Obituari

Adi Kurdi dan Warisan Keluarga Ideal

Martinus Joko Lelono - detikNews
Minggu, 10 Mei 2020 13:05 WIB
s
Adi Kurdi (foto: dok. Teta Film)
Jakarta -

Ketika sinetron Keluarga Cemara ditayangkan pada 1996-2002 dan dilanjutkan pada 2004-2005, banyak orang belajar tentang keluarga. Gambaran keluarga dalam film itu begitu hidup. Di sana digambarkan keluarga dengan segala perjuangannya. Pesannya tak melulu tentang kemewahan atau kemiskinan, tetapi tentang proses menerima keadaan, mentertawakan kehidupan, baik dalam keberhasilan maupun kegagalan.

Bagi saya sendiri, sinetron ini mengena di hati banyak orang karena mencerminkan pergulatan keluarga-keluarga yang senyatanya. Ada satu pesan penting yaitu bahwa keluarga itu saling mendukung dalam suka dan duka.

Di sana tidak dipungkiri adanya pemberontakan dalam peristiwa gagal dan jatuh, tetapi bukan berarti bahwa di dalam kegagalan tak ada titik-titik kebahagiaan. Tokoh Abah yang diperankan oleh Adi Kurdi menjadi tokoh sentral yang membuat keluarga ini tetap teguh dan bisa terus mensyukuri kehidupan, bahkan dengan candaan. Kisah yang cerdas, menghibur, dan menginspirasi ini lahir dari tangan seorang penulis hebat bernama Arswendo Atmowiloto.

Kini, ketika Adi Kurdi (1948-2020) dipanggil Tuhan. Masyarakat di Indonesia pada umumnya akan mengenangnya sebagai Abah. Kepergiannya melengkapi kehilangan kita akan sosok Arswendo Atmowiloto yang meninggal pada 19 Juli 2019. Kita mengangkat topi kepada keduanya yang pernah memberi kita tontonan yang bermutu tinggi. Sembari mengenang kepergian keduanya, rasanya baik kalau kita menarik warisan tentang hidup keluarga yang mereka tawarkan. Meski tak berharap, belum tentu tontonan semacam ini lahir lagi dalam dekade-dekade terdekat.

Adi Kurdi memang tidak hanya dikenal lewat sinetron Keluarga Cemara. Kemampuan berteaternya pernah mengantar dia ke posisi pemeran utama dalam pementasan Bengkel Teater Rendra, sang maestro teater itu, tatkala mementaskan Kisah Perjuangan Suku Naga yang "viral" pada zamannya. Di dunia layar lebar, ia dikenal dalam peran di film Gadis Penakluk yang mengantarnya menjadi salah satu nominasi Festival Film Indonesia.

Kisah-kisah ini melengkapi gambaran kita tentang gemilangnya ia memerankan peran Abah dalam sinetron Keluarga Cemara. Dari pribadi ini kita belajar tentang bagaimana berjuang menjadi yang terbaik dalam setiap karya yang ia mainkan. Dalam bahasa sederhana mungkin petuahnya adalah be the best version of yourself (jadilah versi terbaik dari dirimu).

Permasalahan besar yang diangkat Keluarga Cemara adalah tentang kebersamaan di dalam suka dan duka. Sosok Abah ditipu oleh teman kerjanya sehingga harus kehilangan banyak kekayaan. Saat itulah keluarga mulai bergolak dengan situasi yang baru. Di sini, sosok Abah hadir sebagai pribadi yang menguatkan keluarga. Beberapa kali ia gagal memenuhi janji kepada anak-anaknya, seperti membelikan pakaian baru untuk Cemara. Namun, kisah ini menjadi menarik karena dari setiap bagian selalu ada pelajaran yang ingin diberikan.

Dalam salah satu bagian, Emak mengatakan, "Yah, kalau mengingat pengalaman di Jakarta dulu, alangkah bedanya dari yang sekarang." Lalu Abah menjawab, "Hehe, tetapi kita ribut melulu, kita tidak pernah damai." Jawab si Emak, "Yah aneh memang, dulu ketika kita hidup berkelimpahan, kita terus menerus bertengkar."

