Kolom

Yuk, Kembali Bersepeda!

Budy Sugandi - detikNews
Senin, 22 Jun 2020 10:14 WIB
Jalur khusus sepeda terlihat di kawasan Bundaran HI. Jalur itu dibuat untuk warga yang bersepeda di kawasan yang kembali adakan car free day (CFD) tersebut.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Para penjual sepeda mendapat limpahan berkah pada masa pandemi Covid-19 ini. Mungkin semacam blessing in disguise. Masyarakat tampaknya sudah bosan berdiam diri di rumah. Ingin mencari kegiatan yang positif. Termasuk berbondong-bondong membeli atau sekadar memperbaiki sepedanya demi menyalurkan hobi, dan juga ada yang sekedar mengikuti tren.

Beberapa hari lalu, seorang kawan berkata bahwa harga sepedanya "tiga belas". Saya tanya, "Maksudnya 1,3 juta?" Dia jawab, "13 juta." Rasanya dengan uang segitu sudah bisa dapat sepeda motor. Harga sepeda memang variatif, tergantung mereknya mulai dari 1 jutaan sampai harga 80 jutaan rupiah.

Saya jadi teringat zaman bersepada ketika kuliah di Technische Universitat Braunschweig, Jerman. Budaya bersepeda ke kampus dan kantor sudah sejak lama mengakar bagi masyarakat Eropa.

Ketika berangkat ke kampus dengan sepeda, saya tidak merasa asing, bahkan menjadi mayoritas. Kami menerabas daun-daun kering yang berserakan di musim gugur termasuk sisa-sisa salju ketika masuk musim dingin dengan jaket tebal sambil menggigil.

Yang saya lihat, sepeda di sana memenuhi standar keamanan. Ada lampu di bagian depan dan belakang, karena malam hari pun banyak yang bersepeda --termasuk sebagai penerang pada musim dingin. Disediakan jalan khusus untuk sepeda plus rambu lalu lintasnya sehingga tidak khawatir diserempet mobil atau motor dari belakang. Serta, ada bel sepeda dan menggunakan helm.

Momentum Berbenah

Saya senang masyarakat di Jabodetabek dan beberapa kota lain sedang ramai bersepeda. Di jalanan terlihat mereka berlalu-lalang bersama keluarga, teman, atau bersama komunitasnya. Ini menjadi habit yang bagus dalam mengurai kemacetan, menjaga kesehatan tubuh, murah, dan mengurangi polusi udara.

Menurut NHS Choices UK (2016), banyak manfaat bersepeda. Dua di antaranya yaitu pertama, mampu memperbaiki kardiovaskular. Bersepeda termasuk olahraga kardio. Dikategorikan demikian karena dengan bersepeda, kinerja jantung, paru-paru, dan sistem sirkulasi darah akan meningkat.

Selain itu, bersepeda secara teratur juga mampu menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah, menguatkan otot jantung, dan menurunkan tekanan darah. Menurunnya kadar kolesterol jahat akan mengurangi risiko penyempitan pembuluh darah. Otot jantung yang biasa terlatih akan lebih efektif sehingga proses mengantarkan darah dan oksigen ke seluruh tubuh makin optimal.

Makin baik kinerja sistem peredaran darah atau kardiovaskular, makin rendah risiko terkena stroke, serangan jantung, dan tekanan darah tinggi.

Kedua, bersepeda mampu menurunkan tingkat stres. Saat bersepeda, tubuh akan mengeluarkan hormon yang disebut endorfin. Hormon ini memicu rasa nyaman dan suasana hati yang positif. Selain itu, endorfin juga bisa mengurangi rasa sakit. Timbulnya rasa nyaman dalam tubuh tentu saja akan mengurangi beban yang menggelayuti pikiran. Ditambah dengan pemandangan yang dapat dinikmati saat bersepeda, maka penurunan tingkat stres dalam tubuh akan makin terasa.

Dalam hal polusi udara, Jakarta menempati ranking 1 dari seluruh kota besar di dunia untuk urusan polusi udara. Indeks kualitas udara (AQI) Jakarta mencapai angka 189 atau termasuk kategori tidak sehat (151-200) dengan kandungan polutan PM2.5 129.9 mikrogram/meter kubik (AirVisual, Juli 2019)

Hasil riset Greenpeace Asia Tenggara dan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menunjukkan, dampak polusi udara dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara, minyak, dan gas dikaitkan dengan kematian dini di seluruh dunia sebanyak 4,5 juta orang per tahun. World Health Organization (WHO) menyatakan, polusi udara merupakan silent public health emergency dengan lebih dari 90% populasi dunia menghirup udara beracun.

Berdasarkan data inventarisasi Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, penyumbang polusi udara, 75% transportasi darat, 8% industri, 9% pembangkit listrik dan pemanas, dan 8% pembakaran domestik. Kendaraan bermotor yang melewati jalan di ibu kota, berdasarkan data statistik transportasi Jakarta terus meningkat setiap tahun.

Ini menjadi kesempatan emas bagi pemerintah pusat dan daerah untuk menyediakan infrastruktur bagi pengguna sepeda. Transportasi umum seperti kereta api dan bus harus menambah slot untuk sepeda lipat. Bukan hal yang mustahil, bersepeda menjadi kebiasaan baru masyarakat kita untuk pergi ke sekolah, kampus, dan bekerja.

Perbaikan infrastruktur menjadi hal yang sangat urgen karena saat ini fasilitas yang diberikan bagi pengguna sepeda di jalanan masih sangat rendah. Jika pemerintah mampu melihat peluang ini, maka inilah momentum yang tepat untuk berbenah. Apalagi mumpung jalanan belum terlalu macet dan masyarakat sedang bersemangat bersepeda.

Saatnya jalan untuk sepeda dibuat dan dibenahi hingga lengkap dengan rambu lalu lintasnya. Saya yakin masyarakat tidak keberatan untuk melengkapi sepedanya dengan lampu, bel, hingga menggunakan helm.

Perusahaan Sewa Sepeda

Selain itu, ini juga menjadi peluang pemerintah untuk bekerja sama dengan perusahaan persewaan sepeda (shared bicyecles). Salah satu contoh negara yang telah menerapkan ini ialah Tiongkok.

Untuk shared bicyecles di Tiongkok, biasanya di pinggir-pinggir jalan berbaris sepeda dengan berbagai warna. Ada 8 warna yaitu Hijau, biru muda, hitam, merah, kuning, putih, abu-abu, dan biru tua. Setiap warna membedakan perusahaan penyedia. Untuk menggunakannya kita cukup men-scan kode yang ada di sepeda dengan menggunakan Alipay atau WeChat Pay. Seketika kunci sepeda akan terbuka dan kita bebas berselancar menggunakan sepeda itu.

Sepeda yang digunakan tidak perlu dikembalikan ke tempat semula. Melainkan bisa diparkir di mana pun untuk dipakai pengguna lain. Pastikan sudah mengunci sepeda agar sistemnya berhenti.

Shared bicycles merupakan jawaban riil dari permasalahan kemacetan terutama di kota-kota yang sesat dan macet. Pada akhirnya, semoga bersepeda tidak sekadar menjadi kegiatan musiman, namun menjadi habit sehingga mampu mengurai kemacetan, menjaga kesehatan tubuh, murah, dan mengurangi polusi udara.

Yuk, kembali bersepeda!

Budy Sugandi penulis buku Jelajah Hidup Tanpa Batas, kandidat PhD Jurusan Education Leadership and Management Southwest University China, CEO Klikcoaching.com

(mmu/mmu)