang kehendak pasien untuk diperiksa oleh dokter kandungan bisa dibuat pilihan tersendiri dengan membawa alat USG ke rumah. Saat sudah keluar tanda-tanda akan melahirkan pasien bisa memilih di aplikasi untuk call ambulance atau mungkin jika ada pasien gawat pilihan tersebut dapat digunakan. Buat akses masuk, lift, dan kamar rawat untuk pasien melahirkan benar-benar steril dari akses pasien lain sehingga pasien merasa nyaman dan tidak khawatir.

Untuk rawat jalan solusinya dengan membuat aplikasi telekonsultasi. Beberapa penyakit bisa diobati dengan anamnesis yang jelas dan disertai dengan foto, tetapi jika harus diperiksa secara mendetail, buat aplikasi yang bisa mengatur perkiraan waktu tunggu pasien tidak terlalu lama. Prof Rhenald Kasali dalam bukunya Let's Change mengungkapkan bahwa seberapa pun jauh jarak yang ditempuh, perubahan tetap harus dimungkinkan. Itulah prinsip manajemen perubahan.

Setiap upaya yang diambil dalam situasi pandemi Covid-19 ini harus dimaknai sebagai proses adaptasi mengatasi persoalan yang ada. Mungkin yang akan mengalami kesulitan adalah rumah sakit yang berada di daerah di mana fasilitas masih serba kekurangan seperti masalah listrik dan sinyal telekomunikasi. Namun, pemerintah tengah menawarkan konsep new normal. Dalam konteks pengembangan inovasi pelayanan rumah sakit, new normal adalah momentum untuk bangkit dan berubah.

Jika pada akhirnya akibat Covid-19 ini pemerintah mempercepat pengembangan infrastruktur dan pemerataan pembangunan, maka tidak ada alasan lagi untuk tidak bisa bangkit dari keterpurukan akibat pandemi ini. Pilihannya hanya berubah atau punah.

dr. Catherine Maname Uli, MARS dokter praktik umum, lulusan S2 KARS UI 2018

(mmu/mmu)