Jeda

Sebuah Catatan Hari Raya

Hilmi Amin Sobari - detikNews
Senin, 25 Mei 2020 09:49 WIB
Umat Muslim di Solo gelar salat Id berjamaah di area Masjid Al Hikmah. Menariknya, masjid itu terletak berdampingan dengan Gereja Kristen Jawa Joyodiningratan.
Salat Id di Solo (Foto: Agung Mardika)
Jakarta -

Saya bangun dari tidur sekitar pukul 5 pagi. Beranjak ke toilet, berwudu, dan salat subuh. Sementara itu panggilan takbir masih menggema dan bersahut-sahutan dari masjid-masjid. Menyadari tak banyak agenda, saya kembali merebahkan diri di sofa yang berada di ruang tengah. Saya menutup kedua mata dan kembali bergelut dengan mimpi.

Matahari telah muncul dan sinarnya menerpa dedaunan dan pepohonan ketika saya terjaga. Langit menampilkan sebuah karya seni, panorama yang membentang luas. Sejauh pandangan mata, langit menghiasi dirinya dengan warna biru, bening seperti samudera yang terlihat anggun dari jendela pesawat terbang. Tampaknya langit pun mengerti hari ini bukan hari biasa. Ia ingin terlibat dalam perayaan lebaran tahun ini dengan sebuah pesan: kejernihan!

Saya beraktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Saya biarkan kucing-kucing peliharaan untuk berkeliaran di dalam rumah menikmati "waktu-bermain-pagi" sambil saya bersihkan kandang dan buang kotorannya, dan tentu saja menuang makanan kucing berbentuk bulat dan segitiga dengan aroma ikan di tempat makannya (duh, nyaman sekali hidupnya!). Setelah urusan dengan kucing-kucing itu selesai, saya beralih ke cucian piring dan gelas kotor, menyapu dan mengepel lantai, berpindah ke halaman dan menyirami tanaman, dan kemudian membuang sampah rumah tangga ke sebuah tong-plastik-tebal-bulat berwarna biru tua.

Tetangga depan rumah baru saja pulang naik motor. Dia membuka pagar dan memasuki halaman rumahnya. Ibunya yang sudah agak sepuh menumpang di jok belakang. Mereka berbusana muslim dan rapi. Jika saya dekati pasti tercium wangi parfum. Tapi saya hanya terdiam memperhatikan dari jendela kaca. Mereka tampak seperti baru menjalani ritual salat. Oh, iya. Hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri. Tentu mereka harus mencari masjid yang agak jauh. Masjid berjarak 50 meter dari rumah patuh pada anjuran pemerintah. Saya mengerti, tetangga saya itu mungkin dalam dilema: menaati keinginan ibu bukanlah sebuah dosa!

Beberapa kali panggilan telepon saya abaikan. Saya bergegas untuk mandi, merapikan diri, menyeruput segelas susu yang sudah tersedia di atas meja, menyalakan televisi, dan mengambil sepiring nasi-ketupat beserta lauk kacang panjang yang dipotong pendek-pendek dengan santan kelapa, opor ayam, dan kerupuk. Kalian mungkin bertanya-tanya kapan saya Salat Id. Saya memutuskan untuk tidak salat.

Siaran televisi saya pilih channel aktivitas jelajah alam: pendakian ke sebuah gunung di Laos. Salah satu acara favorit. Beberapa episode saya ikuti. Yang paling saya ingat adalah pendakian ke sebuah gunung di Jazirah Arabia. Salah satu gunung tertinggi di Arab itu menyajikan pemandangan beraroma magis dan eksotis. Puncak-puncaknya dikelilingi awan dan diselimuti hamparan dan lekukan bebatuan yang panas.

Episode kali ini saya tertinggal. Sang pendaki sudah dalam perjalanan turun. Di sepanjang rute, pendaki ini bertemu dengan suku-suku terasing yang masih hidup dalam kesederhanaan dan akrab berinteraksi dengan alam. Mereka menetap di dataran tinggi yang dingin dan berkabut. Saat sang surya menampakkan diri maka tetesan keringat dan gerak warga suku mengambil alih kesunyian. Bapak-bapak dan ibu-ibu akan pergi ke ladang atau hutan untuk membajak tanah, menanam padi, dan menggembala kerbau. Sebagian lagi tetap di desa menenun benang menjadi lembaran kain yang siap untuk dijadikan pakaian, menjaga bayi-bayi dan anak kecil, juga sebagian anak-anak pergi ke sekolah untuk belajar.

