Pustaka

Ketika Mata Penyair Sampai di Kuburan

Yana Risdiana - detikNews
Sabtu, 20 Jun 2020 11:23 WIB
nisan
Jakarta -

Judul Buku: Nisan Annemarie; Penulis: Binhad Nurrohmat; Penerbit: DIVA Press, April 2020; Tebal: 220 halaman

Dalam kata pengantar buku puisinya yang lebih dulu lahir dan sama-sama terikat tema kuburan, Kuburan Imperium (2019), Binhad Nurrohmat mengajukan beberapa pertanyaan yang terkait dengan kerja kepenyairan, namun tampaknya dua pertanyaan berikut yang menjadi kunci pergulatannya: bagaimana perasaan berinteraksi dengan perasaan yang lain? Apakah indera mata dan peraba tak bisa merasakan realitas?

Pergulatan tersebut saya kira bukan semata tersebab tema kuburan yang diusungnya. Tema kuburan hanyalah salah satu pilihan yang terhubung paling dekat dengan pergulatan ini. Sebagian benihnya muncul sejak buku puisi Binhad yang lain. Katakanlah dalam buku puisi Kuda Ranjang (2004) atau Bau Betina (2007) yang kontroversial karena dianggap mengandung diksi-diksi erotis.

Terlepas dari penilaian negatif sementara pihak atas karya tersebut, kita dapat melihat usaha Binhad menyigi ruang-ruang tersembunyi dari kebakuan realitas yang sudah dianggap benar semata lahir dari sebaran dominasi suara otoritas tertentu, khususnya seputar seks, gender, dan pornografi. Boleh jadi untuk menggarap tema puisi seperti ini, Binhad keluar-masuk sudut gelap ibu kota, namun pastilah tidak ada korespondensi dengan subjek-subjek yang dijumpainya di sana untuk mencapai semacam kesepakatan, kebenaran, atau pembenaran.

Alur serupa dapat diberlakukan saat langkah Binhad berselancar dari satu kuburan ke kuburan lain. Pada titik ini, seandainya pembaca memasukkan Binhad dalam kategori peziarah yang sedang melakukan ritus diukur dari tata cara menurut mazhab teologi tertentu, maka pembaca akan menyaksikan Binhad sedang merambah jalan keburukan, kesia-siaan, dan boleh jadi syirik.

Dari sisi Binhad, petualangannya memang kembali berpeluang menuai risiko, meski agaknya bukan kontroversi kali ini. Seakan-akan ingin bergerak dari pinggiran suara-suara tradisi ziarah yang pada umumnya dilakukan ke makan-makam para wali, atau tokoh-tokoh yang dianggap keramat atau dihormati. Binhad tidak sungkan untuk "ziarah" ke kuburan yang tidak diperhitungkan oleh sejarah. Sosok semacam Kusni Kasdut yang pernah menjadi perampok terkenal atau sekelas Dolly, tokoh di dunia prostitusi, tak luput menjadi bidikan Binhad. Bahkan seorang yang anonim di mana kuburannya pun kehilangan jejak namanya diberi porsi yang layak dalam buku puisi ini.

Hanya saja, posisi Binhad tidak sedang melakukan oposisi terhadap ziarah ke makam-makam para wali atau orang yang dianggap terhormat. Kuburan tokoh dunia sufi paling akbar, Ibn Arabi, dan beberapa kiai kharismatik tetap menjadi perhatian Binhad. Wakil-wakil dari tokoh yang menyandang atribut filosof, penyair, dan raja ikut dipotret pula kuburannya. Tanpa membakukan hierarki dari sudut apapun atau perbedaan apa saja, entah status, ideologi, agama, golongan, ras atas tokoh-tokoh yang disinggung kuburannya dalam buku puisi ini, Binhad mendengar dengan ketekunan yang sama atas setiap "suara" dari masing-masing kuburan tersebut.

Dibanding buku puisi Binhad saat awal karier kepenyairannya, pergeseran yang menonjol dalam karya puisi Binhad sekarang terlihat dari sisi aku-lirik yang sama-sekali tidak dimunculkan, setidak-tidaknya tersembunyi. Sebagai ilustrasi, kita ambil dari puisi yang menjadi judul buku tersebut, Nisan Annemarie, dan akan dikutip sejauh yang relevan untuk tulisan ini. Pada bait pertama terdapat larik berikut:

Berbisik riwayat selepas menepi hayat
dan ingatan tak lari dari batas biografi


Larik ini menunjukkan hubungan ego aku-lirik dengan dunia di sekelilingnya lenyap karena tidak ada situasi yang membuat ia harus bergantung secara langsung pada objek-objek di hadapannya yang memang tidak hidup, termasuk nama Annemarie yang tertera dalam nisan itu. Sementara Annemarie, tentunya sama sekali tidak bergantung secara eksistensial pada penyair yang sedang berkunjung ke kuburannya.

