Pustaka

Yang Manis dan Menyegarkan

Wahid Kurniawan - detikNews
Sabtu, 30 Mei 2020 12:24 WIB
romcom
Foto: istimewa
Jakarta -

Judul Buku: Everthing Like Feels Romcoms; Penulis: Candra Aditya; Penerbit: POP, April, 2020; Tebal: vii + 303 halaman

Saya meyakini, semua orang menyukai film romance comedy. Kita tahu, film seperti itu membuat hati senang sebab kisah romansa yang acap manis dan diselingi guyonan mengundang tawa, sehingga tak jarang ia menjadi pelarian ketika seseorang dalam kondisi hati yang tak baik. Dan dalam ranah perfilman semacam inilah, Candra Aditya bermain-main dengan tokoh-tokohnya dalam novelnya, Everything Like Feels Romcoms.

Bisa kita tebak, novel ini amat dekat kaitannya dengan film. Itu benar adanya. Sebab di halaman awal, pembaca akan langsung dikenalkan dengan sosok Reza Adhyaksa, seorang sutradara yang tengah dalam garapan film panjang pertamanya, Heri dan Hana. Lalu tahu-tahu, kita dibawa masuk dalam kisah Reza ini, dari latar belakangnya yang lulusan sarjana film, pekerjaannya yang lebih dikenal sebagai sutradara sinetron, dan betapa bahagianya dia mendapati proyek film panjangnya.

Pembaca pun diajak ke letupan awal novel, ihwal aktor yang alih-alih dilihat dari kecakapannya dalam berakting, malah menggaet seorang yang bermula kariernya dari Instagram, Doni Adhari. Ini membuat sutradara seperti Reza tak habis pikir, sebab hampir semua orang yang pernah bekerja sama dengan Doni ini mengeluhkan tingkahnya yang tidak profesional. (Hal 8)

Lalu letupan selanjutnya datang dari kisah tokoh kedua, seorang penulis naskah film, Kimmy. Lain dengan Reza, masalah yang menimpa Kimmy bersifat personal, yakni hubungan asmaranya. Atas satu malam di Bandung bersama pacarnya, Paul, di samping meriset untuk naskah filmnya, Cinta Rendah Kalori, Kimmy pun beranjangsana dengan pacarnya itu, dan dia mendapat getahnya ketika kembali ke rumahnya. Datang bulan yang semestinya tiba, tak ia rasakan.

Hal itu pun membuatnya khawatir, bahwa dirinya...hamil. Persoalan ini jelas membuatnya tak siap untuk mengantisipasi buah dari tindakannya itu. Akhirnya, Kimmy merasa perlu untuk memeriksa kebenaran dugaannya tersebut. Setelah memberi tahu Paul, bersama sahabatnya ia pergi ke dokter, dan apa pun kebenarannya, toh pada akhirnya Paul siap bertanggung jawab, menikahi Kimmy. Kendatipun perempuan itu bersikukuh bahwa ia belum siap menikah, demi kelanjutan hubungan mereka, Kimmy memilih menerima lamaran Paul. Inilah awal dari waktu yang tak tepat untuk hubungannya bersama seseorang yang tak terduga di masa depan.

Bukan orang lain, seseorang itu adalah Reza. Ini terjadi setelah perkara aktor yang ia nilai tak mumpuni itu berujung adegan baku hantam yang menghebohkan jagat dunia entertainment. Dan itu berimbas pada hilangnya pekerjaan Reza. Lalu dipertautkan dengan Sarah, yang juga sahabat baik Reza, laki-laki itu ditawari untuk meng-handle job fotografer dan videografer pre-wed acara pernikahannya Kimmy dan Paul.

Praktis, pertemuan keduanya pun tak terelakkan. Mula-mula, demi kesepakatan tema, ketiganya berjanji untuk bertemu di satu beerhouse di Kemang. Namun, yang datang hanya Reza dan Kimmy, sebab Sarah mendadak memiliki urusan pekerjaan. Alih-alih menemukan kesepakatan, keduanya justru terjebak dalam obrolan yang menyenangkan. Ihwal perfilman menyatukan mereka. Topik yang dibicarakan terasa klop. Sehingga baik Reza maupun Kimmy menemukan kesan yang berhasil membuat bibir mereka tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Jauh di lubuk hati, kendati ditepis pelan, keduanya tak sabar untuk pertemuan-pertemuan berikutnya.

