Kolom

"Ngaji Online" yang Mengubah Tren

Mukti Ali Qusyairi - detikNews
Jumat, 15 Mei 2020 13:00 WIB
Imam Ustaz H Deden M Ramadhan menyiarkan acara tadarus Al-Quran secara dalam jaringan di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta, Senin (27/4/2020). Sekretaris Dewan Pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa Ismed Hasan Putro menyebut kegiatan ibadah di lingkungan masjid selama bulan suci ramadhan ditiadakan namun tetap menyiarkan tadarus secara daring guna mencegah penyebaran virus Corona (COVID-19). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.
Tadarus online di Masjid Sunda Kelapa Jakarta (Foto: Dhemas Reviyanto/Antara)
Jakarta -

Bulan Ramadhan biasanya para kiai/ustaz mengisinya dengan pengajian kitab kuning. Pengajian yang biasanya dilaksanakan di pesantren atau kediaman kiai/ustaz yang dihadiri oleh para santri dengan bertemu secara langsung (offline), kini karena adanya pandemi corona diadakan secara daring (online). Sebagian kiai/ustaz memilih pengajiannya disampaikan melalui live streaming Facebook. Sebagian memilih menggunakan Youtube. Sebagian yang lain menggunakan Instagram. Sebagian yang lain menggunakan program Zoom.

Pengajian offline dan online memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelebihan pengajian offline, para santri bisa bersilaturahim dan mengaji secara langsung kepada kiai. Sedangkan kelebihan pengajian online, yaitu pengajian yang disampaikan kiai tersimpan dengan baik di media sosial (medsos) yang digunakannya. Sehingga bagi para santri yang tertinggal dalam pengajian bisa menyimaknya pada waktu yang lain. Jika ada materi atau penjelasan yang belum disimaknya, bisa disimak pada kemudian hari.

Pengajian online bisa melintasi atau tak terikat ruang dan waktu, dapat dijangkau oleh seluruh audiens paling jauh sekalipun dengan syarat ada kuota untuk akses internet.

Ragam Pengajian

Cukup mengasyikkan menyimak ruang publik medsos pada Ramadhan tahun ini. Ruang medsos diisi dengan pengajian yang cukup beragam, warna-warni, dan kaya. Ibarat makanan, setiap orang bisa memilih menu dan jenis makanan yang sesuai dengan selera masing-masing. Bahkan, masing-masing bisa menikmati seluruh ragam makanan itu secara mencicilnya pada waktu yang berbeda.

Sepengamatan saya, setidaknya ada dua hal dalam pengajian di medsos, yaitu soal basis pengajian dan metodologi atau caranya. Basis pengajian terbagi lagi menjadi dua, yaitu berbasis pengajian teks kitab kuning karya ulama salaf as-shaleh atau ulama modern yang diakui (mu'tabarah) dan pengajian yang berbasis tema (kajian tematik).

Cukup beragam dan kaya metodologi atau cara menyajikan pengajian kitab kuning karya ulama salaf as-shaleh atau karya-karya ulama modern yang diakui oleh mayoritas umat Islam di Indonesia. Pertama, dari kalangan ulama pesantren salaf-tradisional Nahdhiyyin dengan membacakan kata per kata dengan dijelaskan arti/makna kata dan tarkib-nya (status kata dari segi gramatika Arab/nahwu-sharaf). Ini dikenal dengan istilah makna berbaris. Tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Murni memaknai kata per kata yang ada di dalam kitab. Sehingga biasa dikatakan oleh para santri sebagai "ngaji pasaran" dengan niat shopping makna dan tabarukan.

Kalangan para kiai di Jawa menggunakan utawi-iki-iku dan makna berbahasa Jawa. Seperti pada tahun ini, guru kami Romo KH. Anwar Mashur, pengasuh pesantren Lirboyo, Kediri mengampu kitab al-Adzkar al-Nawawi dengan menggunakan makna gandul utawi-iki-iku yang disiarkan melalui Youtube Pondok Pesantren Lirboyo, dan banyak lagi para kiai yang lain yang ada di Pondok Pesantren Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan para kiai alumnus pesantren Jawa; para ajengan di wilayah Sunda menggunakan makna berbaris Bahasa Sunda; para kiai di wilayah DKI Jakarta dan daerah yang berbahasa Melayu menggunakan makna berbaris bahasa Indonesia/ Melayu; dan ulama di berbagai wilayah di seluruh Indonesia dengan menggunakan makna berbaris dengan bahasa lokal masing-masing.

Kedua, pengajian kitab dengan menggunakan makna berbaris berbahasa Jawa dan menggunakan sistem utawi-iki-iku sebagaimana tipe pertama, lalu dijelaskan di setiap paragraf dengan menggunakan bahasa Indonesia. Penyajian semacam ini sebetulnya khas pesantren-pesantren Jawa yang menerapkan sistem musyawarah kitab, seperti Lirboyo, Ploso, dan yang lainnya. Ada beberapa kiai yang menggunakan gaya ini, seperti KH. Fakhru Razi (Malang), KH. Adibuddin Qusyairi (Madura), KH. Jamaluddin Muhammad (Cirebon), KH. Abdul Muiz Saerozi, dan yang lainnya.

