Pustaka

Nyanyian Duka Martin Aleida

Imam Muhtarom - detikNews
Sabtu, 16 Mei 2020 14:07 WIB
martin aleida
Jakarta -

Judul Buku: Romantisme Tahun Kekerasan; Penulis: Martin Aleida; Terbit: Somalaing Art Studio, Maret 2020; Tebal buku: 271 halaman

Akhirnya, Martin Aleida menerbitkan memoar hidupnya, pada usia tiga perempat abad lebih. Memoar ini dibuka dengan latar Jakarta usai Gerakan 30 September 1965. Tatkala orang-orang kiri, simpatisan, ataupun yang terlibat tidak langsung dengan PKI tunggang-langgang menyelamatkan diri dari operasi yang dilancarkan militer Angkatan Darat pro-Soeharto, termasuk Martin Aleida yang kala itu bernama Nurlan.

Pada 21 Oktober 1966, atau setahun sejak 30 September 1965, tengah malam usai makan sate hasil kerja buruh bangunan sekaligus persembunyian Nurlan, datang Burhan Kumala Sakti bersama militer Angkatan Darat. Burhan tidak asing bagi Nurlan sebab dia adalah anggota Pemuda Rakyat, ormas pemudanya PKI. Pengkhianat itu menunjuk Martin dan kawan-kawan untuk kepentingan militer. Bersama Putu Oka Sukanta, Arifin Iskandar AS, Mujio, Zaini, Nurlan ditangkap.

Tanpa pengadilan Nurlan menghuni tahanan rezim baru di bawah Jenderal Soeharto. Sebagai pesakitan Nurlan hanya mendapat ransum nasi ditambah sayur kacang dalam besek anyaman sayatan bambu dua kali sehari. Jumlahnya jauh dari kenyang untuk ukuran manusia dewasa. Di dalam penjara inilah Nurlan tahu bagaimana pimpinan Harian Rakjat dipukuli, disetrum dengan mata ikan pari hingga dari tulang belakang berlumuran darah dan mengering bersama pakaian kumalnya. Hanya cairan beras kencur dan ludah sebagai obatnya. Belum pulih benar, mereka dibawa lagi ke ruang interogasi. Demikian juga yang dialami Putu Oka Sukanta yang tegak dalam penyiksaan. Perih nan pedih.

Apa yang penting dari memoar Martin Aleida ini, setelah 8 bulan penahanannya, adalah kesaksiannya sebagai pesakitan politik awal Orde Baru. Sebab, begitu seseorang masuk dalam daftar pesakitan Orde Baru, maka selama 3 dekade rezim ini berkuasa seseorang tersebut berada dalam pantauan. Ia tidak benar-benar bebas setelah lepas dari balik tembok tahanan penjara. Ia bakal masuk ke dalam penjara yang lebih besar. Teman-temannya habis masuk ruang tahanan. Sekalipun ada, Nurlan harus menekan diri apakah dia memata-matai seseorang atau dimata-matai saat bersua teman lamannya, baik dari Kiri maupun Kanan. Situasi tidak menentu ini tidak dialami Nurlan saja, tetapi seluruh pesakitan politik Orde Baru. Untuk itulah, Nurlan berganti nama menjadi Martin Aleida selepas dari tahanan militer.

Apa yang mustahil dihindarkan bagi seorang Martin adalah keterpautannya dengan golongan Kiri (sebutan Martin sendiri) semenjak Gerakan 30 September 1965. Sebelumnya, Martin adalah jurnalis pilihan Nyoto. Dekat dengan Mula Naiboho, pimpinan Harian Rakjat. Mendapat tempat istimewa dalam pelbagai peliputan. Terakhir ia ditugaskan sebagai jurnalis Istana Merdeka sehingga ia akrab dengan Bung Karno. Di sini Martin tergambar sebagai sosok yang optimis, punya pijakan kuat, berada di lingkar kuasa pada saat itu.

Sebaliknya, selama dan setelah keluar penjara, Martin adalah pesakitan. Ia harus berhati-hati dengan identitas, kegiatan, tempat berada hingga pemenuhan isi perutnya. Ia harus tinggal di gubuk reyot di wilayah Tanjung Priok, di kawasan tambak ikan bandeng. Sebab hanya di situlah dia bisa memperoleh tumpangan secara terbuka, sekalipun tidak bisa lepas dari kewaspadaan. Setiap pagi ia harus mengaduk lumpur tambak agar ikan bandeng dapat makanan. Setiap hari pula ia memilah kertas yang akan dijual ke Pasar Pagi di kota sekadar tambahan beli kecap atau gula.

Dalam kondisi terpuruk ini Martin memutuskan menikah dengan Sri Sulasmi, gadis Solo, yang pernah menjalani penjara di Jakarta lantaran terlibat dengan golongan Kiri. Sri Sulasmi anak pimpinan lokal BTI pedesaan di Solo yang dibunuh militer yang merajalela waktu itu. Dari sini posisi pilihan hidup Martin jelas.

