Kolom

Kebangkitan "Sega Berkat"

Heri Priyatmoko - detikNews
Jumat, 19 Jun 2020 14:04 WIB
Sego Berkat khas Wonogiri Bu Murni
Nasi berkat berbungkus daun jati (Foto: Yenny Mustika Sari/dok. detikFood)
Jakarta -

Tatkala kerinduan akan kampung halaman memuncak, sega berkat datang bak ratu adil di tengah pageblug. Rombongan perantau dari Wonogiri memilih "mudik" lewat bersantap nasi berkat. Hidangan berisi nasi dikawani segelintir daging sapi, srundeng, bihun, dan oseng lombok ijo itu diburu laksana buronan yang lama diincar intel. Dengan menyantapnya, kenangan semasa hidup di desa melambung. Alas daun jati dan makan dipuluk alias tanpa sendok menambah nikmat.

Bakulan nasi berkat merupakan peluang usaha baru di kota Jakarta dan Solo. Jika ditengok dalam atlas kuliner Nusantara, sega berkat lestari selama berabad-abad dan memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat Jawa. Kamus Bausastra Jawa (1939) anggitan Poerwadarminta melesakkan etimologi "berkat" sebagai sega salawuhane kang diwènèhake marang wong-wong kang padha mèlu slametan (nasi berikut lauknya diberikan kepada orang-orang yang mengikuti upacara selamatan).

Sementara Bakker melalui pustaka Giri Sonta Course for Javanese (1964) mengutarakan "berkat" adalah food taken home by the guests (of the 'slametan'). Dalam Javanese-English Dict, "berkat" dimaknai sebagai food, blessed by a religious official, taken home from a ritual ceremony by the guests after they have eaten a portion of it.

Selarik penjelasan ahli kamus ini selaras dengan episode sejarah yang tertuang dalam Serat Centhini (1814-1823). Naskah yang kental dengan pengetahuan Jawa dan Islam itu mengisahkan bahwa di rumah penduduk desa, tokoh Jayengwesthi mendengarkan bunyi bedug yang dipukul tiga kali kala menyaksikan sebuah tontonan. Suara itu ibarat alarm bagi dirinya untuk lekas beranjak pulang.

Semalaman raganya juga digelanyuti lelah. Hari menjelang subuh, para santri diajaknya berpamitan kepada empunya rumah. Mereka membubarkan diri seraya anggawa berkate (membawa berkat). Di halaman, tinggal lurah desa sendirian.

Fragmen lainnya yang dirakit pujangga istana Kasunanan dalam "ensiklopedi Jawa" itu memasang nama Basarodin sebagai pemuka agama yang disampiri tugas melantunkan doa. Digambarkan pada suatu upacara selamatan, orang bersedekah jenang baning. Kebetulan yang datang dan berkirim doa tidaklah banyak. Mereka bersantap enak secara gratis, yang diundang segelintir pula. Hati dikerubuti rasa senang lantaran disuguhi pindang dan ikan begitu melimpah. Amung berkate tan ana pengaji (Berkat-nya tidak ada harganya atau gratis).

Agar bisa mereguk kelezatan makanan ini, mereka tanpa bersusah payah merogoh kepeng (duit) ataupun menyumbang beras seperti lumrah kala tetangga menggelar hajat pernikahan.

Fakta historis di muka bukan saja menjelaskan aspek temporal nasi berkat yang telah muncul dua abad silam. Tetapi juga petunjuk penting kehadirannya di ruang sakral yang bertemali dengan urusan religi. Bila tidak membawanya pulang (mberkat), santri maupun peserta slametan langsung menyantapnya selepas diujubne (didoakan) bersama. Mereka kembul bujana ditingkahi gelak tawa sehingga menambah suasana regeng dan relasi sosial merekat. Dilumuri guyonan para pendoa yang sering berkelakar sewaktu menghadiri upacara slametan menyimpan misi golek berkat (mencari nasi berkat).

Hubungan antara perapal doa, ritual selamatan dengan nasi berkat seperti gigi dan gusi, sukar diceraikan. Ada sepotong kisah polah santri yang bikin pembaca mengulum senyum. Selepas mengelilingi sekujur pulau Jawa, penyurat Serat Centhini mengabarkan kegiatan syukuran telah rampung, para santri gaduh, dan suaranya seperti burung bethet. Mereka berebut kenduri, kèh berkat wutah ambrobol (banyak berkat yang tumpah). Perseteruan antar pendoa tak terelakkan. Celakanya, nasi bersama ikan yang hendak dibawa pulang malah hancur. Kaki mereka menginjak nasi, lantas segera membasuhnya.

Proyek agung islamisasi di tlatah Jawa tidak menyingkirkan sega berkat, justru melanggengkan warisan periode Hindu itu. Lauk secuil daging sapi yang mendekam di pinggir nasi menerbangkan ingatan historis kita pada riwayat Raja Mulawarman. Dalam prasasti kerajaan Kutai di Kalimantan merekam kedermawanan raja yang menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana. Bukti singkat dari abad ke-5 Masehi ini menegaskan melimpahnya populasi sapi di masa silam.

Sapi yang masuk kategori rajabrana bukan sekadar kawan membajak dan tabungan, namun juga menjadi hidangan istimewa manakala pembesar istana atau kaum berduit menghelat acara mewah. Bahkan, di Wonogiri yang menjadi pusatnya sega berkat, memotong hewan berkaki empat ini (mbeleh sapi) merupakan tolok ukur seberapa besar dan kualitas orang yang punya gawe.

Ada kalanya nasi berkat oleh sebagian orang disebut sebagai "sega angsul-angsul". Menilik hasil kerja Poerwadarminta dalam Bausastra Jawa (1932) mendokumentasikan lema "angsul" yang berarti ulih, bali. Tidak keliru jua sebutan itu, sebab tetamu selepas menyumbang dan hendak pulang bakal dibalas oleh tuan rumah berupa nasi komplet. Terminologi "angsul-angsul" dijumpai dalam Babat Tanah Jawi. Dipaparkan, Mas Rangga Yudanagara berangkat dari Betawi pada minggu pertama membawa angsul-angsul (pengembalian atau balasan) surat dari tuan gubernur jenderal.

Pangeran Puger mengundang petinggi kolonial Belanda itu untuk menyaksikan penobatannya sebagai ratu di Semarang. Kisah ini senapas dengan peristiwa orang yang pergi nyumbang akan diberi pengembalian berupa nasi berkat.

Demikianlah makna kultural sega berkat yang tidak bisa kita disebut sebagai kuliner ecek-ecek. Ia bukan sekadar penyembuh rindu dan wahana bernostalgia dengan alam pedesaan, namun jejak historis yang patut dilestarikan dan dipromosikan lintas negara. Makanan Nusantara tersebut menyadarkan kita bahwa unsur kuno dan tradisional tidak selalu kalah dicaplok modernitas dan kekinian. Menyantapnya berarti kita menghargai pelaku usaha kecil sekaligus mencintai warisan kakek moyang.

Terlebih lagi, sega berkat bentuk dari kemandirian pangan masyarakat desa karena tidak perlu impor. Inilah momentum kebangkitan sega berkat!

Heri Priyatmoko dosen Prodi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, penulis pustaka "Keplek Ilat"

(mmu/mmu)