Kolom

Jurus Trump Menangkan Pemilu Lewat China

Putu Nara - detikNews
Kamis, 14 Mei 2020 13:00 WIB
U.S. President Donald Trump takes part in a welcoming ceremony with Chinas President Xi Jinping in Beijing, China, November 9, 2017. REUTERS/Damir Sagolj
Presidan AS Donald Trump di China (Foto: Damir Sagolj/Reuters)
Jakarta -
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhir-akhir ini menuai kontroversi akibat perilakunya menyalahkan China atas wabah Covid-19 di dunia. Ia melemparkan berbagai tuduhan keras kepada Cina yang dianggap sebagai biang kerok atas meledaknya pandemik virus tersebut.

Di sisi lain, manuver-manuver politik Trump atas China bukan sesuatu yang kebetulan terjadi. Semuanya hadir di saat elektabilitas Trump semakin tergerus menjelang Pemilu AS yang akan diselenggarakan pada 3 November mendatang.

Kita dapat melihat serangan-serangan verbal dari Trump kepada China sebagai bagian dari upayanya untuk mengerek popularitasnya kembali. Dengan masa kampanye yang tersisa kurang dari tujuh bulan, Trump harus memanfaatkan semua kesempatan tersedia baginya, baik pada isu dalam negeri maupun luar negeri.

Beberapa data dari lembaga survei politik terkemuka di AS menunjukkan tren negatif dalam elektabilitas Trump. YouGov mencatat bahwa elektabilitas Donald Trump per 5 Mei 2020 berada di angka 42%, sedangkan Joe Biden --penantang dari partai Demokrat-- berada di angka 46%. Sebagai catatan, responden dari survei ini terdiri dari 1.019 pemilih yang tercatat (registered voters). Artinya, mereka sudah mendaftar untuk mengikuti pemilu pada 3 November mendatang. Sistem pemilu di AS mewajibkan para calon pemilih untuk mendaftar terlebih dahulu untuk mendapatkan hak memilih.

Sementara itu, Ipsos mencatat elektabilitas Trump bertengger di angka 38% sementara Biden sukses meraup 39% per 5 Mei 2020. Berbeda dengan YouGov, responden Ipsos merupakan orang-orang dewasa (adults) yang belum pasti memilih, tetapi memiliki hak untuk itu.

Jika data ini dilengkapi dengan tingkat penerimaan publik (approval) atas presiden, tren yang sama akan terulang. Menurut hasil survei Global Strategy Group/Navigator Research dalam kurun waktu 1- 6 Mei 2020, tingkat penerimaan Trump hanya menyentuh angka 44%. Di sisi lain, survei ini menunjukkan terdapat 56% responden yang menolak pemerintahan Trump. Patut diperhatikan bahwa responden dari survei ini adalah para registered voters.

Rendahnya elektabilitas Trump sangat terkait dengan kinerjanya saat menangani penyebaran Covid-19. Trump dianggap gagal untuk menekan laju penyebaran Covid-19 di AS hingga menyebabkan negara ini menjadi negara dengan penderita terbesar. AS pun sempat mengalami kelangkaan masker, APD, dan ventilator yang cukup akut. Belum lagi serangkaian konfliknya dengan para gubernur negara bagian yang tidak sepemahaman dengan kengototan Trump untuk membuka karantina di tengah-tengah ledakan angka kasus positif. Puncaknya, Trump mencoreng mukanya sendiri saat menyuruh para penderita Covid-19 supaya disuntik dengan desinfektan.

Belum cukup dengan deretan drama tersebut, Trump juga dihadapkan pada ancaman yang lebih nyata yaitu resesi ekonomi. Saat ini, AS telah mencatatkan rekor utang terbesar sepanjang sejarah yaitu mencapai 24 triliun dolar. Dari sisi GDP, situasi ini tampak lebih buruk lagi. GDP Amerika Serikat mengalami kontraksi hingga ke angka minus 4,8% --terburuk sejak Krisis Ekonomi Global 2008.

Masyarakat AS sendiri mulai bersikap pesimistis atas perkembangan ekonomi negaranya. Menilik dari survei besutan Pew Research, 17% warga khawatir bahwa negaranya akan mengalami depresi ekonomi. Sementara itu, sebanyak 48% percaya bahwa AS akan jatuh ke dalam resesi dan 34% lainnya menganggap AS 'hanya' akan mengalami perlambatan ekonomi (economic slowdown).

Lantas, dengan berbagai himpitan persoalan di dalam negeri tersebut, dapatkah Trump lolos dari lubang jarum kekalahan dalam Pemilu AS November mendatang?

