Sentilan Iqbal Aji Daryono

Ketika Kita Tak Lagi Pantas Berdoa untuk Diri Sendiri

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 16 Jun 2020 17:10 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Sejak ramai-ramainya wabah ini, jadwal ronda di kampung saya berubah. Kalau dulunya cuma ronda-rondaan, kumpul jam sepuluh bubar jam dua belas, sekarang kami harus pulang menjelang subuh. Buat yang bolos, sanksinya denda tiga puluh ribu. Selain itu, semua ujung gang dipasangi portal-portal baru berbahan bambu. Tiap jam delapan malam ditutup, jam enam pagi baru dibuka.

Jadwal ronda yang diperpanjang dan portal-portal yang dibuka-tutup itu bukan untuk menghadang virus. Toh virus-virus menyebalkan itu bisa saja menempel pada baju salah satu warga yang pulang dari pasar, sedangkan tak mungkin dia dilarang masuk kampung. Musuh yang kami hadapi secara langsung memang bukan virus, melainkan maling-maling.

Ya, ketika ketegangan karena korona sedang puncak-puncaknya, kabar tentang maling-maling itu bermunculan. Pak Memet rekan ronda saya membagi video berisi adegan maling ketangkap dan digebuki di desa sebelah. Sebelumnya, di desa yang lebih dekat lagi, seorang warga kehilangan ayam-ayamnya.

Itu baru cerita-cerita yang dekat dengan lingkungan kami. Di lingkungan yang agak jauh lagi, ada kabar yang lebih mengerikan: maling mencuri gabah yang dijemur warga. Anda paham di mana sisi mengerikannya, bukan? Jelas, maling semacam itu melakukan kejahatannya bukan karena benar-benar jahat, melainkan karena kelaparan.

Harga gabah kering yang bisa diambil sekali angkut tanpa gerobak jelas tak seberapa, dan mencuri gabah sama sekali bukan sikap maling yang punya mindset efektivitas dalam menjalankan "bisnis" mereka. Mereka melakukannya karena lapar. Itu saja. Dan, mereka yang lapar dan terpaksa mencuri gabah itu berada pada kondisi tragisnya ya karena korona.

Gara-gara korona, bisa jadi pabrik tempat mereka bekerja menghentikan usahanya, dan tak bisa mencegah PHK. Bisa jadi pula mereka pedagang di pasar, dan waktu itu pasar sepi bak kuburan karena orang-orang dilarang masuk kerumunan. Sementara, karena kantor-kantor menjalankan WFH dan sekolah-sekolah diliburkan, para pedagang keliling juga tidak kulakan. Hasilnya adalah orang-orang yang tak lagi mendapat penghasilan, karena tersambar PHK atau kehilangan pelanggan.

Orang-orang yang tak punya pemasukan itu tak tahu lagi mesti berbuat apa untuk memberi makan anak-istri mereka. Boro-boro punya tabungan, lha wong selama ini buat sehari-hari saja sudah mepet bahkan kadangkala terpaksa cari pinjaman. Akhirnya, hal yang sebenarnya tak boleh dilakukan ya terpaksa dilakukan.

Imbasnya, kecemasan akan aksi maling-maling itu meningkat. Kami yang masih bisa makan pun harus ronda sampai pagi. Karena mesti melek sampai pagi, siangnya ya harus tidur. Grup kami sih beruntung karena terjadwal Sabtu malam, sehingga pada hari Minggu kami bisa ngorok seharian. Tapi grup lainnya bagaimana? Mau menyambung tidur pada hari kerja tidak mungkin, mau merem di tempat kerja bisa-bisa dipecat juragan saat PHK sedang musim-musimnya. Akhirnya badan dipaksa tetap siaga, daya tahan tubuh menurun, dan tubuh yang melemah bisa membuka pintu lebar-lebar kepada terjangan virus-virus korona.

Wabah ini memang mendidik kita dengan sangat keras dan sangat seketika untuk menyadari banyak sekali hal. Bukan hanya pelajaran tentang menjaga kesehatan, namun yang lebih mendasar lagi adalah pemahaman bahwa satu titik dengan titik lainnya selalu saling berhubungan.

Pagi tadi, dalam perjalanan ke rumah usai menjemput emak saya, kami lewat di depan sebuah toko. Toko di sebelah lampu merah itu menjual baju-baju batik. "Sepi banget, ya," gumam emak saya.

