Kolom

Fitrah dan Daya Transformasi

Arif Satria - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 18:00 WIB
Rektor IPB University Arif Satria
Arif Satria (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Idul Fitri 1441 H di masa pandemi Covid-19 memiliki makna khusus. Hal ini karena pandemi Covid-19 akan menciptakan normal baru yang memerlukan daya adaptasi kita. Idul Fitri menjadi istimewa saat ini karena kemudian dikaitkan dengan relevansinya untuk memasuki tatanan hidup baru tersebut. Idul Fitri menghasilkan status "fitrah" atau kesucian pada diri kita, dan pertanyaannya adalah bagaimana status fitrah tersebut dapat menjadi modal untuk proses transformasi menuju dan mengisi normal baru?

Fitrah

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zalim kepadamu, tetap memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu." (HR. Thabrani).

Hanya orang yang berhati suci dan bening yang bisa menuruti perintah Rasulullah tersebut. Siapa orang yang berhati suci tersebut? Yaitu orang yang berhasil mendapatkan fitrah atau kesucian selama bulan Ramadhan karena mendapat ampunan dari Allah, kemudian mendapat dan memberi maaf sehingga bisa "restart" ulang hubungannya dengan sesama.

Bila kita renungkan, fitrah mencerminkan hasil "install ulang" spiritual kita selama bulan Ramadhan. Ampunan Allah mendasari kesucian diri. Diri ini bersih seperti saat lahir di dunia, baik bersih fisik dan bersih batin. Secara fisik kita kembali ke "fitrah" karena puasa adalah instrumen terbaik untuk detoks kesehatan, yang telah diakui dunia medis.

Secara batiniah, kembali ke fitrah adalah bersihnya hati dan pikiran sehingga kebenaran ilahiah mudah masuk dan melekat. Kebenaran inilah yang akan memandu kehidupan kita, termasuk dalam merangsang untuk terus menemukan kebenaran ilmiah.

Jernihnya hati dan pikiran ini diwujudkan dengan referensi pada sosok kesucian Rasul yang memiliki sejumlah identitas , yaitu: shiddiq (benar-jujur), fathanah (cerdas-pembelajar), amanah (dapat dipercaya-kredibel), dan tabligh (komunikatif-inspiratif). Bagaimana relevansi 4 identitas tersebut pada transformasi sosial?

Daya Transformasi

Shiddiq atau jujur mencerminkan integritas, karena orang shiddiq memegang komitmen etik yang kuat. Fathanah mencerminkan kompetensi profesionalitas atau kapabilitas. Kita disebut semakin fathanah kalau kita mampu aktif sebagai pembelajar yang tangguh, yang terus menghasilkan inovasi-inovasi monumental yang bermanfaat dan adaptif terhadap perubahan. Fathanah juga tercermin dari sensitivitas kita pada sinyal-sinyal perubahan. Hal ini karena sinyal perubahan hanya bisa ditangkap oleh orang-orang yang cerdas dan visioner.

Dulu, setiap Rasul diturunkan pada umat yang selalu bermasalah, sehingga para Rasul mendapat tugas untuk melakukan perubahan dengan membangun peradaban baru. Untuk memetakan agenda perubahan dan merumuskan visi masyarakat baru tersebut tentu memerlukan kecerdasan dan ketajaman visi tersendiri. Inilah mengapa fathanah harus dimiliki seorang Rasul, aktor utama perubahan. Perubahan harus dilakukan dengan pengetahuan dan oleh aktor yang berpengetahuan (fathanah).

Selanjutnya shiddiq sebagai dasar pembentuk integritas ditambah dengan fathanah sebagai dasar penguat kapabilitas akan menghasilkan identitas baru yaitu amanah atau kredibilitas. Jadi, integritas dan kapabilitas harus menyatu untuk membentuk kredibilitas, yakni kondisi yang menunjuk pada tingkat kepercayaan orang lain kepada kita.

Oleh karena itu, kita akan mendapat status amanah (dapat dipercaya) atau kredibel bila kita memiliki integritas dan kapabilitas (kompetensi dan profesionalisme). Selanjutnya, kredibilitas ini akan bermuara pada dua hal.

Pertama, kredibilitas tersebut akan menjadi basis bagi terbentuknya basis silaturahmi dan jejaring yang baik, yang selanjutnya merupakan modal dasar suksesnya kolaborasi. Kolaborasi ini adalah cara yang bisa ditempuh untuk memaksimalkan inovasi atau ikhtiar perubahan. Inilah yang disebut modal sosial karena kuatnya jejaring dan rasa saling percaya antarkita.

Penguatan jejaring dan silaturahmi sebenarnya bisa diraih dari Tradisi halal bihalal di Indonesia. Hal ini karena orang yang berhalal bihalal adalah orang yang telah berpuasa sehingga relatif kesuciannya meningkat dan pada saat yang sama ada proses bermaafan yang dapat menormalisasi silaturahmi. Jadi, halal bihalal adalah salah satu instrumen trust building.

Betapa indahnya hidup ini apabila hidup penuh saling percaya, mudah saling memaafkan, tanpa dendam, tanpa dengki, tanpa curiga, tanpa prasangka buruk, dan tanpa rasa bermusuhan. Persatuan pun dengan mudah diciptakan, sebagaimana pasca hijrah Rasulullah SAW menyatukan kaum Muhajirin dari Mekah dan kaum Anshor dari Madinah. Jejaring Muhajirin dan Anshor ini adalah modal sosial bagi pembangunan peradaban di Madinah.

Kedua, kredibilitas akan menjadi basis bagi strategi komunikasi. Dengan status sebagai orang yang amanah atau kredibel, maka semakin mudah bagi kita untuk berkomunikasi menyampaikan pesan-pesan inspiratif (tabligh), yakni pesan-pesan yang menggugah publik berpikir dan bertindak untuk perubahan yang lebih baik. Di sinilah tergambar bahwa tabligh tidaklah berdiri sendiri melainkan hasil dari akumulasi integritas, kapabilitas, dan kredibilitas.

Karena itu sebenarnya proses perubahan sosial yang diinisiasi setiap Rasul pada zamannya mensyaratkan aktor-aktor yang berintegritas, memiliki kompetensi profesional, memiliki kredibilitas, serta memiliki kemampuan menginspirasi agar publik tergerak turut dalam arus perubahan.

Dengan demikian kita semakin memahami bahwa 4 identitas Rasul itu merupakan satu kesatuan sebagai modal untuk proses transformasi. Keberhasilan sebuah transformasi tersebut akan sangat tergantung dari sejauh mana para aktor penggeraknya mencerminkan 4 identitas tersebut.

Jadi, fitrah yang kita raih bukanlah kondisi statis melainkan harus menjadi daya transformasi baru. Konteks transformasi hari ini adalah bagaimana membangun kekuatan memasuki dan mengisi normal baru. Daya transformasi ini akan membuat kita menjadi bagian dari sejarah normal baru ini. Kemampuan untuk terlibat dalam proses sejarah inilah yang akan menentukan masa depan dan kejayaan kita.

Arif Satria Rektor IPB; tulisan ini merupakan pokok-pokok sambutan pada Halal Bihalal IPB 29 Mei

(mmu/mmu)