Kolom

Pandemi, Jaga Jarak, dan Filsafat Manusia

Fridz Embu - detikNews
Selasa, 12 Mei 2020 10:32 WIB
Virus corona dan jaga jarak berselang-seling: Mengapa dibicarakan sebagai kemungkinan untuk diterapkan hingga 2022?
Ilustrasi: BBC World
Jakarta -

Pertama kalinya dalam sejarah. Bersatu kita mati, bercerai kita selamat. Mungkin sebagian orang pernah mendengar, melihat, pun menyampaikan ungkapan meme ini sejak pandemi Covid-19 merebak di Indonesia. Pengungkapannya bisa dalam berbagai bentuk, entah omongan tetangga, keluarga, atau membacanya dalam posting-an media sosial sejumlah teman dan sebagainya.

Tanggapan terkait meme itu pun tentu beragam. Ada yang menanggapinya sebagai humor. Ada yang menilainya sebagai upaya mendefinisikan kenyataan Indonesia dan dunia akhir-akhir ini. Ada yang menerima lalu mengabaikan; informasi yang dibaca sambil lalu saja. Diterima, tapi tidak memberikan pengaruh. Tapi ada juga yang mangut-mangut, menanggapi dengan serius meme tersebut.

Tulisan ini datang dari orang yang menanggapi serius meme itu.

Sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus pertama Covid-19 pada 2 Maret lalu, perhatian publik disita oleh berbagai informasi yang berkaitan dengan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 itu. Sejak itu, imbauan jaga jarak, jauhi kerumunan, kenakan masker, selalu cuci tangan menjadi seruan rutin yang kita dengar setiap saat.

Pemerintah berusaha merespons dengan mengeluarkan imbauan work from home (WFH), lalu jaga jarak (social/physical distancing). Terakhir pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Tujuannya jelas, menghambat dan memutus mata rantai penyebaran virus yang hingga kini sudah menyebabkan 10.843 orang positif itu (update 2 Mei).

Bagaimana menjelaskan pengaruh satu manusia terhadap manusia lain? Bagaimana memahami dampak keberadaan manusia bagi kehidupan sosialnya? Sebaliknya, bagaimana pengaruh kehidupan sosial pada individu?

Dalam refleksi filsafat, manusia dimaknai sebagai makhluk yang bersifat singular-plural. Manusia itu singular sekaligus plural. Manusia itu individu sekaligus bagian dari kehidupan sosial. Manusia itu 'aku' serentak 'kita'.

Manusia disebut singular karena dia itu unik, satu-satunya, dan tidak terulangi. Mulai dari struktur DNA, sidik jari, sifat-sifat, pengalaman hidup, dan jati diri sekedar untuk menyebutkan beberapa contoh. Tidak ada manusia yang sama dengan yang lain.

Tapi manusia serentak juga plural. Dalam arti dia terhubung dan menjalin relasi dengan orang lain baik secara sadar maupun tidak. Keterhubungan dan relasi itu terjadi pada lapisan-lapisan eksistensi manusia. Pada aspek biologis misalnya, DNA individu terhubung dengan DNA ayah-ibu, kakek-nenek, buyut, moyang, dalam jaringan panjang dan luas.

Dari aspek psikologis, psyche setiap orang dibentuk dari pelbagai pengaruh yang dia terima dan diserapnya sejak usia paling dini dalam kandungan ibu. Dalam aspek pengetahuan, setiap individu terhubung dengan jutaan orang yang membuat penelitian lebih dulu.

"Karena itu, ketika mahasiswa semester I mulai belajar filsafat, dia sebenarnya sedang bersama kita semua duduk di kaki Socrates, dalam deretan panjang barisan para murid. Jutaan orang sepanjang abad," begitu kata dosen saya ketika menyampaikan mata kuliah Filsafat Manusia.

Manusia itu singular sekaligus plural. Aku yang ada sekarang adalah aku yang unik dan tidak ada duanya. Tapi aku yang ada sekarang serentak merupakan buah dari 'pemberian' begitu banyak orang. Dalam kehidupan sosial, aku memberi arti pada yang lain. Serentak yang lain memberi arti pada aku.

Maka akhir-akhir ini di tengah situasi pandemi Covid-19, sikap tidak peduli dan sikap abai pada imbauan jarak bisa jadi 'bencana' bagi orang lain. Demikian juga sikap abai orang lain bisa menjadi 'bencana' bagi saya.

Pada titik inilah, imbauan jaga jarak dan PSBB menemukan maknanya. Kita diimbau jangan dulu berkumpul, menghindari kerumunan, tinggal di rumah, jangan dulu bepergian, dan jangan mudik. Agar kita tak jadi aku yang jadi penyebar Covid-19. Pun agar kita tak jadi aku yang tertular Covid-19. Satu hal yang mesti dipahami bahwa kelalaian, sikap acuh tak acuh tidak saja buruk bagi diri sendiri. Namun memiliki implikasi sosial. Apa yang kita lakukan berdampak bagi orang lain.

Saya ingat penjelasan Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Profesor dr Amin Soebandrio. Dia menggambarkan, orang-orang yang terpapar Covid-19 seumpama piramida. Di posisi puncak piramida, yakni mereka yang kemudian menjadi sakit karena Covid-19. Pada lapisan paling bawah dengan jumlah yang paling besar adalah mereka yang terpapar virus tapi tidak tertular dan kelompok orang tertular virus tapi tidak sakit berat. Dua kelompok inilah yang kemudian bepergian ke mana-mana dan menyebarkan Covid-19. Hal itulah yang bisa menjadi penjelasan cukup masuk akal kenapa Covid-19 menyebar begitu cepat dan masif.

Dalam konteks berpikir itu, setiap orang tentu tidak bisa berlaku acuh tak acuh dan tak peduli. Saat ini bukan saja momen untuk menjaga diri sendiri dan mewaspadai pertemuan dengan orang lain. Saat ini juga merupakan momen untuk menjaga orang lain dan mewaspadai diri sendiri.

Pertama kalinya dalam sejarah. Bersatu kita mati, bercerai kita selamat. Apa meme ini benar? Tentu tergantung bagaimana setiap masyarakat Indonesia memaknai arti 'bersatu'. Sebab makna 'bersatu' itu luas. 'Bersatu' tidak melulu ditunjukkan dengan persatuan fisik. 'Bersatu' bisa juga muncul dalam persatuan semangat untuk mencapai tujuan bersama meski kita tak berdekatan secara fisik. Kesatuan fisik maupun semangat yang sedang dibutuhkan saat ini.

Harus dimengerti bahwa dalam masa 'karantina' seperti sekarang tak semua orang bisa tinggal di rumah. Ada orang yang harus bertarung, hadir secara fisik melawan Covid-19. Ada orang yang tidak bisa hadir secara fisik, tapi mereka juga punya semangat yang sama untuk melawan Covid-19: mereka yang patuh untuk tetap di rumah.

Jika saat ini digambarkan sebagai perang, maka ada dua jenis tentara, yakni mereka yang melawan Covid-19 dengan meninggalkan rumah dan mereka yang melawan Covid-19 dengan tetap tinggal.

Stay at home. Stay safe.

(mmu/mmu)