Kolom

Puasa Mudik dan Spirit Baru Solidaritas

Afrizal Qosim - detikNews
Jumat, 22 Mei 2020 15:11 WIB
Akibat larangan mudik membuat Terminal Tanjung Priok, Jakarta, sepi dari aktivitas. Begini penampakannya.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Mestinya Lebaran ditunda sampai emak pulang.

Hus! Lebaran tidak boleh ditunda. Nanti semua orang marah.

Tetapi emak belum pulang. Dia sedang pergi ke kota membeli baju.

Oh, aku tahu sekarang. Kamu tak usah menunggu emakmu. Nanti aku yang memberimu baju.

Begitulah sejumput dialog dalam cerpen Ahmad Tohari berjudul Wangon-Jatilawang yang akan menjadi pengantar di dua babak tulisan ini.

Babak pertama, ihwal ironi seseorang yang menanti kedatangan emaknya. Berharap Lebaran ditunda hingga emaknya kembali dari kota sembari menyangking baju baru. Di babak kedua, meski sama-sama orang sulit, ada secercah harapan dalam budaya kita yang masih memelihara naluri persamaan dan kepedulian terhadap liyan yang menggembirakan dan harmonis.

Sulam, tokoh dalam cerpen tersebut yang memiliki keterbelakangan mental, secara sadis harus menerima sikap eliminasi dari masyarakat yang, meyakini kehadirannya sebagai malapetaka, pembawa apes. Ia lalu terasingkan dan sadar diri untuk tidak menghamba pada masyarakat di antara dua daerah: Wangon-Jatilawang.

Di sisi lain, Ahmad Tohari seakan-akan sedang menampar kemanusiaan kita melalui sebuah ironi, bahwa dalam kemeriahan dan keceriaan menyambut Lebaran pasti ada saja orang-orang yang merasa murung dan sendu. Tak bisa mudik, tak mampu beli baju baru, atau sekadar memasak dan menikmati hidangan ketupat bersama keluarga.

Ada orang-orang yang masih harus menahan lapar, meski Ramadhan telah usai.

Ironi itu pernah dialami oleh Nabi Muhammad ketika mendapati anak kecil tak memakai pakaian baru dan bersedih pada hari Lebaran. Sebab ayahnya syahid usai berperang bersama Nabi sementara ibunya menikah lagi. Nabi pun mengangkatnya sebagai anak dan memberinya baju baru.

Sebelum merangkak lebih jauh, penting diutarakan bagaimana puasa melatih kita. Secara sosiologis, ibadah puasa bukan hanya tirakat spiritual kepahalaan sebagai ritual enforcement belaka, yang justru hanya akan membelenggu manusia. Wahyu yang terkandung dalam ayat-ayat puasa itu selayaknya dimaknai secara optimistik. Menilik di dalam ayat-ayat puasa itu jika digali penggunaan kata dan telaah gramatikal Arabnya, sungguh berpotensi dalam menopang spirit dalam beragama (QS.1:183-186).

Karena itu, dalam praktik yang lebih rasional serta menyerap hikmah kisah Sulam, ayat-ayat puasa seharusnya dimaknai sebagai living faith yang aktual, yang mencari makna ibadah itu dalam penghadapannya terhadap realitas. Yakni, bagaimana puasa dapat mengelola kesadaran "fitri yang humanis" memihak keadilan dan realitas keterpurukan yang menggejala di lingkungan sekitar kita. Suatu kenyataan yang kini sama-sama kita hadapi: pandemi Corona.

Barangkali kuncup normalitas itu bisa kita sirami hingga mekar, baik di masa pandemi maupun setelah itu.

Kembali pada kisah Sulam, bisa menjadi sebuah kemungkinan apabila Sulam yang memperkenalkan dirinya sebagai "orang gemblung", yang sedang merindukan kehadiran emaknya merupakan bagian terdalam kita orang-orang yang "ora biso mulih", dan akan menikmati malam Lebaran dengan, "Suara takbir ing wayah wengi, ngelingke salah lan dosa iki," begitu kata Didi Kempot.

Kepatutan

Kita sudah letih membahas betapa lelahnya perjalanan mudik dari tahun ke tahun. Mudik --kembali ke udik-- sudah menjadi bagian dari kemapanan tradisi. Ia diperbincangkan dalam syak wasangka sebagai persoalan nasional, yang melibatkan hampir seluruh sektor kehidupan, seluruh lapisan sosial. Jauh-jauh hari aparatur negara pasang badan, mengatur alur mudik.

Penampakan mudik menjadi hal wajar bagi migran yang tersisih di perantauan. Ke-bakoh-an hidup di tanah rantau yang ugal-ugalan, seketika berganti kelamin, melunak, tatkala bersua sanak keluarga di kampung halaman. Meski, kata Mohamad Sobary, ia bukan bagian dari "tradisi agama", melainkan fenomena modern, banyak diantara mereka meyakininya sebagai saat yang damai untuk kembali. Mengecup kening ibu dan sungkem di kasarnya telapak tangan bapak.

Karena itu, mudik Lebaran sebenarnya bisa menjadi upaya continuum sosial kultural ketika seseorang merantau ke lain daerah. Sehingga orang tidak tercerabut dari akar budayanya.

Tapi, di tahun ini, di mana akhir pandemi masih kabur, menuntut kepatutan atau common decency masyarakat terhadap upaya pencegahan transmisibiltas virus ini. Hal ini memaksa kita menerima kenyataan untuk "puasa mudik". Menabung rindu dan menahan diri untuk tidak gegabah melatensi mata rantai penularan Covid-19. Sebab mengurangi pergerakan orang antarwilayah setidaknya bisa membantu memutus persebaran tersebut.

Meskipun demikian, kebijakan pemerintah atas iktikad itu terkesan mendua: yang dilarang itu mudik, bukan transportasinya, begitu kata Presiden Jokowi. Dengan demikian jelas sekali bahwa pemerintah masih tambal sulam dalam menghadapi pandemi ini. Sebenarnya itu menjadi gambaran umum ketidaksiapan dunia menghadapi pandemi ini (the world isn't ready), seperti yang dikatakan saintis Ed Yong dalam artikelnya di The Atlantic.

Ala kulli hal, yang bisa dikontrol kemudian hanya nurani dan akal sehat kita masing-masing. Di masa pandemi ini, quwwah nazhariyah diberdayakan untuk mengetahui cara penularannya. Hal ini sebenarnya menjadi penting dan berpengaruh besar bagi pencegahannya. Masihkah kita mengerdilkan diri kita sendiri dengan mencelakai orang lain dan terlebih-lebih saudara-saudara kita di kampung halaman?

Tanpa mudik, Lebaran tak akan ditunda. Kita masih bisa melaksanakan ritus Salat Id di rumah. Kita tetap bisa saling bermaaf-maafan, meski kini harus dilakukan secara daring. Tapi hal itu tidak bisa menghalangi kita membangun spirit baru dalam solidaritas bertetangga.

Saatnya kita jaga diri. Jaga mereka. Selamat Idul Fitri. Selamat kembali ke hati yang damai.

Afrizal Qosim peneliti di Lingkar Studi Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

(mmu/mmu)