Kolom

Kejujuran yang Menyelamatkan

Reyner Valiant Tumbelaka - detikNews
Senin, 04 Mei 2020 14:30 WIB
Pemerintah Kabupaten Sumedang memberlakukan karantina wilayah parsial (KWP) dengan mendirikan Posko skrining Tim Gugus Tugas COVID-19 di sejumlah titik perbatasan.
Upaya memutus rantai Covid-19 di Sumedang (Foto: Muhamad Rizal)
Jakarta -

Pepatah mengatakan, kejujuran itu pahit rasanya seperti obat yang manjur. Mungkin seperti itu nilai kejujuran saat ini di tengah masyarakat kita, pahit namun memberi solusi. Keberhasilan menanggulangi pandemi Covid-19 ditentukan dari keberhasilan dalam menangani komunikasi, baik komunikasi dalam arti luas hingga komunikasi interpersonal. Hubungan interpersonal antara pasien dan tenaga medis dibangun atas dasar kejujuran serta kepercayaan.

Pasien yang menolak memaparkan secara jujur dan terbuka tentang gejala dan riwayat perjalanan penyakit akan memutus rantai komunikasi interpersonal serta dapat membawa masalah yang lebih besar. Jika korban pertama dalam perang melawan pandemi ini adalah kejujuran dan kebenaran, maka korban berikutnya adalah pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Kasus kasus ketidakjujuran pasien yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia semakin menegaskan bahwa nilai luhur kejujuran di tengah masyarakat saat ini sedang diuji. Sebanyak 46 tenaga kesehatan di Semarang harus di karantina karena terpapar Covid-19 akibat salah seorang pasien yang tidak mengakui dengan jujur riwayat perjalanan ke zona merah wabah. Ini akhirnya hanya menambah masalah dalam sistem pelayanan kesehatan.

Para tenaga medis yang hingga saat ini masih berjuang untuk mendapatkan alat pelindung diri yang layak dan terdistribusi merata harus berperang dengan masalah baru yang sangat fundamental. Berbagai elemen yang membantu jalannya pelayanan kesehatan terkena imbasnya. Mulai dari dokter umum dan residen serta perawat yang berada di garis depan di pelayanan pratama hingga pusat rujukan, serta cleaning service dan farmasi yang tidak secara langsung kontak dengan pasien --namun kontak dengan carrier yang muncul-- bisa menjadi korban. Akibatnya sistem pelayanan kesehatan terganggu hingga lumpuh.

Komunikasi

Tidak ada satu pun yang diuntungkan dari sebuah ketidakjujuran antara pasien dengan tenaga medis. Komunikasi di dalam dunia kedokteran sendiri merupakan sebuah ilmu dan seni. Ilmu, artinya dapat diamati dan dipelajari, yang dalam aplikasinya juga membutuhkan seni untuk menghadapi individu yang beragam latar belakang, berdasarkan nilai nilai budaya dan juga nilai otonomi pasien.

Hubungan dokter-pasien merupakan fondasi dalam praktik dan etika kedokteran yang dibangun di atas kepercayaan kedua pihak. Untuk dapat menerima perawatan medis, pasien harus dapat membuka rahasia pribadi kepada dokter atau orang yang mungkin benar-benar asing bagi mereka mengenai informasi yang mungkin tidak ingin diketahui orang lain. Untuk beberapa individu hal ini sulit untuk dilakukan jika tidak merasa terpaksa.

Komunikasi yang baik dimulai dengan kejujuran tanpa menahan atau bahkan berbohong terhadap informasi yang dibutuhkan. Dalam kasus pandemi saat ini termasuk di dalamnya adalah riwayat perjalanan ke zona merah serta gejala yang berhubungan dengan Covid-19.

Tuduhan terhadap seseorang bahwa dirinya menahan kebenaran atau bahkan berbohong merupakan hal yang membawa konsekuensi yang sangat serius. Jika ditanya bagaimana para petugas medis dapat tahu dengan pasti bahwa seseorang berbohong dalam riwayat penyakitnya, maka jawabannya akan sangat singkat; kita tidak bisa tahu dengan pasti. Menggali informasi dari wawancara atau anamnesis saja tidak cukup.

Dibutuhkan tanda dan ukuran secara objektif dengan alat bantu seperti hasil laboratorium dan penunjang lainnya untuk menegakkan diagnosis seseorang. Maka, tes massal yang dilakukan pemerintah saat ini sangat membantu para petugas kesehatan terutama yang berada di garis depan untuk menentukan protokol penanganan pada pasien.

Pentingnya pemahaman dari sebuah pemikiran bahwa tenaga medis yang melayani di tengah pandemi bertujuan untuk menolong dan tidak untuk menghakimi perlu ditekankan berulang kali untuk membangun fondasi komunikasi yang kokoh.

Stigma Sosial

Pasien dapat berkata tidak jujur atau menutupi informasi, yang merupakan sebuah bentuk dari mekanisme pembelaan ego. Di tengah pandemi Covid-19, pasien akan berkata tidak jujur terutama untuk menghindari serta memproteksi diri dari stigma sosial yang dapat ditimbulkan.

Stigma sosial dalam konteks kesehatan adalah asosiasi negatif di antara orang-orang yang sama-sama memiliki karakteristik tertentu dan/atau menderita penyakit tertentu. Dalam suatu pandemi, orang yang dianggap memiliki keterkaitan dengan penyakit tersebut dapat mengalami diskriminasi. Stigma sosial dapat berdampak pada orang yang mengidap penyakit, keluarga, dan komunitas mereka.

Pandemi Covid-19 telah mulai mendatangkan stigma sosial dan perilaku diskriminatif di negara kita. Mulai dari saat pasien terdiagnosis hingga yang sudah menjadi jenazah. Jika melihat dampak yang dapat ditimbulkan, maka "masuk akal" jika pasien akan tidak jujur atau menutupi sebuah informasi yang dapat mengancam dirinya.

Namun hal ini justru membawa masalah baru, yakni membuat angka kasus terkonfirmasi lebih mungkin untuk menjadi bias akibat kesulitan melacak dan mengendalikan kasus. Hingga mengakibatkan lumpuhnya sistem kesehatan.

Fokus pada jalan keluar dan bukan pada permasalahan merupakan pilihan bijak di tengah pandemi. Perwujudan kondisi masyarakat yang menjunjung tinggi dan memahami nilai kejujuran di tengah pandemi merupakan jalan keluar yang mengokohkan fondasi utama.

Pemerintah, media, dan setiap lapisan masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah dan menghentikan stigma sosial. Yakni dengan berfokus pada toleransi, empati, dan kapasitas setiap individu untuk berjuang bersama melawan stigma sosial, mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang.

Reyner Valiant Tumbelaka Chief Residen Orthopaedi & Traumatologi Universitas Airlangga, RSUD Dr. Soetomo Surabaya

(mmu/mmu)