Tentu saja begitu. Karena wabah ini, kantor-kantor diliburkan, pertemuan-pertemuan dibatalkan. Demikian pula kondangan-kondangan manten tidak mungkin digelar. Forum-forum diselenggarakan lewat aplikasi Zoom atau grup Whatsapp, akad nikah diselenggarakan cuma bersama keluarga terdekat.

Orang-orang jadi tidak terlalu butuh berpenampilan, baju batik baru tak lagi diprioritaskan. Lalu pedagang batik pun senasib dengan para pengusaha katering dan penyewaan tenda hajatan. Akibatnya, pemasukan untuk toko lenyap, gaji karyawan terpaksa disunat, dan para karyawan yang biasanya makan siang di warung seberang jalan lebih memilih makan seadanya daripada jajan.

Warteg itu ikutan sepi. Penyetor bahan baku lauk-pauknya jelas saja lebih sepi. Dan produsen pusatnya tak dapat pesanan lagi.

Jalur-jalur kesengsaraan ini memang seperti sel-sel kanker, menyebar ke mana-mana. Kota wisata semacam Jogja sangat merasakan dampaknya. Piknik adalah kebutuhan sekunder, atau bahkan tersier. Orang bertamasya hanya ketika punya anggaran sisa. Karena ekonomi jutaan keluarga terpukul, tak ada agenda jalan-jalan. Belum lagi kerumunan dilarang, sedangkan tempat-tempat wisata memang mengandalkan kerumunan.

Walhasil, bukan hanya tempat wisatanya yang sepi. Toko oleh-oleh juga sepi, tukang-tukang becak yang selama ini mengandalkan bonus dari pemilik toko (karena si tukang becak mengantarkan turis untuk belanja bakpia) ikutan sepi, rental mobil berikut sopir-sopirnya pun ikutan sepi. Semua orang memang dirundung sepi.

Dulu, ketika dua orang bertransaksi, si penjual hanya memikirkan si pembeli. Tapi sekarang, penjual diam-diam juga memikirkan bagaimana caranya si pembeli bisa membeli, siapa saja yang terlibat dalam aktivitas ekonomi yang mampu meningkatkan daya beli si pembeli, lalu berharap agar bangunan perputaran rezeki yang tidak secara langsung melibatkan si penjual itu bisa terus berdiri.

Beberapa hari lalu usai sembahyang, saya berdoa. Sebagaimana biasanya, saya mendoakan keluarga saya. Tapi kemudian segera saya tersadar, tertawa, karena merasa bego campur nista.

Sekarang ini, berdoa untuk keluarga sendiri ternyata sangat tidak cukup. Kalau hanya keluarga saya sendiri yang sehat dan selamat, tapi keluarga teman-teman saya tidak selamat, apa yang akan terjadi? Tentu mereka tak bisa bekerja. Kalau tidak bisa bekerja, mereka tak bisa cari rezeki. Kalau tak dapat rezeki, bagaimana mereka bisa menyisihkan uang untuk, misalnya, membeli buku-buku saya?

Padahal, kalau mereka tak bisa membeli buku-buku saya, saya dapat duit dari mana? Tentu anak-anak saya juga yang akan kena imbasnya. Akhirnya, saya berdoa pula untuk keselamatan, kesehatan, dan rezeki teman-teman saya.

Cukup? Ternyata belum juga. Teman-teman saya itu menjalankan aktivitas ekonomi mereka sehari-hari tanpa bersinggungan sedikit pun dengan saya. Mereka terhubung dengan kepentingan banyak orang lainnya yang sama sekali tidak saya kenal. Tapi jika orang-orang itu terpukul, teman-teman saya terpukul, saya pun ikut terpukul.

Akhirnya saya berdoa untuk banyak sekali orang yang tidak saya kenal, yang sebangsa atau yang tidak sebangsa, yang seagama atau yang tidak seagama. Bahkan mungkin ujung-ujungnya saya harus berdoa bukan hanya untuk bangsa manusia.

Apakah saya mulia karena melakukan itu? Sama sekali tidak. Saya hanya seorang egois-oportunis yang sedang memikirkan diri sendiri dan keluarga saya sendiri. Sialnya, wabah ini sungguh-sungguh mengajarkan bahwa sangat tidak cukup jika sekarang ini kita hanya mengharapkan kebaikan untuk diri kita sendiri.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)