Kolom

Mengejar Target Pekerjaan yang Tertinggal

Davis Fojem - detikNews
Selasa, 16 Jun 2020 13:08 WIB
Pekerja menggarap proyek pembangunan LRT (Light Right Transit) di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (9/4/2020). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengalihkan anggaran infrastruktur sebesar Rp24,53 triliun untuk penanggulangan pandemi virus Corona (COVID-19). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/aww.
Foto: Dhemas Reviyanto/Antara
Jakarta -

Kondisi pandemi Covid-19 yang mulai mereda menjadi momentum untuk bangkit menjalani kehidupan baru. Setelah setengah semester nyaris tanpa kegiatan karena imbauan harus berdiam diri di rumah, maka saat ini harus mulai mengatur strategi mengejar target pekerjaan yang sempat tertinggal.

Meskipun era pandemi sempat menghantui, tidak praktis menjadikan target pekerjaan proyek-proyek pembangunan lantas bisa dilupakan. Apalagi proyek pekerjaan yang bersifat strategis dan vital bagi kehidupan sosial masyarakat, bahkan menjadi bagian dari proyek strategis nasional seperti pembangunan jalan, jembatan, pembangkit listrik dan jaringan transmisi listrik maupun proyek vital lainnya.

Keputusan dalam mengambil langkah-langkah yang tepat akan sangat berpengaruh dalam kelancaran proyek ke depan. Langkah yang terlalu "berani" tanpa mempertimbangkan risiko pandemi tentu saja bisa menimbulkan kerugian kesehatan bahkan jiwa manusia. Namun langkah-langkah yang terlalu "aman" dengan menghentikan pekerjaan di sisi lain pasti akan menimbulkan banyak kerugian dari sisi materi dan waktu pekerjaan, bahkan perekonomian para pekerja dan masyarakat lingkungan sekitar yang terlibat di dalamnya.

Sebagian masih menjadi perdebatan, apakah situasi pandemi Covid-19 ini dapat dijadikan sebagai kondisi keadaan force majeur yang biasanya tertuang dalam kontrak pekerjaan. Layaknya bencana alam banjir, longsor, gempa bumi, ataupun kejadian huru-hara yang di luar prediksi, pihak kontraktor atau pelaksana lapangan biasanya dapat meminta untuk penundaan target waktu penyelesaian pekerjaan.

Suplai material yang terhambat karena kendala transportasi, kesulitan kordinasi karena pertemuan dan rapat yang dibatasi, pengawasan lapangan yang tidak optimal, sampai dengan permasalahan pekerjaan di lapangan yang tidak maksimal menjadi suatu faktor tersendiri yang menghambat keberlangsungan pekerjaan proyek di lapangan.

Untuk lokasi pekerjaan di daerah yang jauh dari keramaian ataupun remote area, jika pekerjaan tetap harus dilanjutkan, kontraktor harus menyiapkan pengeluaran harian seperti biasa ditambah protokol kesehatan yang harus dijalankan, dengan konsekuensi minimnya produktivitas yang dihasilkan. Atau jika pemilik proyek dan kontraktor bersikeras harus menghentikan pekerjaan, mereka juga harus menyiapkan cost tambahan untuk memobilisasi pekerja harian balik ke lokasi mereka masing-masing dan kompensasi bagi karyawan yang diberhentikan. Hal ini akan menjadi situasi sulit dan menjadi pilihan yang mesti dilewati di tengah pandemi.

Setelah memasuki babak "new normal", dibutuhkan terobosan-terobosan baru untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Suplai material dan akses yang sudah kembali normal menuntut pemilik proyek dan kontraktor harus mengambil langkah-langkah agresif dengan tetap mempertimbangkan potensi risiko kesehatan yang mengancam. Dibutuhkan langkah-langkah baru di tengah kenormalan baru agar akselerasi pekerjaan dapat ditingkatkan layaknya seperti sebelum terjadi pandemi.

Koordinasi Secara Digital

Permasalahan ataupun kendala lapangan yang terjadi sebelum wabah ini umumnya diselesaikan melalui rapat dan diskusi melalui tatap muka secara langsung. Sedangkan di masa new normal, permasalahan rapat dan diskusi mau tidak mau harus diselesaikan melalui jarak jauh secara online, dilakukan secara digital di dunia maya saja.

