Analisis Zuhairi Misrawi

Derita Timur-Tengah di Masa Pandemi

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 07 Mei 2020 19:08 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Selama ini, Timur-Tengah selalu mempunyai dua wajah. Yaitu wajah yang penuh kemewahan serta wajah yang penuh penderitaan, termasuk di dalamnya konflik yang berkepanjangan. Tapi, wabah corona menyebabkan situasinya semakin sulit. Corona menyeret Timur-Tengah pada titik-nadir kehidupan yang mengubah wajah wilayah itu menjadi monolitik. Yaitu wajah yang penuh ketidakpastian. Bahkan jika pandemi berlangsung lama, maka akan terjadi sesuatu yang luar biasa di negeri kaya minyak dan gas itu.

Tiga sektor ekonomi yang menjadi pilar ekonomi di Timur-Tengah benar-benar ambyar akibat pandemi. Harga minyak terus merosot tajam akibat perang harga antara Arab Saudi dan Rusia. Egoisme yang selama ini dipertontonkan Arab Saudi dengan mengeksplorasi minyak dalam jumlah yang besar dengan harga yang relatif menggiurkan, harus rela menghadapi fakta minyak yang bahkan tidak mempunyai harga apa-apa. Karenanya, untuk pertama kalinya ekonomi Arab Saudi pada zona merah menyusul saham Aramco yang menukik tajam.

Sejumlah negara-negara Timur-Tengah yang mengandalkan turisme juga sedang berada dalam masa-masa yang sulit. Turki dan Mesir yang setiap tahun mengandalkan sektor ekonominya pada pariwisata harus menghadapi kenyataan pahit yang tidak pernah terjadi masa lalu. Saat marak aksi terorisme, sektor turisme juga mengalami masa-masa sulit. Tapi apa yang terjadi akibat pandemi, situasinya jauh lebih sulit.

Negara-negara kaya minyak seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang biasanya menjadi tujuan turisme harus menghadapi situasi yang tidak kalah sulitnya. Arab Saudi menjadi negara di Timur-Tengah yang paling terpukul karena harga minyak mengalami kejatuhan yang luar biasa, pun sektor turisme melalui umrah dan mungkin saja ibadah haji yang akan digelar pada Juni nanti akan batal diselenggarakan. Arab Saudi akan mengalami defisit yang serius setelah beberapa tahun terakhir juga telah mengalami defisit yang cukup serius.

Uni Emirat Arab berusaha untuk melonggarkan karantina dalam beberapa hari yang lalu. Tetapi, tetap saja sektor turisme akan mengalami masa-masa sulit karena negara-negara lain belum pulih dari pandemi. Akibatnya, sektor penerbangan yang menjadi penopang terbesar dari sektor turisme akan mengalami pendarahan yang cukup serius, sehingga juga akan mengganggu pendapatan dari sektor yang telah menggelontorkan investasi dalam biaya yang cukup besar.

Belum lagi sektor industri mengalami kemacetan akibat karantina. Industri yang melibatkan warga dalam jumlah besar harus terhenti karena pandemi meniscayakan warga untuk tinggal di rumah, tidak diperkenankan ada kerumunan massa. Karenanya sektor swasta banyak yang terpukul akibat pandemi, karena harus menghentikan para pekerjanya dalam jumlah yang besar.

Jika negara-negara yang selama ini hidup berlimpah saja mengalami masalah yang serius, bagaimana dengan negara-negara Timur-Tengah yang dalam kondisi normal saja harus tertatih-tatih. Negara-negara seperti Palestina, Yaman, Sudan, Libya, dan Libanon harus menghadapi kenyataan pahit. Kondisi mereka pasti lebih sulit, karena menghadapi pandemi di tengah situasi politik yang sangat tidak kondusif.

Palestina berada di bawah bayang-bayang penjajahan Israel. Apalagi warga Palestina selama ini masih bekerja pada sektor industri di Israel. Orang-orang Palestina yang berada di pengasingan dan menjadi buruh migran juga menjadi korban akibat pandemi. Sebagian besar dari mereka masih belum menjadi warga setempat, sehingga rentan terhadap diskriminasi karena tidak mendapatkan perlindungan finansial.

Kondisi di Yaman, Libya, dan Sudan menjadi lebih buruk karena konflik politik yang masih berlangsung semakin menyulitkan upaya untuk menghadapi pandemi. Ekonomi sudah berdarah-darah akibat konflik, dan pandemi menyebabkan situasinya semakin sulit. Ironisnya negara-negara yang selama ini menjadi aktor penyokong konflik tidak melihat pandemi sebagai momentum untuk rekonsiliasi dan menentukan masa depan persatuan di antara pihak-pihak yang berkonflik. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab sangat disayangkan karena tidak mendorong upaya rekonsiliasi di negara-negara tersebut.

Libanon memperlihatkan demonstrasi di tengah pandemi. Situasi yang sebenarnya sangat disayangkan. Pandemi yang semestinya memunculkan kepedulian dan persatuan nasional, tetapi semakin memperburuk situasi, karena kondisi ekonomi yang sangat sulit. Krisis ekonomi yang disebabkan krisis politik dalam setahun terakhir telah membawa Libanon pada kubangan kehancuran. Dan pandemi sudah barang tentu membawa Libanon pada krisis ekonomi yang semakin dalam dan tajam.

Iran sebenarnya menghadapi masalah yang tidak kalah sulitnya dibandingkan negara-negara tersebut. Tetapi Iran mempunyai kelebihan karena kepemimpinan spiritual Ayatullah Ali Khamenei mendapatkan dukungan publik yang luas, sehingga warganya dapat memaklumi situasi yang dihadapi saat ini. Iran sudah biasa menghadapi krisis dalam 40 tahun terakhir. Iran lebih teruji melalui masa-masa krisis, dan selalu mampu keluar dari krisis.

Maka dari itu, Timur-Tengah saat ini akan menghadapi situasi yang paling sulit dan tidak menentu. Negara-negara Teluk, seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain mungkin saja masih bisa bertahan dalam beberapa bulan mendatang dengan memberikan insentif ekonomi kepada sektor swasta dan publik secara langsung. Mereka masih bisa bertahan untuk beberapa saat. Tetapi jika pandemi berlangsung lama, maka tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan krisis ekonomi yang serius, yang juga akan mengubah tatanan sosial dan politik.

Sedangkan negara-negara seperti Mesir, Turki, Irak, dan Libanon akan menghadapi situasi yang tidak mudah. Mereka harus lebih realistis untuk memperlonggar karantina wilayah dengan membuka kembali sektor industri untuk memberi nafas sementara bagi ekonomi warga terdampak pandemi.

Pada akhirnya, pandemi akan menjadi momen yang paling menakutkan bagi negara-negara Timur-Tengah, karena akan mengubah peta politik dan peta geopolitik. Pandemi bisa saja menjadi berkah bagi negara-negara yang selama ini menjadi korban konflik proksi, tetapi juga bisa jadi menjadi terbukanya masalah yang serius, yaitu konflik yang berkepanjangan.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)