Ketiga, pengajian kitab dengan menggunakan makna berbaris sebagaimana tipe yang pertama bukan dengan bahasa Jawa, tetapi dengan menggunakan bahasa Indonesia, lalu dijelaskan lebih lanjut makna yang dimaksud di dalam teks, dan diberi penjelasan yang terkait dengan tema yang bertujuan memperluas dan memperdalam wacana yang dibicarakan di dalam kitab dengan pendekatan inter-teks atau kajian teks-konteks. Tipe ini digunakan oleh KH Ulil Abshar Abdallah dalam mengampu kitab Ihya Ulumuddin dan al-Munqidl min al-Dzhalal melalui live streaming Facebook Ulil Abshar Abdalla.

Dan, saya sendiri dalam mengampu pengajian kitab Adab ad-Dunya wa ad-Din, kitab 'Idzhat an-Nasyiin, dan kitab Waraqat melalui live streaming Facebook Mukti Ali Qusyairi, serta baru-baru ini 7 Mei 2020 KH. Abdul Moqsith Ghazali dalam mengampu kitab Fath al-Mu'in.

Keempat, pengajian kitab dengan memberi makna/arti di setiap paragraf berbahasa Indonesia, dan memberikan penjelasan lebih lanjut dalam upaya memperluas wacana yang terdapat di dalam teks. Tipe ini digunakan oleh KH. Said Aqil Siradj, Ketum PBNU dalam mengampu kitab Burdah dan Nashaih al-'Ibad yang disiarkan di live Facebook 164 Channel dan Youtube, KH. Abdul Moqsith Ghazali dalam mengampu kitab Tafsir al-Washith karya Sayyid Muhammad Tanthawi, dan Mualim Asnawi Ridwan dalam mengampu kitab Tafsir Murah Labidz karya Syekh Nawawi al-Bantaniy melalui live streaming Facebook Ansawi Sonodikromo.

Kelima, pengajian kitab dengan menggunakan makna dan penjelasan lebih lanjut berbahasa asing. Sehingga, audiensnya bukan hanya orang Indonesia, tetapi juga orang asing pun dapat menyimaknya. Sebagaimana KH. Muhammad Aunul Abied Shah dalam mengampu kitab Taqrib al-Maram fi Syarhi Tahdzhib al-Kalam, sebuah kitab ilmu kalam (teologi) al-Asy'ariyah disampaikan dengan menggunakan bahasa Arab melalui live streaming Facebook Mohd Aoun. saya melihatnya bahwa yang menyimak bukan hanya audiens Indonesia, tetapi juga audiens Timur Tengah.

Juga ada yang menjelaskan dengan menggunakan Bahasa Inggris, sebagaimana Gus Muhyidin Basroni dalam mengampu kitab Risalah Ahlissunnah Waljamaah karya Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari live streaming Facebook-nya.

Selain pengajian kitab, ada lagi pengajian yang berbasis kajian tematik, tetapi dalam penjelasannya berbasis teks kitab. Sebagaimana KH. Oman Fathurahman yang mengkaji tema tertentu berbasis teks manuskrip/makhthuthath melalui lives treaming Facebook Oman Fathuraman, lalu diunggah di Youtube. Beliau adalah pakar manuskrip garda depan Indonesia. Seperti membahas tema Tha'un dan Waba dalam Manuskrip Arab dan Nusantara, dan Keseimbangan Teologi al-Asy'ari.

Sedangkan saya sendiri pun ambil bagian dalam kajian tematik, khususnya dalam merespons persoalan corona dalam perspektif Islam, yang berbasis kitab kuning. Sekurangnya saya mengangkat tiga tema, yaitu Ikhtiar dan Doa dalam Menyikapi Corona, Jumatan di Masa Darurat Corona, dan Apakah Takut kepada Corona Berakibat Rusaknya Keimanan Seseorang? Ketiga tema ini, saya menjelaskan dengan mengutip berbagai penjelasan yang ada di kitab kuning.

Beberapa tokoh yang disebutkan di sini hanya sebagian kecil saja. Sebab, sejatinya masih ada banyak lagi para kiai/ustaz yang mengampu kitab melalui medsos, mencapai ratusan bahkan ribuan.

Mengubah Tren

Saya mengamati bahwa konten yang banyak digandrungi oleh para pengguna medsos adalah konten ringan dan ngepop, disampaikan melalui ceramah singkat yang berdurasi 3-10 menit. Kalau boleh dikatakan, ceramah singkat ibarat makanan ringan, snack, yang mudah dikunyah, tetapi tidak mengenyangkan.

Saat ini, para pengguna medsos ditantang untuk menikmati menu lain, yakni menu yang lebih berat. Boleh dibilang seperti makanan berat, berupa ngaji kitab dan kajian yang lebih serius, fokus, dan bernas.

Jika pengguna medsos sungguh-sungguh berminat menambah wawasan keislaman, tentunya tidak akan merasa puas dengan menyimak ceramah singkat. Bahkan akan terus mengulik, memperluas, dan memperdalam wawasannya dengan cara menyimak pengajian berbasis kitab dan kajian yang lebih serius. Sebab pelajar yang sejati tidak akan merasa puas, lantaran snack sampai kapan pun tidak mengenyangkan, dan mesti naik kelas dari penyimak ceramah singkat ke kajian yang bernas dan lebih serius.

Mukti Ali Qusyairi Ketua LBM PWNU DKI Jakarta, pegiat ngaji online

(mmu/mmu)