Pustaka

Memikirkan Kepunahan

Setyaningsih - detikNews
Sabtu, 16 Mei 2020 12:39 WIB
kepunahan
Jakarta -

Judul Buku: Kepunahan Keenam: Sebuah Sejarah Tak Alami; Penulis: Elizabeth Kolbert; Penerjemah: Zia Anshor; Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2020; Tebal: 297 halaman

Di tengah musibah pandemi Covid-19, Bupati Subang mengeluarkan edaran salah satunya mengimbau masyarakat membasmi kelelawar di sekitar. Kelelawar dianggap berperan menciptakan virus baru. Dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB Joko Pamungkas membabarkan, meski kelelawar berpotensi membawa virus berbahaya, bukan berarti harus dimusnahkan. Ada beberapa dampak jauh lebih membahayakan. Misalnya karena infeksi virus Nipah di Malaysia, kelelawar buah diburu dan terpaksa bermigrasi ke wilayah baru. Sebaran kelelawar justru meluas ke Semenanjung Malaysia dan jelas terjadi perubahan keragaman hutan.

Selain itu jika kelelawar pemakan serangga dimusnahkan, populasi serangga pembawa agen penyakit dipastikan meningkat. Bukan dengan kesadaran ekologis, tapi ketakutan sering sangat egoistik dari ras manusia; memusnahkan demi keamanan diri.

Sejak memasuki Kala Antroposen, istilah ciptaan Paul Crutzen-ahli kimia Belanda dan peraih Nobel atas penemuan efek senyawa yang melubangi ozon, terjadi perubahan atau bisa dikatakan bencana besar dalam sejarah planet. Diperkirakan terjadi sejak Revolusi Industri, Antroposen mengajukan ciri "dunia berubah dalam cara-cara yang mendorong spesies bergerak, dan dengan cara-cara lain yang membentuk rintangan terhadap pergerakan spesies-jalan, penggundulan, dan kota."

Setelah manusia selalu terpukau dengan asal-usulnya dan sebaran-capaian fantastis seantero dunia serta jagat di luar Bumi, Elizabeth Kolbert memastikan perlu memikirkan kepunahan lewat buku Kepunahan Keenam: Sebuah Sejarah Tak Alami (2020), suka atau tidak suka!

Kepunahan keenam yang jauh lebih mencolok sejak tabrakan asteroid yang menyebabkan kepunahan dinosaurus dan mega-fauna lainnya, mencatat bertahap penurunan keragaman, kelangkaan, dan akhirnya benar-benar kehilangan. Faktor alam tentu ada, tapi kontribusi manusia tampak lebih jelas. Di buku ini, Kolbert membabarkan kepunahan dari spesies kecil sampai mega-fauna, di antaranya katak emas Panama, tetumbuhan, karang, amonit, mastodon Amerika, badak Sumatra, bahkan manusia Neanderthal yang hampir sekelas manusia modern.

Menariknya buku ini bukan saja menyajikan pelanglangan imajiner pada gairah ilmuwan masa lalu sampai lebih mutakhir. Ada penghadiran diri penulis di suaka penelitian ekologis yang sedang atau setidaknya menunda kepunahan benar-benar terjadi oleh maha-perubahan bentang alam. Kita bisa sejenak merenung apakah masih ada burung emprit berkicau, bekicot melenggang lambat, atau keragaman semut di sekitar kita.

Kolbert mengatakan, "Saya memilih pergi ke tempat-tempat itu karena alasan jurnalistik yang biasa-karena ada stasiun penelitian di sana atau karena seseorang mengundang saya ikut ekspedisinya. Saking luasnya perubahan yang sekarang terjadi, saya bisa saja pergi ke sembarang tempat, dan dengan bimbingan yang tepat, saya dapat menemukan tanda-tandanya. Satu bab membahas kematian massal yang terjadi di halaman belakang saya sendiri (dan mungkin di halaman belakang Anda juga)."

Saling Menopang

Di kepulauan Amazon, Kolbert mendatangi Biological Dynamic of Forest Fragments Project (BDFFP) yang menjadi wilayah suaka hasil kolaborasi antara peternak sapi dan pegiat konservasi. Pada 1970-an, pemerintah Brazil menjalankan program pembabatan hutan bersubsidi agar para peternak sapi mau pindah ke Manaus utara. Nekatnya, ahli biologi Amerika Tom Lovejoy berhasil membujuk orang-orang Brasil membiarkan separuh wilayah untuk percobaan ekologi raksasa untuk mempelajari kawasan tropis (dunia).