Dorongan Kata-Kata

Barangkali jika bukan Martin, ia akan terima semua itu dan tak akan berpikir lagi kembali ke dunia lamanya, yaitu penulisan. Begitu pula ketika ia menjadi penjaga toko suvenir milik temannya di Pasar Jembatan Merah, dekat Manggarai. Tinggal duduk-duduk belaka di dapat uang harian sekaligus gaji. Lantaran dorongan kata-kata --dalam istilah Martin-- ia tinggalkan pekerjaan mudah tanpa risiko. Ia ingin sekali kembali menjadi jurnalis.

Memang, tidak selalu mulus. Pertama, sebagai jurnalis di Majalah Ekspres, kedua sebagai jurnalis Tempo. Di majalah pertama gagal, dan pada yang kedua Martin menemukan dunianya kembali. Harus dikatakan dengan banyak terima kasih bahwa Goenawan Mohammad yang memberi pintu bagi Martin.

Dorongan kata-kata ini begitu kuat sebab selain faktor kepribadian Martin yang fokus pada suatu hal, riwayatnya ke Jawa pada 1962 adalah keinginannya untuk berkarya dalam kata-kata, terlebih kata-kata itu berguna untuk rakyat. Pertama ia masuk ke Akademi Sastra Multatuli pimpinan Pramoedya Ananta Toer, lalu menjadi redaktur Majalah Zaman Baru dan wartawan di Harian Rakjat.

Kembalinya Martin ke arena jurnalisme di Tempo berarti kembalinya cita-cita Martin. Bedanya, di Tempo ideologinya bukan pembelaan rakyat ala Harian Rakjat yang dekat dengan PKI, tetapi profesionalisme jurnalistik. Juga Martin tidak berkiprah di desk politik, tetapi di desk kesehatan dan olahraga sehingga ia selamat ketika diinterogasi dan hendak dimanfaatkan militer sebagai mata-mata terkait kegiatan Petisi 50 di Jakarta. Rupanya Martin selalu waspada akan intaian aparat militer Orde Baru. Hanya saja, setelah itu, ia harus wajib lapor seminggu ke militer begitu diketahui bekerja di Majalah Tempo..

Martin bisa terbuka dan tanpa beban mengenai siapa dirinya ketika rezim Orde Baru rubuh pada 1998. Kepribadian Martin menjadi ceria dan optimismenya menjadi berkali-lipat. Sikap terbuka ini dirayakan Martin dengan menerbitkan novel dan kumpulan cerpen, baik penerbit mayor maupun indie. Karyanya, antara lain kumpulan cerpen Malam Kelabu, Ilyana, dan Aku (1998), Leontin Dewangga (2003), Mati Baik-Baik Kawan (2009) dan novel Jamangilak Tak Pernah Menangis. Puncaknya, sikap terbuka berupa pengakuan siapa sejatinya Martin Aleida tampak dalam buku memoar Romantisme Tahun Kekerasan ini.

Aroma intimidasi terasa pekat di sekujur memoar, terutama pada bagian penangkapan, pemenjaraan, dan semua yang terkait dengan militer. Ia sering menggunakan kalimat panjang, dipenuhi anak-anak kalimat dalam memoar ini. Taktik ini rupanya untuk mengurangi kata sifat. Dengan mendeskripsikan suasana hingga detail akan diperoleh situasi yang ingin dicapai tanpa harus menggunakan banyak kata sifat. Sebab kata sifat yang berhamburan hanya bisa menandai suasana dalam peristiwa tertentu, tetapi kosong pengalaman bagi pembaca. Kita bisa baca ini pada adegan penangkapan Martin dan kawan-kawannya.

Sayang, kadang terganggu oleh salah ketik di sana-sini sehingga mengganggu jalannya pembacaan. Sebuah kesalahan yang Martin sendiri sering tidak ia tolerir selaku penulis. Di atas semuanya, Martin orang yang cerdik, selain tentunya pantang menyerah. Tidak semua orang Kiri akan memperoleh pencapaian seperti Martin, apalagi ribuan yang mati dibantai militer bersama ormas sebelum sempat bertanya kenapa mereka harus mati. Ia mampu bersiasat dengan stigma sosial yang dibangun Orde Baru.

Dengan pertimbangan matang dan penuh perhitungan Martin dapat meniti gelombang sosial-politik yang berombak. Tak bisa dipungkiri, Martinlah yang kemudian dikenal dalam sejarah sastra maupun politik budaya di Indonesia terkait kekejaman Orde Baru. Itu hak Martin, sebagaimana pula ia berhak dikenang sebagai apa dirinya melalui perkataan ulama sekaligus penyair Zawawi Imron dalam penutup memoar ini, "...Dia Lekra, komunis, tapi religius."

Imam Muhtarom dosen Universitas Singaperbangsa Karawang dan kurator Borobudur Writers & Cultural Festival

(mmu/mmu)