Kolom

Momentum Perbaikan Keperawatan di Indonesia

Ari Putra Utama - detikNews
Rabu, 13 Mei 2020 17:00 WIB
Banyaknya pasien yang terinfeksi COVID-19, tak jarang tenaga kesehatan memiliki perasaan was-was saat bertugas. Apalagi perasaan duka dan was-was juga menimpa tim medis RS Griya Husada di kota Madiun.
Perawat RS Griya Husada Madiun, Jawa Timur (Foto: Istimewa)
Jakarta -
Di Indonesia, perayaan Hari Perawat Internasional (12 Mei) tahun ini diselenggarakan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dengan menyelenggarakan webinar interaktif dengan menyajikan sejumlah topik yang berkaitan dengan keperawatan. Hal yang sama dilakukan oleh Fakultas Imu Keperawatan Universitas Indonesia dengan mengusung tema Refleksi dan Proyeksi Perawat di Masa yang Akan Datang: Pembelajaran Pandemi Covid-19.

Saya mendapati satu pesan menarik yang perlu bersama kita cermati dan pahami, yakni adanya keinginan dari para perawat untuk lepas dari stigma negatif dan kesalahpahaman masyarakat terhadap mereka.

Sebelum pandemi Covid-19 meluas, perawat di Indonesia memang dipandang selalu berada di garis belakang permainan, cenderung minim perhatian dari publik maupun pemerintah, dan acapkali mendapat stigma negatif maupun kesalahpahaman terkait profesi mereka. Beberapa contoh stigma yang sering terdengar di lingkungan masyarakat kita ialah ungkapan-ungkapan yang menomorduakan posisi perawat ketimbang profesi lain, semisal dokter; berpikir bahwa perawat adalah asisten dokter, merendahkan kemampuan dan kompetensi mereka sebagai tenaga kesehatan, sekaligus dipandang hanya mengerjakan tugas-tugas sederhana dalam bidang kesehatan, dan sebagainya.

Semua hal di atas tentu dibantah oleh perawat, dan kita sebagai masyarakat awam perlu menghapuskan stigma-stigma serupa.

Kehadiran pandemi Covid-19 memang telah menyebabkan serangkaian tantangan dan pekerjaan berat bagi para perawat. Mereka pun berada pada posisi yang sangat rentan untuk terpapar virus berbahaya ini karena intensitas kontak mereka yang sangat tinggi dengan pasien terjangkit. Namun, di sisi lain, ada satu dampak positif atau hikmah yang mungkin bisa diambil, yakni profesi perawat telah mendapat perhatian luas dari publik maupun pemerintah. Setidaknya, ini tergambar dari banyaknya komentar positif dan ucapan terima kasih yang diucapkan oleh masyarakat di tengah situasi pandemi kepada para perawat.

Di samping itu, pemerintah pun telah sedikit memberi perhatian pada perawat, semisal ucapan Hari Perawat Nasional dan janji pemberian insentif bagi perawat yang menangani Covid-19 dari Presiden Joko Widodo. Semua pihak saat ini telah mengakui bahwa perawat adalah profesi penting dalam sebuah sistem pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berkelanjutan. Hal ini cukup baik untuk membuka ruang bagi perawat membenahi stigma-stigma negatif yang biasa mereka terima selama ini.

Namun, dalam konteks pembentukan dan peningkatan sistem kesehatan di Indonesia ke depannya, hanya memperbaiki stigma terhadap perawat saja tidaklah cukup. Banyak pekerjaan rumah bagi pemerintah dan tenaga keperawatan untuk segera diperbaiki guna membentuk sistem kesehatan yang kuat, berkualitas, dan berorientasi jangka panjang.

