Musik Indonesia Era Milenial

Ishadi SK - detikNews
Rabu, 10 Jun 2020 18:30 WIB
ishadi sk
Ishadi SK
Jakarta -

Tanggal 9 Februari 2019, The Hollies , grup band rock kenamaan Inggris membuat konser besar guna mengenang James Darren, produser TV/film dan penyanyi kenamaan Hollywood yang meninggal 23 Desember 2017. The Hollies merekrut 19 penyanyi Inggris kenamaan termasuk London Community Gospel Choir. Lagu yang dibawakan merupakan hits The Hollies tahun 1960-an He Ain't Heavy, He's My Brother. Lagu diputar di Youtube untuk mengumpulkan dana bagi para homeless di Inggris. (https://youtu.be/nzbZ8E0TYeQ)

Sekarang sudah ditonton 3 juta orang. The Hollies adalah grup band pop-rock tahun 60-an, yang lahir setelah dua grup pop-rock The Beatles, terdiri dari John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr. Selanjutnya Rolling Stone terdiri dari Mick Jagger, Keith Richards, Bill Wyman, Charlie Watts dan Ian Stewart. Setelah itu selusinan grup band menyusul, di antaranya Pink Floyd, Queen, Aerosmith, Led Zeppelin, Deep Purple, Metallica, Guns N Roses, The Who, Bon Jovi dan The Hollies yang masih bertahan hingga sekarang.

The Beatles sebagai pionir melebihi grup band lainnya. Tahun 2008, majalah musik Billboard menempatkan The Beatles sebagai musikus dengan penjualan piringan hitam terbanyak dalam sejarah. Majalah Time menempatkan Beatles sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di abad ke-20.

Revolusi musik pop-rock tahun 1960-an "menular" ke Indonesia. Dipimpin oleh Tonny Koeswoyo, Yon dan Yok Koeswoyo beserta Mury di drum, menjadi grup musik paling produktif, merilis 89 album dan 953 lagu selama kariernya.

Tahun 1974 mereka mampu merilis 22 album setahun atau rata-rata 2 album per bulan, sebagian besar merupakan hits di tangga nada musik Indonesia.

Setelah Koes Plus, kemudian tahun 1969 Panbers-Panjaitan Bersaudara lahir dan langsung melejit masuk dalam grup musik papan atas. Panbers melahirkan 700 lagu sampai dengan tahun 2007-an. Panbers tercatat telah pentas di 350 kota di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Termasuk di wilayah perbatasan di Sangir Talaud di utara Sulawesi Utara.

Dari Surabaya, tahun 1964 lahir grup musik perempuan Dara Puspita. Dimotori oleh Titiek AR, Lies AR, Susy Nander dan Ani Kusuma. Setahun kemudian mereka hijrah ke Jakarta dan kemudian sering pentas bareng dengan Koes Plus yang membina mereka. Di Jakarta Titik Hamzah bergabung menggantikan Lies AR karena harus melanjutkan pendidikan di Surabaya.

Di Jakarta Dara Puspita bisa berkembang cepat. Tahun 1967 mereka tampil di Kuala Lumpur dan dielu-elukan ribuan penonton karena amat jarang grup band perempuan di masa itu. Meskipun sangat popular, Dara Puspita tidak mahir menciptakan lagu hingga hanya menyanyikan lagu-lagu Titiek Puspa dan Yon Koeswoyo. Mereka juga "berani" menampilkan dalam albumnya beberapa lagu Tom Jones, Green Green Grass of Home dan Lonely Street Andy Williams serta lagu Beegees To Love Somebody yang dinyanyikan dalam aransemen yang asli.

Sukses dengan album-album campuran berbagai label itu, Juli 1968 Dara Puspita melakukan road show ke negara-negara Eropa. Mereka hanya berempat ke Iran, Turki, dan Jerman Barat. Untuk menekan biaya, mereka berangkat sendiri tanpa promoter dan teknisi. Mereka bongkar pasang peralatannya setiap kali mereka pentas. Bersyukur tatkala mereka di Jerman sudah didukung tim profesional sehingga memudahkan pentasnya.

