Kolom

Kasus Klorokuin, Gegabahnya WHO, dan Keprihatinan Dunia

Faqihul Muqoddam - detikNews
Selasa, 16 Jun 2020 12:11 WIB
Chemical formula of Chloroquine on a futuristic background
Ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Zerbor
Jakarta -

Kabar terbaru menginfokan bahwa lembaga kesehatan internasional World Health Organization (WHO) kembali melanjutkan serangkaian uji coba hidroksiklorokuin atau klorokuin yang sebelumnya sempat dihentikan karena disebabkan berbagai faktor, salah satunya dari temuan Mandeep R. Mehra, dkk. Temuan dengan judul Hydroxychloroquine or chloroquine with or without a macrolide for treatment of COVID-19: a multinational registry analysis itu sempat membuat WHO mengambil keputusan pelik di tengah dorongan dari berbagai pihak dalam memunculkan vaksin untuk wabah Covid-19.

Sempat menyetop uji coba obat tersebut, WHO kembali melanjutkan uji cobanya baru-baru ini yang diikuti oleh negara-negara lain. Penelitian yang terbit di jurnal kredibel seperti The Lancet dan New England Journal of Medicine tersebut banyak memberikan sumbangsih atas keputusan yang selama ini diambil oleh WHO, khususnya tentang penggunaan obat malaria jenis klorokuin sebagai obat dalam membantu pasien Covid-19.

Pada 22 Mei lalu, penelitian tersebut terbit dan mengejutkan seluruh publik bahwa klorokuin yang selama ini diyakini dapat berkontribusi pada penyembuhan pasien Covid-19 ternyata salah. Sebaliknya, temuan dari jurnal tersebut menyebutkan bahwa obat tersebut dapat meningkatkan risiko kematian bagi pasien Covid-19 dengan penurunan kelangsungan hidup serta peningkatan frekuensi ventricular arrhythmias di rumah sakit.

Hal ini menarik perhatian WHO. Pasalnya, WHO sedang melakukan uji coba terhadap obat klorokuin, namun tiba-tiba dihentikan akibat temuan terbaru tersebut. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Pasalnya, saat ini WHO kembali melanjutkan ujicoba tersebut setelah penelitian yang dipimpin oleh Mandeep R. Mehra dkk diketahui bermasalah dan ditemukan di lapangan bahwa penggunaan obat klorokuin tidak meningkatkan risiko kematian bagi pasien Covid-19 yang meminumnya.

Penelitian yang menjadi dasar WHO dalam memutuskan pemberhentian uji coba pada akhir bulan lalu diketahui tidak memiliki validitas yang kuat dalam penelitiannya. Hal ini disebabkan oleh Sugisphere, perusahaan kecil di Amerika Serikat sebagai penyedia basis data di penelitian tersebut memiliki validitas data yang bermasalah dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini sontak mengejutkan berbagai pihak, tak terkecuali WHO pun tak lepas dari kelalaian riset yang dipimpin oleh peneliti dari Harvard Medical School ini.

Dari kasus di atas, terdapat dua poin penting yang perlu kita cermati. Pertama, WHO terlalu gegabah dalam mengambil sebuah keputusan. Sebagai Lembaga kesehatan terbesar di dunia, WHO sejatinya harus memiliki beberapa pilihan yang dapat dijadikan landasan dalam segala kebijakannya, seperti proyek riset-riset kredibel baik dari internal organisasi maupun berafiliasi dengan lembaga terpercaya lainnya. Dengan berbagai pilihan tersebut, WHO tentu tidak asal memutuskan suatu kebijakan di tengah ketidakpastian wabah pandemi ini, tetapi masih bisa memprediksi hal-hal yang diyakini bermanfaat atau tidaknya melalui pertimbangan berbagai riset-riset tadi.

Selain itu, faktor keakuratan data juga menjadi perhatian penuh, bukan hanya WHO, tapi juga bagi setiap orang dalam merespons temuan sebuah penelitian. Hal ini perlu dilakukan mengingat Sugisphere, penyedia basis data di penelitian yang menjadi pedoman WHO sebelumnya merupakan sebuah perusahaan pendidikan kedokteran yang menerbitkan buku pelajaran dan memiliki basis data yang internasional yang kuat, namun bukan termasuk lembaga basis data yang kredibel dan cenderung kurang dikenal.

The Guardian (3/6) dalam penyelidikannya menemukan bahwa beberapa pekerja hanya memiliki sedikit bahkan tidak ada yang memiliki latar belakang ilmiah. Perusahaan ini mengaku memiliki total 11 pekerja. Uniknya, salah satu pekerjanya yang terdaftar sebagai editor keilmuan adalah seorang penulis fiksi ilmiah dan seniman fantasi dan pekerja lain yang terdaftar sebagai eksekutif pemasaran adalah seorang model dewasa dan pembawa acara. Tentu fakta-fakta ini menjadi bukti dari terlalu gegabahnya WHO dalam mengambil keputusan.

Poin kedua, kasus di atas mencederai sebuah kredibilitas riset, melanggar etika ilmiah. Sains yang dari awal diyakini mampu memberikan kontribusi pada kasus ini ternyata tidak mampu berbuat banyak, bahkan sains mencederai dirinya sendiri dan belum bisa menjawab persoalan, khususnya terkait wabah pandemi ini. Jika sedari awal penelitian tersebut didesain secara tidak valid atau didasari atas kepentingan politik, maka hal ini bisa dibilang sebagai kebohongan publik. Hal ini juga berdampak pada integritas dua jurnal terkemuka The Lancet dan New England Journal of Medicine yang sempat menerbitkan penelitian kontroversi tersebut.

Perlu diketahui bahwa The Lancet merupakan jurnal terindeks scopus kuartil 1 (Q1) dengan Impact Factor (IF) sebesar 59. Sedangkan New England Journal of Medicine adalah jurnal yang juga terindeks scopus kualtil 1 (Q1) dengan IF sebesar 70. Artinya, kedua jurnal tersebut merupakan jurnal besar dan terkemuka di dunia dengan integritas yang cukup tinggi. Dengan tingginya kredibilitas jurnal yang dimilikinya, seharusnya jurnal-jurnal seperti mereka dapat melakukan penilaian yang cukup ketat di setiap artikel-artikel yang masuk.

Meskipun sempat mendapat ungkapan kekecewaan dari berbagai pihak, kedua jurnal tersebut menarik kembali penelitian bermasalah tersebut dan mengakui keprihatinan pada kasus yang sudah terjadi. Beredarnya kasus ini tentu menjadi pelajaran bagi semua pihak, khususnya pihak yang bergelut di bidang penelitian selama pandemi ini.

Diperlukan pertimbangan yang matang bagi organisasi kesehatan dunia seperti WHO dalam membuat kebijakan serta perlu kehati-hatian dalam melakukan riset ilmiah agar dapat menjaga konsistensi etika ilmiah yang selama ini dijunjung tinggi dalam memberikan sumbangsih besar bagi kehidupan manusia, terutama terkait keselamatan di tengah ketidakpastian penyebaran pandemi ini.

(mmu/mmu)