Kolom

Bersemi Setelah Pandemi

William - detikNews
Kamis, 30 Apr 2020 15:26 WIB
Jakarta -
Kesehatan merupakan salah satu aspek dasar dalam pembangunan suatu negara. Apabila memiliki sumber daya manusia yang sehat, negara tentu akan merasakan keuntungan karena masyarakatnya dapat hidup dan beraktivitas dengan produktif.

Untuk mencapai derajat kesehatan yang maksimal, semua unsur dalam sistem kesehatan --pemerintah, tenaga dan fasilitas kesehatan, serta masyarakat-- perlu maksimal pula dalam memahami dan menerapkan prinsip-prinsip kesehatan sesuai porsi masing-masing.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia masih memiliki beberapa kendala dalam mendukung terlaksananya sistem kesehatan yang maksimal, antara lain keterbatasan jumlah tenaga medis, belum meratanya fasilitas dan alat kesehatan di seluruh provinsi, hingga pemahaman masyarakat yang belum utuh tentang kesehatan.

Kondisi-kondisi tersebut tercermin dari rasio dokter maupun dan terhadap populasi masyarakat yang masih belum ideal maupun keterbatasan fasilitas rujukan kesehatan terutama di daerah terpencil. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018, rata-rata masyarakat Indonesia sendiri memiliki tingkat pengetahuan mengenai kesehatan yang belum optimal, misalnya dalam hal mencuci tangan dan akses ke fasilitas kesehatan.

Saat ini, hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia, telah melaporkan adanya kasus positif Coronavirus disease 2019 (Covid-19) di negaranya, baik yang hanya berjumlah puluhan sampai dengan ratusan ribu jiwa. Lebih dari 200.000 orang telah meninggal dan jutaan penderita harus dirawat akibat penyakit saluran pernapasan ini hanya dalam kurun waktu empat bulan.

Adaptasi dan Belajar

Kondisi pandemi yang begitu tiba-tiba memaksa berbagai pihak untuk beradaptasi dan belajar secara cepat dalam hal kesehatan. Pemerintah misalnya, perlu mengambil langkah dengan mendatangkan alat-alat medis canggih dan memperbanyak kit untuk mendeteksi infeksi Covid-19, baik dalam hal pemeriksaan antigen melalui real-time reverse transcriptase polymerase chain reaction (rRT-PCR) maupun pengecekan antibodi via rapid test.

Selain pemerintah, tenaga medis dan berbagai level fasilitas kesehatan pun dituntut menyesuaikan diri dengan mempelajari pencegahan hingga penanganan Covid-19 secara kilat. Tidak ketinggalan, semua masyarakat juga diminta beraklimatisasi terhadap kondisi pandemi ini secara cepat, termasuk stay at home, mencuci tangan minimal selama 20 detik dengan air dan sabun, memakai masker, menjaga jarak dengan orang lain (physical distancing), serta memerhatikan kesehatan dan kebersihan diri.

Beberapa situasi baru tersebut mungkin belum pernah terpikir beberapa bulan lalu, tetapi mau tidak mau harus segera dijalankan saat ini. Tahun-tahun ke depan tentu akan ditandai dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan, di mana hal ini membutuhkan adaptasi cepat dari masyarakat yang sehat.

Bagi pemerintah, pandemi kali ini dapat dijadikan standar baru dalam sistem kesehatan nasional, baik dalam standar prosedur penanganan penyakit infeksi, ketersediaan jumlah tenaga medis dan laboratorium minimal, hingga jumlah alat medis dan teknologi analisis kesehatan.

Tenaga medis dan fasilitas kesehatan juga harus bersiap menyambut era baru dunia kesehatan, termasuk di dalamnya penguasaan ilmu biologi molekuler serta praktik telemedicine. Sementara itu, masyarakat Indonesia pun mendapat banyak asupan informasi mengenai dunia kesehatan selama pandemi ini. Modal "melek kesehatan" selama wabah Covid-19 hendaknya dapat dijadikan bekal untuk menerapkan pola hidup sehat setelah pandemi nanti.

Meskipun menimbulkan berbagai kerugian, pandemi kali ini betul-betul mengajarkan kita tentang arti sehat dan mengusahakan kesehatan. Sudah saatnya semua unsur kesehatan berbenah. Sudah gilirannya kita semua mengevaluasi perilaku kesehatan sehari-hari. Setelah pandemi berakhir, sudah waktunya sistem kesehatan negeri ini bangkit dan bersemi.

Seperti tumbuhan, bersemi berarti semua pihak harus bertumbuh, menunjukkan bahwa kita semakin paham dengan prinsip-prinsip kesehatan sehingga dapat berkontribusi dalam pembangunan negara Indonesia ke depannya. Salam sehat!

dr. William
staf pengajar Departemen Biologi Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Residen Andrologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD Dr Soetomo

(mmu/mmu)