Selama hampir tiga tahun mereka berkelana di Eropa di antaranya London, Paris, Belgia, Spanyol, dan Belanda, perjalanan mereka berakhir. Tahun 1971 mereka kembali ke Indonesia disambut meriah bagaikan supergrup. Dara Puspita tampil di Istora Senayan bersama Panbers, The Rollies dan grup band terkemuka di Indonesia dan melakukan tur ke berbagai kota.

Setelah grup band ini, puluhan kelompok musik lahir. Yang paling menonjol dua di antaranya adalah Iwan Fals dan Slank. Iwan Fals memulai dari musik jalanan sampai kemudian berkembang menjadi penyanyi terkemuka di tahun 80-an sampai sekarang. Saingannya adalah Slank, yang berbeda dengan Iwan Fals, kekuatannya pada irama rock garis keras.

Hingga sekarang kedua musisi tersebut menjadi ikon untuk acara-acara outdoor. Baik yang merupakan pentas terbuka sendiri ataupun yang disponsori oleh stasiun televisi. Iwan Fals dan Slank diundang tampil terpisah di berbagai kota di Indonesia dan selalu menjadi program dengan share dan rating tinggi di setiap televisi. Namun, jangan pernah mencoba mengusung dua musisi papan atas ini dalam satu panggung.

"Korbannya" Trans TV. Berkaitan dengan ulang tahun ketiga Trans TV pada 15 Desember 2005, Trans TV mengundang dua musisi besar tadi pentas bareng di Istora Senayan Jakarta. Awalnya berlangsung secara damai, namun perlahan makin banyak penggemar Iwan Fals, OI (Orang Indonesia), begitu juga Slanker, para pemuja Slank. Terjadi bentrokan kecil di luar Istora waktu itu.

Mereka menuntut untuk masuk Istora meski sudah 15.000 penonton menyesaki Istora, tidak ada satu pun tempat yang lowong. Menjelang pukul 20:00 situasi semakin tidak terkendali karena mereka menuntut untuk bisa menyaksikan pertunjukan lewat layar lebar di luar Istora. Produser Teknik segera menginstruksikan pemasangan layar lebar di luar Istora.

"Celakanya", begitu layar lebar siap, yang muncul pertama adalah lagu Iwan Fals Bongkar. Lirik lagunya:

Kalau cinta sudah dibuang

Jangan harap keadilan akan datang

Kesedihan hanya tontonan

Bagi mereka yang diperkuda jabatan

Wo o ya o ya o ya bongkar

Wo o ya o ya o ya bongkar

Bagaikan tersetrum para fans OI dan Slankers yang saling berhadapan dan dorong mendorong, tak bisa dikendalikan. Mereka tidak hanya saling melempar botol dan batu namun juga merusak ratusan mobil yang ada di sekitar Istora. Situasi nyaris tidak terkendali, para OI dan Slankers akhirnya didesak mundur oleh Polisi dan Babinsa. Esok paginya, tidak kurang dari 100 mobil beramai-ramai memasuki Gedung Trans TV menuntut ganti rugi. Trans TV yang baru berusia tiga tahun, memperoleh kado luar biasa berupa perbaikan aneka ragam mobil yang menjadi "korban pertarungan" Slank dan Iwan Fals di panggung Istora.

Untuk menghindari umpatan dan demo, semua mobil yang rusak diperbaiki meski tidak jelas apakah rusak karena kerusuhan ataupun memang sudah cedera sebelum acara dimulai. Sebuah kenangan indah yang tidak terlupakan untuk Trans TV. Sejak itu, Slank dan Iwan Fals tidak pernah diminta untuk tampil pada satu event yang sama, khususnya di televisi.

Tahun 2012, didukung oleh Musika Group, Peterpan yang berganti nama menjadi Noah membuat surprise, tampil di 2 benua dan 5 negara hanya dalam 1 hari. Menggunakan pesawat carter Noah bersama teknisi memulai pentasnya di Melbourne, Australia pukul 12:20 waktu setempat pada 15 September 2012. Pukul 10:00 di Hong Kong, pukul 16:00 di Kuala Lumpur, 20:00 di Singapura dan tepat pukul 24:00 bersamaan dengan ulang taun Noah tampil di Stasiun Lebak Bulus Jakarta. Perjalanan dan pentas di 2 benua dan 5 negara tersebut diselesaikan seluruhnya dalam waktu 20 jam tanpa henti.