Pandemi yang terjadi bertepatan dengan meningkatnya teknologi media informasi yang memungkinkan semua dilakukan secara online, sehingga meskipun hasilnya belum maksimal layaknya tatap muka langsung, tapi setidaknya ini sudah membantu mengatasi kendala permasalahan yang ada.

Di sisi lain, ada bagian yang bisa dihemat pemilik pekerjaan dan kontraktor. Walaupun nilainya tidak terlalu signifikan, biaya untuk konsumsi rapat ataupun biaya akomodasi yang harus dikeluarkan kedua belah pihak untuk memenuhi undangan rapat yang berada jauh dari lokasi domisili kantor terkait bisa menjadi menghemat pengeluaran.

Meminimalisasi Pemakaian Kertas

Salah satu cara mengantisipasi penyebaran virus sesuai dengan standar protokol yang ditetapkan adalah meminimalisasi kontak fisik perorangan ataupun benda dan permukaan. Kertas kerja, gambar desain, atau kertas administrasi lainnya yang biasa beredar di lokasi pekerjaan proyek yang sifatnya hard copy biasanya sudah melalui beberapa kali pindah tangan.

Perjalanan kertas di lokasi proyek cukup jauh, mulai dari pemilik pekerjaan (owner), engineer atau pembuat desain, pemeriksa gambar, petugas administrasi, diteruskan kepada pengawas sampai dengan pekerja di lapangan dan tim auditor. Jika salah seorang dari mereka terpapar Covid-19, tentu akan membuka potensi penyebaran virus yang cukup luas. Antisipasi terkait hal ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan pengiriman gambar atau surat administrasi lainnya secara digital, termasuk persetujuan pemeriksaan yang biasanya dilakukan secara manual dengan paraf serta tanda tangan diubah menjadi sistem online.

Pengecekan dan Protokol Kesehatan

Kondisi pandemi yang terjadi saat ini menjadi momentum bagi setiap orang untuk mengubah pola pekerjaan dan standar perilaku.

Sebelum dimulai pekerjaan sudah menjadi standar K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di lokasi proyek untuk dilakukan briefing terlebih dahulu. Pengawas K3 di lapangan biasanya akan memberikan pengarahan dan pengecekan terkait standar keamanan, kelengkapan alat, orang dan target pekerjaan, serta hal lain yang dirasa perlu disampaikan sebelum dimulainya pekerjaan.

Setelah situasi pandemi ini, hal tersebut akan diterapkan lebih ketat dan intensif untuk dilaksanakan, di samping tambahan protokol standar antisipasi Covid-19 yang ditetapkan pemerintah dan Badan Kesehatan Dunia.

Briefing yang biasa dilakukan mengharuskan menambahkan item pengecekan kesehatan, seperti pengecekan suhu tubuh untuk setiap pekerja harian dan karyawan. Kondisi visual keadaan fisik seseorang kondisi tubuh lemas pucat dan sebagainya harus menjadi bahan pertimbangan, dan mungkin saja suatu saat nanti ada pengecekan lain yang dapat mewakili kondisi kesehatan seseorang secara cepat terkait antisipasi virus ini, mungkin setara rapid test ataupun swab test yang lebih instan dengan biaya yang lebih murah.

Akal dan Semangat

Meskipun wabah sedang melanda, namun pembangunan serta proyek yang dijalankan tetap harus berlangsung. Hal ini merupakan bagian dari program pemerintah untuk terus menggiatkan pembangunan. Kontinuitas pekerjaan di lapangan mesti terus dijaga untuk meminimalisasi kerugian dan secara tidak langsung menjaga perekonomian di sekitar lokasi proyek itu sendiri.

Mulai dari pekerja kasar atau pekerja harian, penjual rokok dan minuman di lingkungan sekitar proyek, mereka semua merupakan komunitas yang menggantungkan hidupnya berdasarkan kelangsungan proyek. Penghentian pekerjaan satu hari saja, hilang pula pemasukan mereka pada hari itu. Akhir kata, permasalahan mungkin akan datang silih berganti, dan mungkin akan menghambat laju pembangunan proyek yang dilaksanakan, tapi akal dan semangat manusia akan selalu menemukan jalan keluarnya.

(mmu/mmu)