Akibatnya, walaupun dua nama itu saling berhadapan, hubungan di antara keduanya menjadi unik: antara nama yang hadir tulisannya tanpa tubuh (Annemarie) dan yang hadir tubuhnya namun tidak tertulis namanya (penyair). Mereka tidak dapat melakukan dialog yang memungkinkan dua subjek saling menyingkap persepsi dan eksistensinya masing-masing. Maka, bagi Binhad, konsep waktu yang terbentuk sebagaimana disebutkan bait selanjutnya puisi ini (dikutip tidak utuh):

Takdir membuat masa depan tak ada
setelah semua diguratkan di belakang

Waktu bergerak dari titik penguburan ke masa lalu masing-masing subjek yang dikuburkan. Lantas konstruksi penglihatan apa yang sedang dibangun oleh penyair? Penyair besar Amerika Wallace Stevens pernah mengatakan, "When a poet makes his imagination the imagination of other people, he does so by making them see the world through his eyes." (Letters of Wallace Stevens, 1996).

Jika kembali pada pertanyaan dari Binhad sendiri seperti dikutip pada awal tulisan ini, maka Stevens seperti memberi sebagian jawaban positif bahwa indera mata bisa merasakan realitas. "Imajinasi" Annemarie seperti mengalir menuju mata penyair hingga penglihatan yang muncul diungkapkan oleh Binhad melalui larik-larik pada bait-bait selanjutnya (dikutip tidak utuh):

Seperti Annemarie Schimmel mengerti
di relung pusara bermula segala cerita

Sebujur fana manusia sebatas tampak
sebelum jala-jala kekal hadir menjerat

Lewat kalimat kasat mendiang berucap
pada nisan dari masa lalu yang terpahat
Langit bertitah kepada yang kelak lindap
sedari hayat di dunia hanya lelap sesaat

Konstruksi yang dibentuk penyair dalam mencari kemungkinan dunia yang ingin dibentuk menjadi khas. Pikiran penyair, ruang internal dirinya, lebur atau tersembunyi setelah melihat ruang eksternal dari subjek yang dihadapi penyair (seseorang yang telah dikuburkan). Penyair tampaknya kehilangan pijakan untuk tegas menyatakan "aku" dalam posisi ini. Tapi bukan kematian pengarang yang terjadi. Binhad seperti ingin mengatakan, "Saya tidak di sana, tapi ada yang saya lihat."

Apakah puisi Binhad jatuh pada puisi "suasana" ala Sapardi Djoko Damono? Menurut hemat saya tidak. Jika meminjam komentar Goenawan Mohamad yang menyebut kata-kata dalam puisi Sapardi "bergerak hidup-bulat, menjadi tanda, sekaligus mikrokosmos sendiri" (vide Bakdi Sumanto, Sapardi Djoko Damono: Karya dan Dunianya, 2006), maka puisi Binhad membariskan kata-kata menuju kematian, tanpa berambisi merangkum sebuah makrokosmos ke dalam ungkapannya, sebagaimana tercermin dalam sebagian bait dari puisinya yang lain di bawah judul Kuburan Terakhir yang berbunyi:

Laksana sepi tak berjumpa bahasa
semenjak berpusara seluruh kata

Realitas dalam puisi Binhad barangkali lebih dekat dengan dunia yang mungkin dibentuk versi filosof Deleuze (Negotiations, 1972-1990, 1995) ketika menyatakan, "A concept of the Other, by defining it as neither an object nor a subject (an other subject) but the expression of a possible world...Including possible worlds in the plane of immanence."

Dalam konteks buku puisi ini, Binhad melakukan petualangan imanensi dari satu pusara ke pusara ke pusara lain, mencoba menyuarakan "yang lain" bersama kisah-kisah masa silam. Dengan semangkok hidangan malam/ masa silam tak kenyang dikisahkan, begitu gumam sang penyair dalam puisi Semangkok Mie Ongklok, sebelum rangkaian puisi-puisi Binhad ditutup dengan bab terakhir bukunya di bawah judul Warisan Reruntuhan yang menyengat bau kehampaan.

Buku Binhad ini menyimpan banyak misteri sebagaimana kuburan. Dalam bahasa Binhad di kumpulan puisi sebelumnya, "Kesadaran, perasaan, bisa lolos dari genggaman tangan penyair, juga dari tangan siapa saja." Artinya, juga, ipso facto bagi orang yang telah dikuburkan, siapapun orang itu. Secara terbalik bagi pembaca, siapapun Anda, punya kesempatan menggenggamnya kesadaran itu, siapa tahu. Ini hal lain yang menarik dari buku ini.

Yana Risdiana advokat dan menulis puisi. Buku Larik-Larik dari Jurus Dasar Silat Cimande merupakan kumpulan puisi pertamanya dan masuk nominasi 20 Buku Puisi Terbaik Sayembara Buku Puisi HPI 2018

(mmu/mmu)