Setelah itu terjadi pertarungan 10 grup besar Indonesia di layar TV maupun di luar ruangan di seluruh Indonesia. Menarik untuk dikaji bahwa ada grup-grup besar yang sudah menjadi langganan utama stasiun TV dan radio. Namun banyak grup musik yang tidak tersentuh oleh radio dan TV meskipun memiliki kualitas tinggi. Bersamaan dengan era milenial tahun 2020, berkembang grup musik yang tidak lagi tampil di TV namun di media sosial khususnya. Saya kelompokkan dalam tiga grup musik yang justru menonjol selama pandemi corona ini, tatkala tidak diizinkan bermusik di luar rumah.

Saya mulai dengan Erwin Gutawa Orchestra. Erwin Gutawa Orchestra sudah berusia 20 tahun dan menjalani pentas dengan 50 musisi dan penyanyi di berbagai kota di Indonesia dan stasiun TV. Tapi khusus untuk pentas di era pandemi, nyaris tidak mungkin menggelar konser orchestra besar, kecuali Erwin Gutawa. Erwin termasuk jenius di lingkungan musik orkestra. Dia hanya mempersiapkan dua minggu untuk pentas di media online. Ada 50 musisi dan berbagai instrumen musik. Para musisi diberi waktu 5-7 hari untuk mengirim masing-masing 7 lagu yang sudah dipilih, kemudian mereka diminta menyerahkan hasil rekamannya berdasarkan partitur yang sudah disiapkan, umumnya menggunakan perangkat iPhone untuk dikirim dalam bentuk data lagu ke studio Erwin Gutawa Orchestra di Jakarta.

Dari sana mozaik 50 musisi dari berbagai kota, Jakarta, Bandung dan Semarang, diedit agar simetris dengan musik orkestra, sama standardnya dengan Erwin Gutawa Orchestra. Mereka terdiri dari musisi gitar, biola, piano, drum, terompet dan bass, di antaranya 20 pemain orkestra yang menetap di Yogyakarta dan Bandung, sisanya di rumah atau kost-kosan di Jakarta. Targetnya masing-masing mengirim data musik pre-record. Mereka diminta untuk berakting dengan latar belakang kain hitam. Pertunjukan perdana orkestra Erwin Gutawa di era pandemi ini di-support oleh tiket.com, yang mengurus penjualan karcis.

Acara selama 45 menit itu disaksikan oleh 5000 penonton dengan harga tiket Rp 50.000 - Rp 2.000.000. Sengaja dikonsepkan seperti ini karena Erwin percaya bahwa ada penonton setia yang sekaligus mau mengumpulkan dana untuk korban corona, khususnya untuk para tenaga kesehatan di berbagai rumah sakit. Pertunjukan perdana ini diaudit oleh Kitabisa, dan tidak terduga terkumpul 400 juta rupiah. (https://youtu.be/hbF5xTP3ROU)

Pertunjukan kedua 18 Mei 2020. EG diminta menyampaikan satu lagu Erwin Gutawa Orchestra sebagai pembuka sebuah orkestra musik 2,5 jam "Konser Solidaritas" yang diprakarsai oleh Menteri Parekraf Wishnutama. Keseluruhannya ada 300-an penyanyi yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Pentas ketiga, Erwin Gutawa Orchestra mengundang Afgan Syahreza menyanyikan 7 lagu dengan salah satu bintang tamunya Woro, siswa SMA yang masih berusia 15 tahun, menyanyikan lagu Langgam Jawa.

Konser keempat berkaitan dengan Idul Fiitri yang digagas oleh Narasi TV, Erwin Gutawa Orchestra membawakan 3 lagu bersama Raisa. Dengan konsep yang sama seperti sebelumnya, semuanya pre-recorded dan perlu 2-3 hari editing.