Berdasar data dari kementerian Kesehatan pada 2017, tercatat jumlah perawat mencapai 296.876 orang, sedangkan berdasar dalam terbaru dari BPS yang dihimpun oleh Databoks, jumlah perawat di Indonesia menyentuh angka 345.508 orang. Persebaran terbanyak terdapat di Pulau Jawa, yaitu 48.164 orang di Jawa Timur, 45.107 di Jawa Tengah, 35.747 di Jawa Barat, dan 26.950 di DKI Jakarta. Sementara, persebaran paling sedikit terdapat di Sulawesi Barat sebanyak 1550 orang, Kalimantan Utara sebanyak 1.587, dan Maluku Utara sebanyak 2.062.

Meskipun jumlah perawat tergolong cukup banyak dan mencapai sekitar 50% dari tenaga kesehatan yang ada di Indonesia, tetapi ternyata itu masih dianggap kurang. Merujuk pada data yang sama dari Kementerian Kesehatan, rasio perawat secara nasional di Indonesia hanya 113,4 per 100.000 penduduk pada 2016. Hal ini masih jauh dari target yang dicanangkan pemerintah yakni 180 per 100.000 penduduk.

Memang, angka soal rasio ini cenderung berbeda-beda di beberapa sumber, tetapi satu hal yang pasti, terdapat kekurangan jumlah tenaga perawat di banyak wilayah di Indonesia. Kondisi kekurangan tenaga perawat ini sebenarnya juga terjadi di seluruh dunia. Berdasar data WHO, ada kekurangan tenaga kesehatan global, khususnya perawat dan bidan, yang jumlahnya mewakili lebih dari 50% dari kekurangan tenaga kesehatan saat ini di dunia. Salah satu fakta menariknya, Afrika dan Asia Tenggara (termasuk Indonesia) adalah dua wilayah dengan tingkat kekurangan terbesar.

Namun, kondisi kekurangan tenaga keperawatan ini terasa janggal, ketika kita menyaksikan bahwa Indonesia telah menciptakan banyak sekolah keperawatan. Informasi dari Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendikbud menyebutkan bahwa ada 733 sekolah perawat yang terdiri atas --368 sekolah menyediakan pelatihan perawat kejuruan dan 385 memberikan pelatihan perawat profesional. Seharusnya, lulusan sekolah keperawatan di Indonesia mencapai puluhan hingga ratusan ribu perawat setiap tahunnya, sehingga mampu memenuhi setiap kekurangan yang ada di berbagai wilayah.

Namun, jika merujuk laporan World Bank pada 2014, memang disebut bahwa banyak perawat yang tidak terserap oleh rumah sakit ataupun puskesmas. Mereka tidak dapat memastikan alasannya, tetapi memberikan beberapa kemungkinan alasan, seperti masih rendahnya pengeluaran/belanja pemerintah untuk kesehatan sehingga mencegah mereka untuk merekrut banyak perawat, pengurangan/pembatasan jumlah perawat di rumah sakit swasta, dan pilihan pribadi dari perawat untuk tidak melanjutkan profesinya.

Permasalahan lain yang muncul ialah soal distribusi tenaga keperawatan. Sebagaimana yang terjadi pada kasus dokter dan guru, perawat juga memiliki kecenderungan untuk tinggal di kota-kota besar dan wilayah uban, sekaligus menghindari daerah pedesaan dan pinggiran.

Hal itu mungkin didasari atas beberapa alasan, seperti peluang pekerjaan lebih tersedia di kota-kota besar, pendapatan yang lebih baik, jaminan atas jenjang karir, serta fasilitas dan teknologi lebih memadai bagi perawat --hal yang mungkin sulit untuk didapatkan apabila mereka berada di wilayah pedesaan dan daerah terpencil. Jangankan bekerja di daerah terpencil, sudah bekerja di wilayah perkotaan saja masih sulit bagi mereka untuk mendapat penghidupan yang baik.

Penghasilan yang Layak

Perawat sering keluar dari pekerjaannya karena tidak mendapatkan penghasilan yang layak, atau bekerja di luar ekspektasi dan harapan mereka. Hal ini bisa terlihat dari satu studi yang ditulis Aryo Dewanto dan Viera Wardhani yang melakukan penelitian di rumah sakit swasta di kawasan Jawa Timur. Hasilnya menunjukkan bahwa ada beberapa alasan yang membuat perawat memilih keluar dari pekerjaannya, yakni alasan pribadi, tawaran pekerjaan dari rumah sakit atau organisasi lain, dan kondisi kerja yang tidak sesuai harapan.

