Jeda

"New Normal" dan Cara Kita Berbahagia

Ahmad Tri Muslim HD - detikNews
Minggu, 14 Jun 2020 14:00 WIB
Asian waitress wear protective face mask scan customer temperature by thermometer before entering the restaurant to protect infection from coronavirus covid-19, social distancing concept
Foto: Getty Images/iStockphoto/Nattakorn Maneerat
Jakarta -

Saya mendapatkan pesan singkat dari dosen sekaligus orangtua ketika saya kuliah di Makassar. Isinya berupa ucapan selamat dengan kesyukuran dan juga permohonan maaf karena tidak dapat hadir pada akad nikah saya. Sehari sebelumnya, keluarga yang rumahnya tidak jauh dari rumah mengadakan resepsi pernikahan. Ibu saya hadir, tapi saya tidak. Pesta pernikahan kampung yang selalu ramai dalam keadaan normal, kini hanya dihadiri oleh beberapa orang.

Saya mendengar dari ibu bahwa om saya (dalam hal ini ayah pengantin pria) bahkan tidak menggunakan baju adat. Ini adalah hal yang asing bagi masyarakat Bugis. Tidak peduli dari golongan kelas mana kamu, mengenakan identitas kesukuan merupakan kebanggaan tersendiri bagi orangtua kala anak melangsungkan pernikahan. Itu jelas adalah ekspresi kekecewaan.

***

Cerita-cerita yang serupa sering terjadi selama masa pandemi. Bahkan dengan aturan new normal, kita belum bisa menghilangkan ketakutan-ketakutan yang diakibatkan bencana ini. Ketakutan-ketakutan berkenaan masalah finansial, pekerjaan, masa depan, juga kekecewaan-kecewaan karena berbagai kebiasaan yang menyenangkan kita tidak lagi dapat dilakukan.

Melalui laman resmi Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), kita mengetahui bagaimana COVID-19 hadir dalam ruang mental masyarakat. Dari 1.522 responden, 64,3 persen mengalami gangguan psikologis berupa cemas atau depresi setelah melakukan pemeriksaan mandiri via daring. Masalah kekhawatiran terhadap COVID belum selesai, kita diperhadapkan pada persoalan lain, yakni kelaziman baru.

Tuntutan ekonomi memaksa kita untuk hidup dengan cara yang baru, yang tentu saja bagi beberapa orang bisa saja mengalami gangguan penyesuaian.

***

Ajaran Stoa akan menuntun kita untuk menerima penyakit ini sebagai fakta objektif. Kebermaknaan baik-buruknya sesuatu adalah kehendak personal. Kita punya kuasa untuk mengatakan bahwa penderitaan ini benar-benar menyengsarakan, atau malah mencoba mengambil bagian baik darinya. Tapi demikian, tidak semua bisa menerima, apalagi membuat semacam aktivitas model baru, yang dalam kacamata sebelum COVID sangat bertele-bertele.

Di sinilah peran kerabat kita perhitungkan. Kecemasan dan kekhawatiran yang kita alami setidak-tidaknya dapat kita minimalisasi dengan bantuan keluarga, atau sekadar ngobrol bareng dengan teman dekat kita. Terlebih lagi, dengan cerita-cerita itu kita saling mengabarkan kegembiraan. Terapi dengan dukungan dan saling mengabarkan kegembiraan dalam bahasa agama disebutkan sebagai anfaahum nas, sebaik-baik manusia.

Apalagi dalam keadaan kita yang sekarang ini. Ketika mengabarkan kepada dosen yang telah saya anggap orangtua itu bahwa saya akan melaksanakan akad nikah, senangnya bukan main. Orang yang tidak pernah menulis pesan panjang, tiba-tiba mengirim pesan panjang. Istrinya bahkan mengirim ucapan selamat kepada calon istri saya melalui Facebook. Keduanya, baik saya maupun dosen saya sama-sama berbahagia.

Lewat kabar-kabar gembira lainnya kita mungkin bisa membantu seseorang lepas dari masalah-masalah psikologis, sekali lalu juga membantu kita. Karena bukan hanya virus yang menular, kebahagiaan juga.

(mmu/mmu)