Kolom Kang Hasan

Semangat Kebangkitan Nasional di Masa Pandemi

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 18 Mei 2020 11:30 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Ketika sejumlah pemuda mendirikan Budi Utomo di tahun 1908, apa sebenarnya yang mereka pikirkan? Mereka sebenarnya boleh dibilang kaum elit pada masa itu. Mereka adalah pelajar di Sekolah Kedokteran Sovia. Sangat sedikit penduduk negeri ini yang bisa bersekolah di masa itu. Anak-anak muda yang tercerahkan ini menyadari satu hal, yaitu mereka harus berkontribusi untuk bangsa mereka sendiri.

Pada masa itu agenda terpenting adalah membangun kesadaran sebagai bangsa. Kita selama berabad-abad terbiasa dengan identitas sebagai warga kerajaan-kerajaan Nusantara. Orang Sumatera tidak terlalu merasakan ikatan dengan orang Jawa. Demikian pula, orang Jawa tak merasa satu kelompok dengan orang Sulawesi. Suka atau tidak ada fakta penting yang dibuat oleh kolonialisme, yaitu VOC "menyatukan" wilayah-wilayah Nusantara ke dalam suatu kendali administrasi. Fakta ini memberi kita identitas baru, yaitu sesama orang Nusantara, yang berada di bawah kendali orang Eropa.

Orang-orang yang tadinya berinteraksi dengan identitas yang berbeda, kini merasakan adanya kesamaan. Kesamaan itu bisa menjadi kekuatan, untuk dipakai dalam mencapai sebuah tujuan. Tujuan saat itu adalah membebaskan diri dari penjajahan VOC. Kekuatan itu harus diperbesar, dengan memperluas kesadaran soal identitas tadi. Maka mereka berpikir untuk mencari cara memperluas kesadaran itu, lalu mereka mendirikan Budi Utomo.

Tantangan seperti ini sebenarnya ada sepanjang zaman. Pada abad XII, lebih dari seabad setelah itu, kita masih harus memperbarui kesadaran soal identitas kita. Secara formal kita sudah berada di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi faktanya, ada saja orang dari daerah tertentu yang ingin memisahkan diri. Ada pula yang menginginkan negara dalam bentuk lain, berbasis pada agama yang mereka anut. Kebutuhan untuk menyatukan kesadaran bahwa kita satu bangsa, terdiri dari berbagai suku dan agama, memilih untuk berbagi ruang hidup di bawah naungan NKRI selalu relevan dan penting.

Tentu saja kesadaran saja tak cukup. Kita punya identitas yang sama. Tapi yang lebih penting lagi, kita punya tujuan yang sama. Tujuan itu akan kita capai bersama, setiap orang, setiap komponen bangsa berkontribusi untuk mencapainya. Kita membentuk sebuah tim, setiap komponen menjalankan peran yang berbeda. Kita bersama menuju ke suatu titik.

Saat ini apa titik tujuan kita? Jelas sekali bahwa kita harus membebaskan bangsa ini dari ancaman Covid-19. Ini bukan sekadar ancaman penyakit. Ini adalah ancaman terhadap keselamatan kita sebagai individu, juga ancaman terhadap keselamatan kita sebagai bangsa. Yang sudah segera terlihat, selain kerugian medis, adalah kerugian ekonomi. Efek ekonomi ini tidak hanya harus kita tanggung selama wabah ini berlangsung, tapi beberapa tahun setelahnya. Efek ekonomi ini bisa saja merambat ke hal lain seperti politik, dan pertahanan.

Seperti pada tahun 1908, kita harus berdiri tegak bersama mengatasi masalah ini. Perjuangan ini tak bisa dilakukan hanya dengan sebagian orang saja yang terlibat. Bila ada sebagian kecil saja orang tak mau terlibat, maka perjuangan sebagian besar orang bisa menjadi sia-sia. Bersatu dan bersama adalah hal yang sangat penting saat ini. Kebutuhan kita untuk bersatu bahkan jauh lebih besar dibanding pada tahun 1908.

Sayangnya seperti yang kita saksikan, ada saja orang yang mengabaikan kebersamaan itu. Ada saja orang yang ingin dikecualikan. Orang-orang ini hanya berpikir pendek, sekadar ingin memenuhi kebutuhan jangka pendek mereka. Padahal tindakan mereka itu dapat mengancam keselamatan bersama.

Jangankan pada rakyat, bahkan pada level kepemimpinan nasional pun hal itu terjadi. Para pejabat negara, baik di pusat maupun daerah bekerja sendiri-sendiri. Bahkan mereka saling cela. Alih-alih bekerja bersama, mereka seakan sedang bersaing. Ada yang mencoba memamerkan diri sebagai orang yang paling pandai bekerja.

Ingatlah bahwa satu perselisihan kecil saja akan melemahkan kita. Apalagi bila terjadi perselisihan besar. Para pemimpin, fokuslah bekerja untuk rakyat, selesaikan masalah rakyat.

Setelah semua ini berlalu, tantangan yang jauh lebih besar menanti kita. Apa peran ekonomi kita di tengah ekonomi global pasca pandemi Covid19 ini? Situasi ini telah mengubah cara pandang penduduk dunia, termasuk para pengambil kebijakan negara, juga para pelaku bisnis. Peran kita sejauh ini, dalam hal industrialisasi, adalah menjadi tuan rumah bagi investasi multinational corporation. Sebagai tuan rumah kita mendapat sedikit imbalan berupa lapangan kerja, pajak, dan sebagainya.

Bagaimana posisi kita setelah ini? Hal terpenting untuk kita sadari adalah bahwa kita sebenarnya sangat tidak mandiri. Kita menyediakan diri untuk jadi pelaksana agenda bisnis negara lain. Kita tak membuat produk untuk kita jual sendiri. Bahkan produk-produk yang kita butuhkan pun dibuatkan orang lain.

Pasca pandemi ini boleh jadi situasi akan berubah. Tidak tertutup kemungkinan kita tak lagi menarik sebagai tuan rumah bagi investasi global. Tapi bisa juga sebaliknya, posisi kita jadi lebih menarik. Apapun situasinya, kebutuhan kita untuk lebih mandiri tidak berubah.

Apa yang akan kita dapatkan sangat tergantung pada apa yang kita usahakan. Nah, apa yang akan kita usahakan pasca pandemi ini? Itu nanti akan kita putuskan bersama. Lalu akan kita ikhtiarkan bersama. Itulah yang dilakukan oleh anak-anak muda di Stovia. Mereka berpikir, bersatu merumuskan gagasan, lalu bergerak bersama. Saat ini, ikhtiar mendesak kita adalah melawan Covid-19. Ayo, berikhtiar bersama sebagai sesama warga negara Indonesia!

(mmu/mmu)