Kolom

Aspek Spiritual "New Normal"

Muhammad Japar - detikNews
Jumat, 05 Jun 2020 17:18 WIB
Seperangkat Alat Sholat saat New Normal
Ilustrasi: Fuad Hasim/detikcom
Jakarta -
Setelah berbulan-bulan berada dalam situasi pandemi Covid-19 yang banyak menimbulkan korban jiwa, ketakutan yang masif, lalu penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), bangsa Indonesia kini mengalami masa transisi yang krusial dan dengan populer disebut new normal.

Banyak pihak yang skeptis dan khawatir akan meningkatnya jumlah korban positif karena secara nasional belum ada penurunan kurva yang signifikan. Hingga kini, kurva kasus positif Covid-19 masih belum melandai apalagi mencapai nol. Di lain pihak, pemerintah berkeyakinan bahwa new normal dengan pemberlakuan ketat protokol kesehatan akan dapat menggerakkan roda ekonomi yang 'sekarat'. Kehidupan ekonomi, sosial dan agama akan bergulir normal dengan suatu kebiasaan yang baru.

Terlepas dari pro dan kontra pemberlakuan new normal, terdapat hal yang perlu dikaji mengenai hikmah yang diperoleh masyarakat dengan berlakunya protokol kesehatan yang mampu membangun kebiasaan baru. New normal ternyata dapat dilihat dan dikaji dari aspek spiritualitas. New normal berarti masyarakat kembali kepada kehidupan normal sebelum pandemi tetapi dengan kebiasaan baru yang lebih positif.

Kebiasaan Hidup Bersih Sebagian dari Iman

Agama mengajarkan kebersihan adalah sebagian dari iman. Tuhan menyukai sesuatu yang bersih dan indah. Salah satu perilaku hidup bersih yang sangat dianjurkan pada saat new normal adalah rajin mencuci tangan. Tangan manusia memiliki fungsi yang sangat luar biasa. Untuk bekerja, beribadah dan untuk belajar.

Dengan tangan, manusia bisa berbuat dan mengerjakan apa saja, terlepas itu hal baik atau buruk.

Pada saat berbuat baik, tangan digunakan untuk beribadah, membantu orang lain, dan menghasilkan karya yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat manusia. Di sisi lain, tangan juga bisa digunakan untuk berbuat buruk seperti membunuh, mencuri juga untuk menandatangani atau melegalkan perbuatan yang tidak sah seperti korupsi.

Dengan mencuci tangan maka secara hakikat, manusia dilatih untuk selalu membersihkannya secara rutin, terus menerus, karena suatu saat tangan manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan tentang apa yang telah dilakukan. Sementara itu, mulut kita akan dikunci, seperti yang diungkapkan Chrisye dalam lagunya Akan Datang Hari.

Memakai Masker untuk Menjaga Lisan

Kebiasaan ini pada hakikatnya adalah menjaga pengaruh orang lain terhadap kita, begitu pun sebaliknya. Dengan menggunakan masker kita akan mengurangi kadar berbicara, begitu pun orang lain. Berbicara seperlunya. Agama mengatakan, "Bicaralah yang baik atau diam." Pepatah juga mengatakan, "Mulutmu adalah harimaumu," atau "Lidah lebih tajam dari sebilah pedang," dan ada juga, "Lidah tak bertulang."

Secara hakikat, menggunakan masker melatih manusia untuk menjaga dampak buruk dari perkataan yang keluar dari mulutnya. Juga, dampak buruk dari pembicaraan orang lain. Dengan menjaga mulut, kita bisa lebih menjadi pendengar yang baik.

Saat ini, di dunia sudah begitu banyak pembising; yang kita butuhkan adalah pendengar yang bijak. Pemimpin harus lebih banyak mendengar daripada berbicara tapi tak ditepati. Di era sekarang maka menjaga mulut menjadi relevan untuk mengurangi hoax dan fitnah atau ghibah.

Lisan manusia dapat mengakibatkan risiko yang sangat besar bila tidak dijaga. Sebaliknya, lisan yang baik dan berakhlak akan mampu membawa kebaikan bagi manusia.

Physical Distancing untuk Menjaga Pergaulan

Kebiasaan ini pada hakikatnya menjaga pergaulan, interaksi, dan relasi sosial manusia. Dalam agama dikatakan bila kita dekat dengan tukang besi, maka kita akan bisa beraroma besi. Bila kita dekat dengan tukang parfum, maka kita akan beraroma wangi. Atau, bertemanlah dengan orang-orang baik, maka anda juga akan menjadi orang baik. Atau, jadilah orang yang ikut mewarnai, bukan diwarnai.

Penjagaan jarak antarmanusia itu perlu dilakukan agar manusia berkumpul dengan orang lain seperlunya. Bertemu dengan dengan orang lain yang dijamin tidak menularkan penyakit atau virus. Interaksi sosial, kedekatan yang hakiki adalah kedekatan dalam keluarga. Anak dan orangtua berinteraksi secara harmonis dalam keluarga, beribadah bersama, belajar bersama akan membentuk keluarga yang kuat dalam hal karakter maupun aspek intelektual.

Keluarga yang hebat akan berkontribusi pada terbentuknya masyarakat yang hebat pula. Itulah hikmah dari protokol kesehatan #dirumahsaja.

Dengan mencermati hakikat dari new normal, maka harapan akan terbentuknya tatanan kehidupan yang lebih sehat akan terwujud. Sehat secara fisik, sosial, maupun spiritual. Dengan demikian membayangkan akan terbentuknya generasi emas tahun 2045 bukanlah impian semata.

(mmu/mmu)