Kolom

"New Normal" dan Pergeseran Relasi Interpersonal

Arnold Adoe - detikNews
Selasa, 02 Jun 2020 15:00 WIB
Cara jaga jarak unik di restoran
Jaga jarak unik di restoran (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Pagi-pagi dari teras rumah terdengar keributan kecil. "Di situ saja, jangan bergerak dulu!" teriak Ibu kepada Ama, seorang penjual ikan, langganan keluarga.

"Cuci tangan dulu di situ!" kata Ibu sambil menunjuk boks plastik tempat air di dekat tangga rumah.

Seperti telah mendengar instruksi dari aparat, Ama lalu patuh pada perintah ibu. Oh iya, Ama bukanlah sebuah nama tapi panggilan akrab terhadap orang dewasa laki-laki di Kupang, NTT.

Ama terlihat memakai masker, hanya ibu ingin memastikan bahwa protokol kesehatan telah dilakukan dengan ketat sebelum transaksi jual beli dilaksanakan. Hanya satu saja yang tidak dilakukan Ama yakni pengecekan suhu tubuh. Bapak dan ibu memang sudah berencana untuk membeli alat tersebut, tapi stok alat tersebut di toko kesehatan di kota kami habis.

Ibu memang pantas hati-hati karena Ama adalah penjual ikan konvensional, yaitu menjual hanya dengan berjalan kaki. Saat berjualan, Ama mengikatkan ember ikannya pada sebuah kayu panjang yang diletakkan di atas bahu seperti membopong lalu berkeliling dari rumah ke rumah.

Siapa yang tahu, Ama pernah berhadapan dengan penderita Covid-19, atau mungkin telah bersentuhan dengan orang lain atau barang seperti uang dan sebagainya yang dapat menjadi carrier corona.

Meski tindakan ini terlihat cukup serius, namun saya terkadang geli dengan prosedur yang harus dijalani oleh Ama. Salah satu alasannya adalah Ama itu sudah menjadi langganan keluarga kami sangat lama, rasanya sudah puluhan tahun, dan untuk pertama kalinya dia terlihat kikuk masuk ke pekarangan rumah kami. Meski nampak tidak takut, tapi rada-rada grogi layaknya orang yang baru dikenal.

Transaksi pembelian ikan lalu dilakukan secepat-cepatnya. Enam ekor ikan kembung berukuran sedang dijual dengan harga 50 ribu. Sudah cukup murah di musim berangin ini. Ama lalu pamit pulang, tidak berbasa-basi lagi seperti biasa.

***

Pandemi Covid-19 memang telah mengakibatkan bukan saja perilaku kesehatan yang berubah, tetapi relasi antarorang juga perlahan namun pasti telah bergeser dan berubah.

Seperti hasil survei yang dilakukan oleh Snapcart pada 17-28 Maret 2020, kepada 2000 laki-laki dan perempuan berumur 15-50 tahun di 8 kota besar di Indonesia untuk menilik seberapa besar dampak yang dibawa oleh virus corona terhadap gaya hidup orang Indonesia.

Dari hasil survei tersebut terlihat bahwa 48 persen responden mengaku bahwa kehidupan sosialnya terganggu akibat virus corona. Masyarakat Indonesia yang terbiasa dengan hidup gotong royong dan kentalnya interaksi sosial nampak kesulitan menghadapi situasi yang baru, atau kerap disebut new normal ini.

Itulah yang terjadi pada bapak dan ibu atau mungkin juga kita. Ada perubahan relasi sosial yang semakin terasa hari demi hari. Misalnya pada ibu yang adalah juga nenek dari belasan cucu yang sudah berusia hampir 80 tahun ini.

Bagi ibu berelasi sekarang nampaknya tidak lagi diselingi keramah-tamahan orang timur, cerewetnya mamak-mamak dan lain sebagainya, tetapi menjadi lebih ringkas.

Seperti kejadian dengan Ama ini yaitu pengutamaan protokol kesehatan sehingga membuat relasi dinomorduakan, murni antara pembeli dan penjual saja. Tak lebih tak kurang.

