Jeda

Terjebak Bersama Jemek Supardi di "Kerkhof"

Krisnawan Adi - detikNews
Sabtu, 30 Mei 2020 15:33 WIB
jemek
Jemek Supardi berpantomim di Kerkhof, Yogyakarta (Foto: Krisnawan Adi)
Jakarta -

Sebagian besar dari teman-teman mungkin pernah berkunjung ke Yogyakarta. Barangkali kalian pernah melewati Jalan Brigjen Katamso, jalan besar yang lurus dan kalau ke arah selatan akan ketemu perempatan "Pojok Beteng Wetan". Kalau terus ke selatan, kita sampai ke Jalan Parangtritis dan bisa mampir ke kampung Prawirotaman yang biasa dikenal sebagai kampung bule. Tapi mungkin teman-teman lupa kalau pernah melewati daerah itu. Maklum, namanya juga berkunjung, umumnya cuma piknik, kan?

Sisi selatan dari Jalan Brigjen Katamso itu tadi dikenal dengan daerah Dipowinatan. Sebuah area administratif kampung sekaligus situs penting dalam sejarah Indonesia. Di situ terdapat beberapa tempat sebagai saksi bisu perjalanan bangsa kita. Ada Ndalem Jayadipuran. Di bangunan itulah Hari Ibu yang biasa kita peringati pada 22 Desember lahir. Selain itu ada Purawisata, semacam area yang dulu difungsikan sebagai tempat hiburan rakyat.

Dulu ada wahana bermain dan pertunjukan musik untuk menghibur rakyat Yogyakarta. Sayangnya, sekarang bangunan itu mangkrak, terbengkalai. Sebelum menjadi Purawisata, tempat itu pernah menjadi terminal bus Yogyakarta. Dan jauh sebelumnya, sampai sekarang tapi dengan luas yang lebih sempit, pernah digunakan sebagai tempat peristirahatan terakhir zaman kolonial, alias kerkhof.

Di sekitaran area itu, kadang ada seorang pak tua yang gemar berkeliling menggunakan sepeda listriknya. Pak tua itu cukup nyentrik. Berambut belakang gimbal yang panjangnya sampai ke pinggang. Kalau ke mana-mana biasanya pakai topi mancing dan kemeja cokelat muda yang sedikit kedodoran karena postur tubuhnya yang kurus dan kecil. Pak tua itu adalah Jemek Supardi. Ya, si Bapak Pantomim Indonesia.

Pada 14 Mei 2020, saya dan beberapa teman dari Indonesian Visual Art Archive (IVAA) berkesempatan untuk berkarya bersama Pak Jemek. Sedikit info, IVAA adalah sebuah lembaga non-profit di Yogyakarta yang bergerak di bidang pengarsipan seni visual. Kebetulan lokasi kantor dan perpustakaan kami juga ada di Dipowinatan.

Kembali ke topik, kami sedang berpanas-panasan merekam gerak pantomim Pak Jemek sebagai respons atas situasi pandemi ini, dan kekayaan ruang di sekitaran Dipowinatan sebagai potensi pengetahuan bersama. Seperti biasa, Pak Jemek melakukan pantomimnya. Yang mungkin berbeda dari pantomim lainnya, tapi sudah biasa bagi Pak Jemek, kali ini dilakukan di tengah-tengah kerkhof.

Menyuarakan Ketimpangan

Seniman teater legendaris ini lahir di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 14 Maret 1953. Melalui pantomim ia kerap menyuarakan isu ketimpangan sosial masyarakat. Bukan seperti artist hiburan yang menye-menye, isu ketimpangan sosial yang ia angkat memang sudah menjadi makanan kesehariannya.

Meski ia dikenal sebagai bapak pantomim Indonesia, atribut itu tidak semata diraih tanpa perjuangan berat. Kehidupan jalanan, makam sebagai tempat nongkrong, kejar-kejaran dengan 'petrus' di jaman Orde Baru, dan selalu putar otak untuk bertahan hidup telah menempanya untuk menjadi seorang seniman pantomim sejati.