Satu bagian ini menghantar kita kepada sebuah paradoks kehidupan yang membantu untuk meyakini bahwa hidup adalah kemungkinan. Tak selamanya orang kaya bahagia, demikian pula tak berarti orang miskin pasti bersedih.

Adi Kurdi menjadi ikon dari sinetron Keluarga Cemara mungkin senada dengan kisah Rano Karno, Cornelia Agata, dan Maudi Koesnaedi yang memerankan perannya masing-masing di Si Doel Anak Sekolahan. Berbeda dengan peran Emak yang diperankan berturut-turut oleh Lia Waroka, Novia Kolopaking, dan Anneke Putri, Adi Kurdi memainkan keseluruhan peran Abah. Adi Kurdi menjadi sosok yang hidup di dalam benak publik tentang Bapak yang punya ketegasan ketika harus marah, tetapi tidak takut memuji ketika memang benar. Dialog-dialognya dengan tokoh emak melahirkan pelajaran-pelajaran penting dalam hidup rumah tangga.

Keluarga Cemara pernah menjadi simbol keluarga ideal dalam hidup masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, peran Adi Kurdi turut mewarnai imaginasi tentang figur Bapak yang siap menemani keluarga dalam situasi suka dan duka. Figur Bapak ini pulalah yang memberi pelajaran tentang keluarga ideal yang tak selamanya soal harta yang melimpah (mengingat sebagian besar keluarga Indonesia hidup sebagai kelas menengah ke bawah dan tak memiliki harta melimpah).

Hari-hari ini tatkala banyak negara dihantam oleh pandemi Covid 19, banyak keluarga juga mendapat dampaknya. Jutaan pekerja di-PHK, banyak usahawan yang harus merugi, belum lagi mereka yang bekerja di sektor-sektor informal yang terdampak oleh pandemi seperti halnya di sektor pariwisata. Banyak orang tidak bisa berharap untuk bisa kembali bangkit dalam waktu dekat. Rasa-rasanya figur Abah sebagai kepala keluarga yang bisa selalu menuntun dan mengarahkan keluarga menjadi baik untuk dilirik.

Di sana ada pembelajaran tentang ketegaran, pantang menyerah, memperhatikan keluarga dan menjadi teman satu sama lain tatkala sedang dalam derita dan kesulitan. Nilai-nilai ini menjadi penting di tengah situasi yang tidak ideal yang amat mungkin membuat kita saling menyalahkan satu sama lain. Peran Abah yang ditokohkan dengan sangat indah oleh Adi Kurdi mengirim pesan tentang keyakinan akan adanya berkah di balik derita (blessing in disguise).

Saya selalu teringat lirik lagu Harta Berharga yang menjadi pengiring sinetron Keluarga Cemara. Di salah satu bagiannya dikatakan, Terima kasih Emak! Terima kasih Abah! Untuk tampil perkasa bagi kami putra-putri yang siap berbakti. Syair ini mengirim pesan yang indah tentang pengorbanan orangtua yang dipuji oleh anak-anak bahkan ketika mereka tidak selalu berhasil.

Kalaulah memang Keluarga Cemara (yang diwariskan oleh Arswendo Atmowiloto dan Adi Kurdi) menjadi keluarga idaman di negeri ini, semoga bagi Anda dan saya keluarga idaman itu tak lain dan tak bukan adalah keluarga kita masing-masing. Dengan demikian, misi mendiang Arswendo Atmowiloto dan Adi Kurdi untuk menjadikan sebuah tontonan menjadi tuntunan hidup sudah berhasil.

Selamat jalan, Abah...dan sampaikan salam kepada Arswendo Atmowiloto yang bersamamu mewarisi kami sebuah cerminan keluarga ideal yang tak jauh dari keseharian kami!

Martinus Joko Lelono pastor katolik, kandidat Doktor Interreligious Studies Universitas Gadjah Mada

(mmu/mmu)