Kolom

Imobilitas: Bergerak Tapi Terbatas

Hamzah Fansuri - detikNews
Minggu, 14 Jun 2020 11:52 WIB
Saat ini, DKI Jakarta tengah melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masa transisi. Warga kini mulai kembali berkantor.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Jauh sebelum wabah korona mengguncang planet bumi, tepatnya dua dekade silam, sejumlah sarjana dari Inggris dan Amerika dengan latar belakang ilmu beragam menyusun sebuah studi yang dipicu dari makin pesatnya lalu lintas manusia serta barang antarpulau dan benua. Studi yang kebetulan bertepatan dengan momen memasuki awal milenium itu sekaligus ingin menunjukkan hal-hal berikut ini:

Pertumbuhan mobilitas di seluruh dunia lewat Cina dan India sebagai negara dengan populasi terbanyak. Cepatnya laju pertumbuhan transportasi udara yang murah berdasarkan model bisnis penganggaran baru. Kebangkitan yang signifikan dari transportasi kereta api khususnya yang berkecepatan tinggi di seluruh Eropa dan Jepang. Jumlah jarak mil yang meningkat baik udara maupun laut dengan lebih dari 90 ribu kapal di dunia yang membawa barang manufaktur serta bahan makanan. Bertambah jauhnya jarak yang bisa ditempuh guna mempertahankan pola kehidupan sehari-hari yang ada di kejauhan.

Dalam ilmu sosial, khususnya sosiologi, apa yang sedang dicermati ulang itu adalah mobilitas. Jika dalam terminologi klasik kata mobilitas ini kerap disandingkan dengan kata sosial dalam dua arah yakni vertikal dan horizontal, maka dalam upaya merekam laju pergerakan itu bisa memberi pengaruh berarti bagi kehidupan sosial, agama, ekonomi maupun politik dibutuhkan pemahaman kembali terhadap mobilitas dengan dimensi yang menjangkau lebih luas.

Secara epistemologis, mobilitas tidaklah sama dengan berpindah. Mobilitas yang dalam bahasa Inggris berarti mobility bermakna lain dengan berpindah yang dalam bahasa Inggris berarti move. Tim Cresswell, seorang ahli Geografi Manusia dengan singkat mengatakan bahwa mobilitas itu lebih dari sekadar perpindahan dari poin A ke poin B. Sebagaimana juga dalam sebuah catatannya, mendiang John Urry, seorang sarjana Inggris yang gencar menafsir kembali mobilitas, atau apa yang diistilahkannya dengan mobility turn itu mengenalkan lima bentuk mobilitas guna menunjukkan keterkaitan antardimensi sosial yang ada.

Lima bentuk itu adalah perjalanan fisik orang, pergerakan fisik barang, perjalanan imajinatif melalui gambar tempat dan orang yang muncul dan bergerak, perjalanan virtual secara real time melampaui jarak sosial dan geografis, serta perjalanan komunikatif melalui pesan dari orang ke orang dengan berbagai medium.

Dari bentuk-bentuk mobilitas yang menyinggung banyak aspek itu sebenarnya kita juga bisa melihat imobilitas, yakni sebuah keadaan tidak bergerak dengan ukuran-ukuran tertentu. Imobilitas itulah yang sebenarnya tengah dihadapi dunia saat wabah corona ini melanda. Bukan hanya pembatasan jarak fisik dan sosial antarorang per orangan, tapi kita juga menyaksikan pengaruhnya pada pergerakan barang dari produsen, konsumen, maupun pengusaha ritel hingga lalu lintas udara yang berhenti secara total --setidaknya hingga tulisan ini disusun.

Tampaknya prediksi peningkatan laju barang dan orang yang diramal dua dekade silam itu akan meroket luput dalam melihat bencana yang dipicu wabah mematikan ini. Marilah kita koreksi sejauh mana imobilitas itu terjadi, dan apakah betul mobilitas bisa tetap bisa menjadi alat baca dalam melihat pengaruhnya pada dimensi kehidupan sosial lainnya.

Sejak pertengahan April hingga akhir Mei lalu, Google telah melakukan pelacakan yang kemudian diluncurkan dalam Covid-19 Community Mobility Report. Saya coba menguraikan data statistik itu untuk wilayah yang menjadi episentrum penyebaran wabah corona yakni DKI Jakarta.

Secara umum, Google menggunakan enam kategori dalam mencermati tren mobilitas yaitu ritel dan rekreasi (restoran, kafe, pusat perbelanjaan, taman hiburan, museum, perpustakaan, dan bioskop), toko bahan makanan dan farmasi (pasar grosir, gudang makanan, pasar petani, toko makanan khusus, toko obat, dan apotek), taman (taman nasional, pantai umum, marina, taman anjing, plaza, dan taman umum), stasiun transit (hub transportasi umum seperti kereta bawah tanah, bus, dan stasiun kereta), tempat kerja, dan hunian di mana hampir keseluruhan dari kategori ini mengalami penurunan frekuensi dari baseline yang ada.

Artinya, selain hunian yang justru mengalami peningkatan mendekati seperlima persen dari data baseline. Sedangkan yang lainnya mengalami penurunan cukup signifikan. Setiap dataset dari laporan itu disajikan berdasarkan aplikasi berbasis lokasi yang dimiliki setiap orang di gawainya masing-masing serta menyoroti persentase perubahan dalam kunjungan ke berbagai tempat di dalam area geografis.

Juga perlu diingat bahwa mobilitas tidak dapat digambarkan tanpa memperhatikan tambatan spasial, infrastruktur, dan kelembagaan yang diperlukan untuk mengkonfigurasi dan memungkinkan mobilitas itu terjadi serta menciptakan apa yang oleh David Harvey (1989) disebut spatial fix.

Di Jakarta, persentase tertinggi ada pada penurunan tren kunjungan ke taman atau ruang-ruang publik yang mencapai -91 persen dibandingkan dengan data baseline, diikuti dengan tidak bepergian ke tempat kerja mencapai -78 persen, dan imobilitas ke stasiun transit dengan -73 persen. Sementara untuk tren pergerakan ke ritel dan rekreasi menurun di angka -59 persen serta -28 persen untuk trend tidak bepergian ke toko bahan makanan dan farmasi.

Secara eksplisit data ini menunjukkan bahwa wabah corona mampu mendorong pengambil kebijakan untuk memaksa setiap orang membatasi geraknya ke luar rumah. Meskipun tetap terjadi peningkatan tren mobilitas untuk hunian yakni +26 persen dari batas baseline-nya.

Data Google itu sebenarnya hendak menegaskan imobilitas fisik orang dan barang, namun tidak dapat ditangkap sebagai sebuah imobilitas dalam pemaknaan mobilitas sebagaimana yang disebutkan di atas. Artinya, mobilitas di tengah wabah corona ini terbukti tetap terjadi dan bahkan trennya mengalami peningkatan cukup berarti untuk tiga bentuk mobilitas lainnya yakni berpindah-pindahnya gambar maupun video melalui berbagai media sosial, kemudian pesatnya pemanfaatan data internet untuk telekonferensi yang mampu melampaui sekat-sekat antarbenua secara real time, dan masifnya pergerakan pesan dari orang ke orang khususnya di grup-grup Whatsapp.

Dengan kata lain, di tengah ruang gerak fisik yang terbatas, kita terbukti masih mampu memetakan mobilitas setiap orang bahkan untuk mencermati sejauh mana mobilitas itu memberi pengaruh pada hal-hal lain yang lebih luas.

Hamzah Fansuri sosiolog, deklarator Jaringan Intelektual Berkemajuan

(mmu/mmu)