Membalikkan Prediksi


Trump memiliki cukup pengalaman dalam membalikkan prediksi banyak orang. Hal ini ditunjukkannya ketika sukses menyalip Hillary Clinton pada Pemilu 2016. Padahal, banyak pihak serta lembaga survei yang lebih menjagokan mantan Menteri Luar Negeri pada era Obama tersebut. Banyak pihak yang menganggap Hillary lebih memiliki kualitas seorang pemimpin dibandingkan Trump yang kontroversial.

Lalu, apakah kunci keberhasilan Trump saat itu? Salah satunya terletak pada kelihaiannya dalam menggunakan isu-isu internasional sebagai sarana menarik simpati publik. Singkatnya, Trump sangat lihai menyalahkan negara-negara lain atas masalah yang dialami oleh AS. Negara-negara seperti Meksiko, Korea Utara, Rusia, bahkan Uni Eropa sekalipun pernah dituding menjadi biang kerok masalah-masalah dalam negeri AS.

Salah satu negara target 'favorit' bagi Trump di masa kampanyenya adalah China. Pada 2016, ia pernah mencuit di Twitter bahwa China selama ini telah "memperkosa" ekonomi AS lewat produk-produk dan kebijakan dagangnya. Setelah terpilih menjadi presiden, kegemaran menyalahkan China pun berlanjut. Daftar kesalahan China yang ditimpakan oleh Trump berkisar dari tuduhan terhadap Huawei sebagai mitra Iran dalam mencuri informasi AS, berkobarnya Perang Dagang, hingga sebutan "virus Wuhan" untuk Covid-19.

Apa yang dilakukan oleh Trump terhadap China merupakan bagian dari strategi rally around the flag. Dalam strategi ini, popularitas seorang pemimpin di dalam negeri akan meroket jika ia sanggup menciptakan musuh bersama bagi negara. Selanjutnya, masyarakat akan bersatu untuk mendukung sang pemimpin dalam mengalahkan musuh tersebut.

Strategi ini bergantung kepada kemampuan seorang pemimpin dalam membangkitkan sentimen nasionalisme serta patriotisme di kalangan rakyatnya. Dalam praktiknya, pemimpin akan melakukan dramatisasi atas sebuah isu di dunia internasional yang dianggap mengancam negaranya. Kemudian, ia akan memperlihatkan dirinya sebagai pemimpin yang tepat untuk melawan ancaman tersebut.

Dramatisasi situasi dan bangunan narasi ketakutan merupakan keahlian Trump sebagai seorang pemimpin yang populis. Saat ini, ia tengah gencar menempatkan China sebagai musuh bersama bagi masyarakat AS. Hal ini tampak dari pernyataan-pernyataan Trump di media. Dikutip dari CNN, Trump menegaskan bahwa Covid-19 merupakan serangan terbesar kepada AS setelah Peristiwa 911 dan Pearl Harbor. Covid-19, menurut Trump, adalah sebuah peperangan di mana musuhnya tidak kasat mata. Tidak lupa, Trump juga menyalahkan China karena tidak mampu mencegah 'musuh tak kasat mata' tersebut menyerang AS.

China sendiri merupakan sasaran yang paling empuk untuk memancing kemarahan warga AS. Survei yang dilakukan oleh Pew Research pada Maret 2020 mencatat bahwa terdapat 66% warga AS yang memiliki kesan negatif terhadap China. Sementara itu, mereka yang bersikap sebaliknya hanya menyentuh angka 26%. Sebagian besar perspektif negatif ini muncul akibat penyebaran Covid-19 yang dianggap merupakan kesalahan China.

Selain sengaja mengipasi kebencian publik terhadap China, Trump juga rajin menuduh bahwa China tidak akan mau dirinya terpilih kembali. China disebut-sebut akan ikut campur terhadap Pemilu AS demi mencegah Trump naik menjadi presiden.

Joe Biden tidak luput dari serangan Trump. Ia bahkan menuduh rivalnya ini sebagai antek-antek China dengan menyebutnya sebagai "Beijing Biden". Dalam email kepada para pendukungnya, Trump menegaskan, "Saya selalu TEGAS TERHADAP CHINA, sedangkan 'Sleepy' Joe Biden SANGAT LEMAH TERHADAP CHINA". Biden, menurut Trump, adalah pengkhianat yang siap menusuk rakyat AS dari belakang.

Dengan strategi rally around the flag ini, Trump bagaikan membunuh dua burung dengan satu lemparan batu. Pertama, ia bisa menaikkan dukungan publik lewat sikap kerasnya terhadap China. Kedua, ia sekaligus menggerus popularitas Joe Biden yang semakin menguat.

Kita masih akan melihat serangkaian kata-kata pedas yang diumbar oleh Trump kepada Cina setidaknya hingga Pemilu AS usai. Namun, apakah ini berarti bahwa Trump memang membenci China sebesar itu? Tentu saja tidak. Trump hanya butuh China. Kelak, China akan menjadi kartu truf Trump dalam memenangkan persaingannya dengan Joe Biden.

(mmu/mmu)