Kolom

Cara Desa Basmi Corona

Marjono - detikNews
Senin, 04 Mei 2020 11:30 WIB
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Jumat (17/4/2020).
Gubuner Jawa Tengah Ganjar Pranowo menggagas Jogo Tonggo (Foto: tangkapan layar video di media sosial)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (21/4) akhirnya mengambil kebijakan tegas melarang semua warga mudik Ramadhan dan Idul Fitri 2020, setelah sebelumnya mengeluarkan larangan mudik bagi ASN, TNI-Polri, dan pegawai BUMN. Hal ini untuk menghentikan dan memutus mata rantai penyebaran virus corona ke wilayah pedesaan.

Fakta di lapangan menunjukkan, rekapitulasi jumlah pemudik lewat simpul transportasi rentang 26 Maret sampai dengan 22 April masih tinggi. Angka pemudik yang masuk Jawa Tengah tak kurang dari 577.821 orang.

Persebarannya menggunakan angkutan umum jalan tercatat 356.809 orang, melalui pesawat terbang mencapai 44.216 orang, kapal laut 4.650 orang, dan kereta api menempati angka 172.146 orang. Terkait fluktuasi kedatangan migran ke desa terdata 669.298 orang. Angka-angka murung di atas sangat berpotensi menyebarkan virus corona yang tak terduga sebelumnya.

Harapan kita, semoga pasca pelarangan mudik dari pemerintah tersebut, seluruh masyarakat mematuhi sehingga angka mudik menjadi nihil. Namun demikian, kita semua tak cukup hanya menyandarkan pada regulasi, termasuk desa tak tinggal diam menabuh genderang berperang melawan virus corona. Meski sudah telanjur kemasukan sebagian pemudik, desa berjuang keras bebas dari corona.

Sedia payung sebelum hujan adalah tindakan yang tepat untuk peristiwa apapun, termasuk mengantisipasi potensi penyebaran virus corona di wilayah pedesaan. Maka aktivitas desa tanggap corona menjadi penting dalam upaya menyelamatkan warga dan membebaskan desa dari agresi corona.

Desa-desa di Jawa Tengah telah, sedang, dan akan terus menerapkan langkah pencegahan, penerapan protokol kesehatan penanganan corona hingga pemberian program bantuan sosial langsung tunai untuk masyarakat miskin terdampak corona. Kabar gembira dari desa bertebaran, seperti sejumlah 7.756 desa telah melakukan sosialisasi upaya pencegahan dan antisipasi bahaya corona dan sebanyak 6.692 desa telah melakukan kampanye untuk bersama melawan corona dengan berbagai media.

Tidak berhenti di sana, tak kurang 2.247 desa memberikan masker secara cuma-cuma kepada warga desa, 7.681 desa telah menyediakan sanitasi publik (sarana cuci tangan pakai sabun dan penyediaan sanitizer), serta 6.147 desa telah membentuk posko sebagai pusat pemantauan kondisi desa lawan corona.

Ada sejumlah 891 desa menyediakan rumah isolasi/karantina bagi para pemudik dengan memanfaatkan gedung desa, sekolah, pos kesehatan desa maupun di rumah warga. Dari sejumlah rumah isolasi/karantina di atas, yang terisi hanya 34 rumah isolasi/karantina, karena pemudik lebih memilih tinggal di rumah sendiri.

Menerima dan Menampung

Pemudik dengan berbagai macam latar belakang ini membuka konsekuensi logis bagi desa untuk menerima dan menampungnya. Dengan demikian, desa mesti waspada terhadap pemudik yang berasal dari zona merah. Desa pun berkewajiban menyediakan kebutuhan pokok mereka selama di desa dalam waktu yang tidak pendek.

Desa selalu inklusif bagi pemudik ini, meski sudah ada larangan dari Presiden Jokowi. Desa-desa di Jateng menyiapkan rumah isolasi bagi para pemudik. Atau, desa memberi opsi lain bahwa pemudik yang masuk ke desa juga dapat melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing selama 14 hari.

Peran desa melalui posko yang didirikan melakukan pemantauan dan selalu mengingatkan kepada pemudik untuk menyelesaikan karantina. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan kesehatan pemudik dan agar tetap menjaga jarak. Pemantauan bukan hanya dilakukan oleh para relawan, termasuk PKK dan tokoh masyarakat yang berada di posko, tetapi peranan tetangga yang melakukan "jogo tonggo" sangat efektif sekali untuk saling mengingatkan.

Istilah "jogo tonggo" diambil dari bahasa jawa. Jogo artinya menjaga, sedangkan tonggo artinya tetangga. Jogo Tonggo yang digagas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yakni dengan membangun kewaspadaan dan saling menjaga dan saling memperhatikan antarkeluarga sewarga desa sejak di lingkungan RT/RW. Nilai kesalehan dan kearifan lokal yang masih tumbuh di desa ini merupakan modal utama untuk menghalau corona di desa.

Bahkan tidak hanya sebatas pada kesehatan saja yang dilakukan. Jogo Tonggo juga dilakukan dalam hal ekonomi, sosial, keamanan, bahkan menghibur agar dalam melaksanakan karantina tidak mengalami kebosanan. Kesiagaan bersama desa terhadap pandemi corona dengan menyusun gugus tugas corona di lingkungan RT banyak dilakukan bertujuan untuk saling menjaga dengan kewaspadaan bersama, saling membantu antarwarga.

Sebagian besar desa tidak melakukan penutupan akses jalan, sebaliknya yang dilakukan mengerahkan social capital-nya. Jogo Tonggo pada situasi pandemi ini menjadi penting, karena jelas lebih egaliter; momentum mengepakkan sayap kemanusiaan kita, di samping itu linier dengan saran agama maupun falsafah negara, yakni Pancasila. Ini menjadi bagian cara desa di Jawa Tengah membasmi corona.

Tak Hanya Menunggu

Tanggap corona di wilayah pedesaan dilakukan dengan tak hanya menunggu bantuan pemerintah, tapi sudah langsung melakukan aksi konkret. Salah satu contoh Desa Krangean, Kecamatan Kertanegara, Kabupaten Purbalinggai berjuang dan siap membasmi corona dengan memproduksi masker berbahan baku kain, di samping juga membuat baju alat pelindung diri (APD) untuk relawan juga bisa dibuat sendiri di desa tersebut.

Anggaran desa tanggap corona bersumber dari pos dana desa sekira Rp 171,031 miliar dan swadaya masyarakat mencapai Rp 2,180 miliar serta sumber lainnya dengan angka Rp 4,769 miliar. Angka-angka tersebut memberi makna baru terhadap terbitnya gotong royong dan peduli maupun tanggap corona.

Desa juga melakukan pendataan warga miskin yang terdampak, dan menyalurkan bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp 600 ribu per KK setiap bulan selama 4 bulan. Dan, untuk mengurangi pengangguran di desa akibat serbuan pemudik, pemanfaatan dana desa juga diarahkan untuk padat karya tunai desa (PKTD) yang sekurangnya dapat menggerakkan sumber-sumber ekonomi baru untuk membersihkan desa dari corona.

Marjono eksponen Sarjana Pendamping Purna Waktu (SP2W) Desa Miskin Indonesia

(mmu/mmu)