Sampai sini, kita bisa teringat kata-kata seseorang, bahwa kebersamaan menyenangkan dalam kurun waktu yang lama, mau tak mau, dielakkan bagaimanapun caranya, bisa memicu rasa suka satu sama lain. Hal itu pulalah, barangkali, yang tak disadari oleh keduanya. Waktu yang berjalan selanjutnya, di sela mengurusi persiapan pernikahan, terjalinlah satu fase ketika malam-malam dihabiskan dengan mengobrol panjang lebar. Soal apa pun, tapi seringnya menyangkut tentang film. Ini membuat keduanya kian dekat. Rasa cocok lambat laun merayap dalam diri masing-masing.

Tetapi, Reza toh tahu diri. Ia mengerti posisinya, bahwa waktu yang ada sama sekali tak tepat, untuk menyebutnya tak mendukung hubungan mereka. Sebab ia paham, bagaimana rasanya orang yang dikasihi direbut paksa oleh orang lain --ia merasakannya sendiri, mantan pacarnya, Andrea, kabur dengan selingkuhannya setelah lima tahun pacaran. Hal demikian pun tak ingin ia lakukan terhadap Kimmy. Dibiarkannya rasa itu sekadar rasa suka, yang diharapkannya tak berkembang menjadi sebentuk cinta.

Sementara dalam diri Kimmy, tiba masanya ketika ia menyangsikan keberlanjutan perasaannya terhadap Paul. Dia tak sepenuhnya paham, awalnya, apakah itu disebabkan kedekatannya dengan Reza atau hubungannya dengan Paul yang meskipun tinggal menghitung hari pernikaha, justru terjebak dalam rasa-rasa yang biasa, bahkan terasa berjarak.

Pada akhirnya, kendati bertumpu pada sesuatu kasus yang klise, hubungan antartokoh dalam novel ini menemukan kewajarannya. Logika cerita yang dibangun penulis bisa dibilang berhasil, sebab sepanjang pembacaan, perubahan perasaan tiap tokohnya bisa diterima dengan baik. Pembagian sudut pandang dari dua tokoh utama pun terasa pas, tidak timpang sebelah. Suara keduanya saling bersusulan. Pun saling menutup celah yang rumpang dalam cerita.

Ini novel yang menyenangkan, tentu saja. Sebab selain berfokus pada konflik perasaan tokohnya, disisipkan pula banyak referensi film yang menunjukkan pengetahuan perfilman penulis yang tak main-main. Terlebih ketika di satu adegan, ketika tokoh Kimmy dan Reza mengobrol, lalu menyinggung perihal industri kreatif yang tak jarang dipandang sepele --masih ada stigma ia kalah saing dengan profesi bertendensi kantoran. Kimmy berujar, ... alasan utama gue terjun ke industri kreatif ini karena gue pengen meninggalkan jejak di dunia ini. (Hal. 124).

Berlimpahnya referensi dan gamblangnya dunia perfilman ini kiranya bisa dipandang sebagai nilai plus yang didapat pembaca. Setidaknya, selain mendapat kepuasan atas jalan ceritanya, pembaca pun bisa sedikit melek perihal istilah dan seluk-beluk film. Minimal, tahulah bagaimana sebuah film bisa tercipta dan menemui penontonnya.

Lalu selaras dengan judulnya, novel ini memang terasa seperti romance comedy dalam sebuah film. Dialog-dialog yang cair, blak-blakan, dan memiliki humor yang khas, pula menjadi poin penting lain yang menahbiskannya sebagai bacaan yang menyegarkan. Untuk itu, tidak berlebihan bila novel ini layak dijadikan pelarian bagi otak yang suntuk. Ia bisa menjadi oase bagi otak yang terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja di tengah masa-masa pandemi ini.

Wahid Kurniawan penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Teknokrat Indonesia

(mmu/mmu)