Kolom

Berdamai dengan Corona Alternatif Terbaik?

Ahmad Munji - detikNews
Jumat, 22 Mei 2020 10:03 WIB
Calon pemudik yang terjaring razia penyekatan berjalan menaiki bus yang akan membawa mereka ke Terminal Pulogebang, Jakarta, di Pintu Tol Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (21/5/2020). Calon pemudik yang terjaring razia penyekatan oleh Polda Metro Jaya tersebut dibawa ke terminal Pulogebang untuk kemudian diarahkan kembali menuju Jakarta. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.
Foto: Nova Wahyudi/Antara
Jakarta -
Setelah pemerintah Indonesia mengambil beberapa langkah dalam penanganan virus corona selama masa pandemi, mulai dari pembatasan sosial, pembatasan fisik, sampai pembatasan sosial berskala besar (PSBB), akhirnya Presiden Joko Widodo menyuarakan wacana berdamai dengan corona. Seruan ini ia sampaikan dalam banyak kesempatan; tidak lain sebagai bentuk sikap bahwa pemerintah sedang mengajak masyarakat untuk hidup berdampingan dengan virus yang mematikan.

Pernyataan Presiden pun mendapat banyak kritik dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Jusuf Kalla (JK), yang tidak lain Wakil Presiden Jokowi pada periode pertama, kini Ketua PMI. Dalam sebuah wawancara JK mengatakan, berdamai dengan virus bukan langkah yang tepat, karena virus tidak bisa diajak berunding.

Herd Immunity

Sebetulnya wacana berdamai dengan corona sudah menjadi kebijakan yang diterapkan di beberapa negara dengan istilah herd immunity. Perlindungan tidak langsung dari infeksi penyakit untuk membiarkan persentase besar penduduk terinfeksi dan menjadi kebal. Lalu, manakah yang lebih efektif, herd immunity atau social distancing dengan gerakan stay at home?

Negara Bagian New York, wilayah yang memiliki jumlah kasus virus corona terbanyak di AS, adalah wilayah yang menerapkan tindakan isolasi paling ketat. Jumlah kasus yang dikonfirmasikan sejauh ini telah melampaui 360.000, sementara jumlah kematian telah melewati 28.000. Tentu angka ini sangat mencengangkan.

Di atas semua statistik yang membingungkan ini, berita menarik lainnya datang dari Gubernur New York Andrew M Cuomo. Ia mengatakan kepada media bahwa 66% pasien corona yang baru-baru ini dirawat di rumah sakit berasal dari mereka yang sebelumnya tinggal di rumah --kelompok yang mengikuti aturan stay at home.

Dalam sebuah laporan BBC, Presiden Donald Trump mengatakan "terkejut" dengan hasil tersebut; kemudian menambahkan bahwa tingkat kontaminasi di antara mereka yang bekerja di sektor-sektor penting (yang tetap bekerja selama lockdown) jauh lebih rendah dibandingkan dengan populasi keseluruhan, dan bahwa sebagian besar kasus baru terlihat pada mereka yang tidak pergi bekerja dan tinggal di rumah.

Tentu saja, itu bukan satu-satunya data yang membuat kita mempertanyakan dampak positif isolasi selama pandemi. Selain itu, tidak ada perbedaan signifikan dalam statistik yang dihimpun oleh negara-negara yang telah menerapkan langkah-langkah isolasi dan negara yang telah memilih herd immunity.

Klaim atas keberhasilan isolasi juga tidak menunjukkan hasil yang signifikan. Misalnya di Brasil, negara berpenduduk 200 juta orang, kasus pertama ditemukan pada 25 Februari. Sejauh ini, 272.000 kasus telah dicatat dan 18.000 orang telah meninggal di negara itu, yang belum mengambil tindakan isolasi apa pun. Tetapi jumlah pemulihan telah mencapai sekitar 107.000.

Selain itu, ada Swedia dengan kasus positif sejauh ini 31.000. Swedia telah menerapkan herd immunity. Di negara berpenduduk 10 juta orang ini sekitar 5.000 orang telah dinyatakan sembuh, sementara jumlah korban meninggal telah melebihi 3.700 orang.

Adapun negara-negara yang menerapkan tindakan isolasi yang ketat jumlah kasusnya sangat tinggi. Di Jerman jumlah kasus yang dilaporkan 178.000, dengan 156.000 pasien sembuh dan 8.000 angka kematian. Di sisi lain, jumlah kasus di AS, dengan populasi 330 juta orang, telah melebihi 1,5 juta, 295.000 orang telah pulih dan 92.000 lainnya telah meninggal.

Sementara itu, jumlah kasus di Italia, dengan jumlah penduduk lebih dari 60 juta orang, adalah 227.000, dengan 129.000 pasien sembuh dan 32.000 kematian.

Alternatif Terbaik?

Wacana social distancing yang sekarang diterapkan di seluruh dunia mungkin melayang di atas kehidupan kita seperti pedang Damocles. Pedang Damocles adalah ilustrasi dari Damocles yang duduk di tahta raja dengan segala kenikmatannya, tetapi di atasnya tergantung sebuah pedang yang hanya diikat dengan sehelai rambut. Kejatuhan pedang itu hanyalah bom waktu, tinggal menunggu kapan waktu itu tiba.

Namun, kita harus berani mendiskusikan semua jenis teori ilmiah dan kemungkinan untuk menghindari membayar harga yang lebih mahal dalam waktu dekat, salah satunya dengan herd immunity.

Dalam kaidah agama ada satu ungkapan, apa yang tidak bisa kita capai semua jangan kita tinggal semua. Daripada tidak jelas mau apa pemerintah kita --tempat ibadah ditutup, tapi mall dan bandara dibuka, Salat Jumat dikorbankan tapi penutupan sebuah gerai makanan dibiarkan dihadiri ratusan orang tanpa menjaga prosedur kesehatan-- memilih untuk mengambil langkah berdamai dengan corona adalah alternatif terbaik bagi negara kita.

Paling tidak, kita bisa menyelamatkan ekonomi masyarakat menengah ke bawah yang paling terdampak. Saya akan menutup tulisan ini dengan percakapan saya dengan seorang sahabat ojol di Karawang. "Bagaimana kabarmu, Mas ada coronakah di sana?" tanya saya melalui telepon.

"Coronanya nggak ada, tapi kalau dampaknya ada."

Ahmad Munji Ketua Tanfidziyah PCIN Turki, mahasiswa doktor Marmara university Turki

(mmu/mmu)