Terkhusus alasan pribadi, biasanya ini berkaitan dengan perubahan besar dalam kehidupan, seperti pernikahan, memiliki anak, mengikuti program kehamilan dan sebagainya. Kondisi semacam ini umum terjadi di banyak rumah sakit ataupun puskesmas di Indonesia. Ini tentu merugikan bagi pelayanan kesehatan, ketika perawat yang sudah bekerja sekian tahun (biasanya kurang atau sama dengan tiga tahun) memilih untuk berhenti berkarir sebagai perawat.

Pergantian perawat yang terlalu sering akan gangguan layanan rumah sakit, praktik kepegawaian, proses manajerial, dan pendapatan rumah sakit (jika swasta). Jumlah perawat pun akan berkurang terus-menerus jika ini seringkali terjadi. Di sisi yang cukup parah dan ini sangat berkaitan dengan kebijakan sensitif gender, perawat akan merasakan dampak langsung dari kondisi kekurangan perawat, yakni jam kerja mereka yang berada di luar batas wajar.

Komnas Perempuan sangat mewanti-wanti hal itu, khususnya dalam masa pandemi Covid-19 seperti sekarang. Berdasar data, terdapat sekitar 71 persen perawat yang berjenis kelamin perempuan. Hal ini tentu perlu diperhatikan karena pekerja perempuan sangat rentan, ditambah intensitas dan tanggung jawab kerja mereka yang sangat tinggi, bekerja keras melampaui jam kerja wajar, terbatasnya jaminan sosial, bahkan berhadapan dengan kemungkinan kesulitan tempat tinggal karena stigma dari masyarakat, bahkan sampai ada kasus penolakan jenazah perawat.
Berbicara sedikit soal kesetaraan gender, masih banyak perawat perempuan yang menghadapi hambatan untuk meningkatkan peluang kepemimpinan dan kekuatan pengambilan keputusan. Meskipun perempuan mengambil porsi terbesar dari tenaga keperawatan di seluruh dunia, masih ada bias gender berupa dukungan yang lebih signifikan terhadap laki-laki untuk posisi promosi dan kepemimpinan.

Tantangan-tantangan tersebut bermuara pada keperawatan yang bersifat gender sebagai suatu profesi; dipandang sebagai "pekerjaan perempuan", dan yang berpusat pada penyediaan perawatan nilainya lebih rendah. Dalam hal ini, perawat perempuan lebih banyak berjibaku di garis depan menghadapi pasien, sedangkan perawat laki-laki memiliki kesempatan untuk mengambil peran lebih di bidang administrasi/jabatan strategis lain.

Situasi-situasi di atas tentu menggambarkan kekhawatiran kita atas kemampuan sistem kesehatan di Indonesia. Tantangan yang datang dari pandemi Covid-19, seharusnya membuka mata setiap pihak, khususnya pemangku kebijakan, untuk mempersiapkan perangkat, sumber daya, dan fasilitas kesehatan yang memadai untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga di masa depan. Sekaligus memastikan bahwa tercipta kesejahteraan dan keadilan gender bagi setiap tenaga kesehatan.

Salah satu sumber daya terpenting dan harus dipastikan keberadaan, kesejahteraan, dan kelayakan kerjanya ialah perawat. Perawat memainkan peran penting dalam promosi kesehatan, pencegahan penyakit dan memberikan perawatan primer pada masyarakat. Mereka memberikan perawatan dalam keadaan darurat dan akan menjadi kunci untuk pencapaian cakupan kesehatan universal. Pemerintah dan seluruh pihak yang terkait perlu untuk memperhatikan hal ini.

Terakhir, mari kita semua mengucapkan Selamat Hari Perawat Internasional 2020!

(mmu/mmu)