Di sini, Kolbert bertemu dengan ornitolog atau ahli burung Amerika bernama Mario Cohn-Half yang menunjukkan keragaman hayati, pertahanan spesies, keberadaan saling menopang keseimbangan. Ketika hutan dibabat, jumlah spesies burung memang naik di tahun pertama karena migrasi burung ke wilayah masih berpohon, tapi "jumlah burung dan keragaman burung di fragmen hutan mulai jatuh. Kemudian terus jatuh."

Degradasi keragaman pun terus terjadi dan berlaku untuk kelompok lain. Sering yang terancam adalah makhluk-makhluk kecil jenis serangga, semut, atau avertebrata yang menopang stabilitas kehidupan.

Kepunahan jelas tidak hanya terjadi di darat. Kolbert bertemu Neil Landman, ahli paleontologi spesialis hewan kecil bercangkang bernama amonit. Belum pasti apa yang menghabisi amonit meski diperkirakan pada saat terjadi tabrakan asteroid, amonit tidak bisa bertahan karena kondisi permukaan laut amat beracun. Sebaliknya, masalah hari ini adalah pengasaman karena manusia terus menambah karbondioksida ke laut sama seperti melubangi ozon. Hal ini mengganggu metabolisme, kegiatan enzim, dan fungsi protein kehidupan di laut. Termasuk berimbas pada karang yang menopang kehidupan banyak spesies air dan menahan ombak atau badai.

Antroposen barangkali memang menakdirkan manusia berada di puncak, jauh di atas amonit, burung, pohon, apalagi semut. Namun, sejak keluarnya manusia modern awal dari Afrika untuk menyebar ke dunia sekitar 13 ribu tahun lalu, tidak hanya memusnahkan mega-fauna seperti mastodon atau mamot. Tulang manusia Neanderthal yang ditemukan di Lembah Neander pada 1856, kepunahannya juga bersamaan dengan kedatangan manusia modern di Eropa.

Kolbert menulis, "Manusia Neanderthal hidup di Eropa selama setidaknya seratus ribu tahun. Sebagian besar masa itu beriklim dingin, kadang sangat dingin, dengan lapisan es menutupi Skandinavia. Dipercaya, walau tak diketahui pasti, bahwa untuk melindungi diri, manusia Neanderthal membangun tempat bernaung dan membuat semacam pakaian. Kemudian, kira-kira tiga puluh ribu tahun lalu, manusia Neanderthal lenyap."

Manusia modern teranggap sebagai dominasi. Svante Pääbo, pelopor penelitian DNA kuno, begitu penasaran mengerjakan proyek membaca genom manusia Neanderthal. Genom manusia modern dan Neanderthal sangat mirip. Bisa jadi, keduanya memang berkerabat meski manusia modern unggul karena berhasil membentuk masyarakat besar, menyebar ke seantero dunia, dan tidak keberatan memusnahkan "kerabat terdekatnya."

Geolog muda Charlel Lyell atau pemikir evolusi Charles Darwin, peletak studi saintifik kehidupan di Bumi, mengatakan bahwa hilangnya suatu organisme terjadi perlahan dan berangsur-angsur. Kepunahan barangkali keniscayaan, tapi ras manusia memiliki pilihan menunda atau mempercepat yang keenam setelah lima kepunahan selama setengah miliar tahun terakhir.

Kolbert mengatakan, "...meski sudah membebaskan diri dari batas-batas evolusi, manusia tetap saja bergantung kepada sistem biologis dan geokimia Bumi. Dengan mengganggu sistem-sistem itu-membabat hutan hujan tropis, mengubah komposisi atmosfer, mengasamkan laut, kita membahayakan kelangsungan hidup kita sendiri... Ketika peristiwa kepunahan massal terjadi, yang lemah dan yang kuat sama-sama musnah."

Kepintaran atau mungkin keangkuhan manusia ada saatnya tidak bisa menampik hal itu.

Dalam kisah kejadian manusia-manusia awal, kita sangat yakin betapa berharga nyawa manusia meski terlalu mahal dan mudah menyingkirkan spesies lain. Bahkan di tengah wabah Covid-19 saat ini, kita masih bisa pelan-pelan belajar bahwa Bumi bukan hanya tempat bagi manusia, dan bahwa "pada akhirnya nasib manusia bukanlah yang paling layak diperhatikan."

(mmu/mmu)