Di salah satu suku itu sang pendaki dijamu dengan "mewah". Chae Lang, seorang pria paruh baya dengan disaksikan anak-anak yang selalu ingin tahu menebang sebatang pohon bambu yang telah berwarna kuning, memotong-motong batangnya untuk memanen cacing bambu yang kemudian dimasak dengan herbal lokal, sejumput garam, dan diolesi dengan minyak babi. Enak! Demikian penilaian sang pendaki sambil berkali-kali menyumpit cacing-cacing itu dari sebuah piring yang terbuat dari aluminium.

Hari berikutnya Chae Lang mengajak pendaki ke ladang. Memetik beberapa daun tembakau. Merajangnya dengan ukuran kecil-kecil lalu ditaburkan di atas tampah bambu dan menempatkannya di bawah paparan sinar matahari selama dua hari. Chae Lang punya stok tembakau kering. Dengan sebatang bambu besar tembakau kering itu dibakar dan asapnya dihirup. Kuat! sangat kuat! teriak sang pemandu sambil terbatuk-batuk. Chae Lang juga terbatuk-batuk.

Saya mengambil gadget, mengamati media sosial yang dipenuhi ucapan-ucapan khas lebaran yang variatif: copy-paste doa a la nabi hingga yang unik dan buah kreativitas akal-pikiran. Masing-masing orang ingin menunjukkan kepedulian pada yang lain. Setiap orang ingin meminta maaf dan sekaligus memaafkan tanpa diminta.

Tetapi diam-diam ada yang menyelinap: hal-hal yang menggelisahkan. Viral sebuah video ketegangan seorang pemuka agama pelanggar kebijakan PSBB dengan petugas Satpol PP. Sang pemuka agama dibela, sang petugas dicela. Cerita menjadi anti-klimaks saat sang petugas tunduk patuh dan mencium tangan pemuka agama dengan khidmat dan raut muka penyesalan, meminta maaf, dan kemudian dimaafkan.

Mungkin memang begitu cara kita menyikapi persoalan. Alih-alih melihatnya sebagai sebuah persoalan besar, pelanggaran PSBB jika dilakukan orang tertentu dianggap wajar, remeh-temeh, dan disudahi dengan perspektif relasi-kuasa. Mereka yang tak memiliki kuasa, atau pengikut yang siap membela, atau tak punya dukungan politik terjebak pada dilema: bekerja profesional atau patuh pada kuasa.

Di negara ini persoalan kuasa bukan hal sederhana. Selain kuasa konkret yang mewujud dalam struktur pemerintahan dari tingkat RT hingga presiden, masih terdapat kuasa lain yang melekat dan berpengaruh. Tokoh agama dengan banyak pengikut, pimpinan perusahaan yang memaksa pegawainya tetap bekerja, para pejabat yang berkepentingan dengan bisnisnya, dan sebagainya. Adalah hal problematis untuk "menghadapi" mereka.

Mall yang tetap ramai, masjid yang tetap melaksanakan Tarawih (juga Salat Id; walaupun telah diimbau untuk salat di rumah) tanpa ada kejelasan sanksi bagi pelanggaran aktivitas di zona merah, jalan-jalan tetap macet ketika penerapan PSBB, penerbangan yang "dimudahkan" bagi mereka yang berbisnis, pengendara motor dan mobil yang dipaksa berputar balik adalah paradoksal: ruwet, ruwet, ruwet!

Saya tergoda untuk membandingkan kehidupan modern di sekitar kita ini dengan kehidupan suku-suku terasing di puncak-puncak gunung di Laos itu. Tapi godaan itu saya tepis. Mereka memiliki falsafah hidup yang arif dan beraroma magis adalah karena mereka akrab dengan alam sebagaimana kita pun memiliki "jalan-hidup" sendiri yang telanjur akrab dengan "modernitas".

Daripada ber-ruwet-ruwet-ria tanpa bisa berbuat apa-apa, izinkan saya sejenak mengambil jeda. Mumpung masih dalam suasana hati yang gembira dan nuansa Idul Fitri masih menyelimuti, saya ucapkan: Selamat Lebaran, Mohon Maaf Lahir dan Batin!

Hilmi Amin Sobari esais, tinggal di Kota Bekasi

(mmu/mmu)