Ia pernah bergabung dengan sejumlah kelompok teater di Yogyakarta, seperti Teater Alam, Teater Boneka, Teater Dinasti, dan beberapa yang lain. Pak Jemek belajar pantomim secara otodidak pada sekitar 1977, ketika ia sedang berdinamika bersama Teater Dinasti. Kesulitan untuk menghafal naskah telah menuntunnya ke pantomim, seni dalam bahasa gerak.

Tidak ada yang mengajarinya secara khusus. Ia hanya tekun menyaksikan dan memahami dengan seksama berbagai pentas pantomim dari luar negeri yang pada waktu itu digelar di Yogyakarta, salah satunya pantomim dari Prancis oleh Marcel Marceau. Sampai sekarang, tak putus-putusnya ia terus berkarya. Tahun kemarin ia menampilkan karyanya yang berjudul Pedhot (putus) sebagai kritik atas terputusnya interaksi manusia ketika gadget dan kultur digital mengintervensi.

Kembali ke Kerkhof

Karena gerbang kerkhof ditutup, kami memutuskan untuk melompati tembok agar bisa masuk. Dengan sedikit kesusahan akhirnya kami bisa blusukan di makam itu. Lalu kami memilih satu area yang cukup teduh untuk persiapan. Pak Jemek mengeluarkan perlengkapannya, ada tas kecil berisi perkakas make up dan baju putih polos sebagai kostum.

Sembari merias wajah dan para crew menyiapkan kamera, Pak Jemek bercerita soal konsep pantomim ini. Di situasi pandemi seperti ini, kalau kita tidak bergerak, maka kita akan terus berada dalam kungkungan ketakutan. Menjaga jarak, memakai masker, cuci tangan, memang penting. Tapi yang jauh lebih penting adalah kita harus keluar dari ketakutan dan tetap berinisiatif untuk melakukan sesuatu yang produktif.

Manusia tak akan pernah hilang siasat. Kebingungan memang jadi hal lumrah. Tetapi harapan adalah suatu kepastian yang manusiawi, yang harus kita ciptakan sendiri. Semua konsep sekaligus refleksi itu dimanifestasikan oleh Pak Jemek ke dalam beberapa objek secara simbolis. Dengan kemampuan seni geraknya, ia mentransformasikan itu semua menjadi sebuah pantomim di tengah makam secara spontan.

Bukan tanpa alasan ia memilih kerkhof sebagai latar tempat. Kerkhof telah menjadi bagian hidup Pak Jemek, terutama ketika ia masih muda. Kerkhof sebagai tempat peristirahatan terakhir manusia, juga menjadi satu situs spasial yang bersejarah di Dipowinatan. Ia menjadi saksi bisu peralihan ruang: dari kuburan yang melahirkan terminal tempat lalu lalang orang, tempat hiburan, hingga bangunan terbengkalai yang seolah siap dikubur kembali. Seperti sebuah metafora siklus kehidupan manusia.

Tapi saya tidak akan menjelaskan detail pantomim yang telah dilakukan Pak Jemek. Tim IVAA saat ini sedang mengolah rekaman audio-visualnya untuk nanti dipublikasikan melalui beberapa kanal yang kami miliki, salah satunya Youtube. Jadi, kalau penasaran ingin tahu seperti apa karya Pak Jemek, silakan pantau terus Youtube IVAA.

Dinasihati

Entah kenapa siang itu saya merasa sedang dinasihati oleh Pak Jemek. Melompati tembok agar bisa masuk ke makam, mendengarkan penjelasan konsep pantomimnya, hingga merekam dan menyaksikan seni gerak Pak Jemek dengan beberapa objek simbolis itu seolah memberi jeda berpikir bagi saya. Bahwa mungkin kita sedang terjebak di dalam kungkungan ketakutan selama masa pandemi ini.

Tetapi justru dengan melompati tembok dan berefleksi di tengah makam, sebagai suatu metafora kesepian yang mungkin kita alami ketika harus stay at home, menjadi satu cara untuk tetap menjaga kewarasan pikir. Harapan harus segera diciptakan, bahkan di ruang yang gelap dan sepi sekalipun. Itulah cerita singkat saya dan kawan-kawan ketika terjebak bersama Pak Jemek. Terima kasih sudah membaca, semoga menjadi jeda yang menghibur.

(mmu/mmu)