Padahal sejatinya ibu apalagi bapak rame orangnya, mereka suka berbasa-basi dengan orang yang telah akrab dikenalnya --khas orang Indonesia . Seperti dengan Ama yang biasanya menghabiskan waktu cukup lama di rumah untuk ngalor-ngidul mengobrol dengan bapak dan ibu tentang hal lain, meski ikan yang dibeli tidaklah banyak.

***

Akhir-akhir ini saya sedikit khawatir adanya dampak secara sosial emosional yang terjadi pada bapak dan ibu karena perubahan relasi yang ada, karena bukan dengan Ama saja terjadi demikian, tetapi dengan beberapa anggota keluarga, juga terjadi kelonggaran dalam berelasi.

Minggu kemarin ada keponakan yang berulang tahun. Sudah menjadi tradisi jika ada cucu yang berulang tahun maka akan diadakan syukuran kecil-kecilan di rumah. Biasanya bapak dan ibu akan memeluk sang cucu, memberi hadiah dan lain sebagainya, tetapi yang terjadi sekarang adalah suasana yang tampak amat kaku.

Mau saling berpelukan juga serba salah, bicara juga harus terus dijaga jaraknya, padahal bapak dan ibu tentu sangat ingin memeluk, mengobrol akrab sekaligus melepas kerinduan dengan anak atau cucu-cucu tersayang. Tapi apa daya, corona membuat beberapa hal ini tak dapat lagi berjalan seperti biasanya.

Saya khawatir imun tubuh bapak dan ibu bisa saja akan menurun dengan segala hal yang sudah tak biasa ini. New normal versi protokol kesehatan mungkin dapat menyelamatkan dari Covid-19, tetapi relasi yang berjarak rasanya lambat laun akan menyiksa mereka. Apalagi tak ada yang dapat memastikan sampai kapan situasi asing karena corona ini akan terus berlangsung.

Kekhawatiran ini dapat dikatakan wajar, karena telah umum menjadi sesuatu yang terjadi di tengah masyarakat.

Dilansir dari survei yang lain, dikatakan bahwa berdasarkan hasil wawancara dengan banyak ibu, meski tidak sedikit yang merasa senang dan lebih mindful saat berada di rumah, namun tak dapat dipungkiri bahwa #DiRumahAja memberikan efek perasaan yang campur aduk bagi para ibu, mulai dari bosan, lelah, maupun cemas.

Artinya orangtua yang berusia lanjut seperti bapak dan ibu adalah memang kelompok yang memang rentan terhadap Covid-19, tetapi jangan dilupakan bahwa penyebab utama kesehatan menurun bukan saja karena corona, tetapi juga disebabkan relasi antarsesama yang semakin hari semakin berjarak atau longgar di antara anggota keluarga di saat pandemi ini.

Saya melihat bahwa salah satu cara untuk menjaga agar hal ini tidak bertambah buruk adalah mencari cara untuk menjaga atau memperkuat kembali relasi antarkeluarga terutama di masa pandemi Covid-19 ini.

Saya beberapa kali menceritakan kepada saudara-saudara kandung yang tinggal jauh, untuk lebih sering menelepon bapak dan ibu di saat-saat seperti ini, jika biasanya hanya dua kali dalam seminggu, maka jika dapat, dalam masa ini lakukan sekali dalam sehari.

Untuk keluarga yang dekat maka diusahakan untuk sering berkunjung ke rumah meski hanya sekedar berbincang santai dengan bapak dan ibu. Hal ini dirasa amat berguna karena dapat menghilangkan kekhawatiran berlebihan mereka terhadap corona sekaligus menjaga imun tubuh mereka tetap sehat, karena secara emosional terus dihibur oleh kerabat.

Artinya, amat penting dan semestinya perlu diingat bahwa Covid-19 dapat membatasi dalam hal protokol kesehatan, tetapi jangan sampai menjauhkan kita dari sisi relasi antarpersonal kekerabatan.

Perlu usaha ekstra untuk terus didekatkan karena kita tentu tak mau jika orangtua menderita bukan karena Covid-19, tetapi disadari atau tidak disadari diakibatkan relasi yang semakin berjarak pada masa new normal ini.

(mmu/mmu)