Grup musik berikutnya adalah grup Weird Genius Lathi, terdiri dari tiga sosok Youtuber Reza Oktovian, Eka Gustiwana dan seorang DJ, Gerald Liu. Mereka main musik sejak tahun 2016. Musik yang menurut mereka berciri upbeat, pumping, crazy drop. Launching pertama digital single tahun 2020, merekrut penyanyi sekaligus rapper Surabaya, Sara Fijrah. 28 Februari 2020 mereka merilis single pertama Lathi yang artinya "rasa ning ati" via streaming di dalam music digital platform. Selain Bahasa Inggris Lathi dikemas liriknya dalam Bahasa Jawa dan gamelan. (https://www.youtube.com/watch?v=8uy7G2JXVSA)

Kowe ra iso mlayu saka kesalahan, ajining diri ana ing lathi

"Anda tidak bisa lari dari kesalahan, harga diri ada di tutur kata Anda"

Ajining saka lathi ajining rogo suko busono

"Harga diri dari lidah atau omongannya, harga diri raga dari pakaiannya"

Lagu Lathi segera popular di kalangan orang-orang muda terutama lewat promonya di Tiktok. Ada 11 ragam promo pendek di Tiktok yang diputar sepanjang waktu. Promonya mengatakan, "I was born a fool, broken all the rules, seeing all null, denying all of the truth" lirik lagunya dalam Bahasa Inggris dicampur Bahasa Jawa, namun serasi.

"Dilahirkan" sebagai orang bodoh, membongkar semua aturan, karena segalanya nol besar, dan sesungguhnya menyangkal semua kebenaran. Filosofi bolak balik ini membongkar yang benar, membenarkan yang salah, sebetulnya berujung pada teguran untuk diri kita sendiri supaya tetap waspada, eling lan waspodo.

Grup musik selanjutnya lahir di era milenial, Andrea. Saya mengenal Ayahnya, dr Dario Turk di Jakarta. Andrea dikirim oleh ayahnya untuk bersekolah di California Institute of the Arts. Dalam sebuah kesempatan kompetisi menulis lagu, "Song Academy" dari lima yang diajukan, empat masuk nominasi, dengan lagu berjudul Who We Are. Setelah itu ia mendapat tawaran dari enam universitas di Amerika Serikat dan 4 di Inggris. Dia memilih untuk belajar di Amerika Serikat.

Ketika masih dalam program persiapan di bulan Juni, Andrea sudah menciptakan lagu dalam bahas Inggris yang dirilis di media sosial. Bulan Agustus 2020, Andrea berencana launching album berisi 10-11 lagu campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Lagu pertamanya berjudul Salem, bersama Dewa Budjana. Salah satu pengajar di California Institute of The Arts, Professor Jacqueline Bobak mengatakan, "Andrea is quite profilique, her music is super well written. Her music is completely unusual and unique in the very best ways."

Andrea Turk sebelumnya sukses menyabet juara pertama dalam kompetisi menulis lagu, Young Songwriter Competition 2019 kategori Internasional di London. Ia membawakan lagu ciptaannya bertajuk Karma. (https://youtu.be/u74w72fyo1c)

Dalam diri Andrea terbersit masa depan musisi Indonesia dalam tingkat dunia. Dapat dibayangkan kalau kelak sudah berhasil menyelesaikan kuliahnya selama 4 tahun di California Institute Of Arts, Andrea bisa menjadi figur masa depan penyanyi Indonesia berstandar dunia. Ia akan menjadi inspirasi buat ribuan siswa Indonesia di luar negeri, yang beberapa di antaranya secara khusus mengikuti pelajaran musik.

Andrea adalah figur masa depan musisi Indonesia yang memiliki potensi besar karena lahir dari konsep launching di media sosial yang di Indonesia sendiri tercatat terdiri dari 100 juta orang yang sudah terpaut dengan medsos sehari-harinya, dan sasarannya tanpa batas wilayah negara.

Ishadi SK Komisaris Transmedia

(mmu/mmu)