Kolom

Antisipasi Resesi Pasca-Corona

Abas Zahrotin - detikNews
Selasa, 28 Apr 2020 15:20 WIB
Dampak Corona ke Ekonomi
Ilustrasi: Fuad Hasim/detikcom
Jakarta -

Selain menyerang secara langsung bidang kesehatan, dampak turunan dari pandemi corona menghantam setiap bidang, termasuk perekonomian. Baik skala makro maupun mikro, dampak virus ini mampu mengerem tajam laju perkembangan perekonomian dunia. Bahkan, diprediksikan tren perekonomian 2020 tidak ada yang menunjukkan tren kenaikan dibanding pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya. Bahkan banyak negara yang akan menunjukkan tren negatif.

Indonesia yang mentargetkan pertumbuhan ekonomi pada akhir Kabinet Indonesia Maju hingga tujuh persen juga tentu terpukul dengan fenomena ini. Meski demikian, Indonesia diprediksikan masih akan mengalami tren positif dibanding negara-negara G20 lainnya. Setidaknya serangan ekonomi semacam ini akan mampu dikelola dengan apik oleh pemerintah sehingga tidak sampai mengalami resesi dalam skala massif.

Baik sektor usaha besar maupun kecil telah mulai merasakan dampak dari pandemi. Beberapa sudah memulai langkah dengan merumahkan karyawan bahkan lebih ekstrem melakukan PHK dan pemberhentian produksi. Sektor mikro juga sama, pertumbuhannya mengalami penurunan drastis. Untuk sektor bahan pokok barangkali masih bertahan, namun komoditas sekunder dan tersier merasakan betul dampaknya. Padahal, ini baru tahap awal.

Usaha dan Investasi

Indikator perhitungan pertumbuhan ekonomi tidak akan lepas dari perkembangan dunia usaha dan investasi. Jika semua sektor usaha mengalami kelesuan dalam bisnis, tentu saja tren pertumbuhan ekonomi menurun. Angka investasi yang rendah juga memberi pengaruh besar dalam hal ini. Tentu ini bukan persoalan sepele dan butuh penyelesaian.

Banyak ekonom yang memprediksikan akan terjadi resesi ekonomi dalam skala yang masif pasca-corona. Tentu sebagai pelaku usaha juga harus mempersiapkan hal ini, agar --meskipun tertatih-- dunia usaha tetap dapat hidup. Salah satu langkah yang ditempuh oleh sejumlah perusahaan adalah merumahkan karyawan. Langkah ini dinilai tepat untuk sementara tidak membuang biaya produksi berlebih dan menyimpan aset untuk menyambut apa yang akan terjadi pasca-corona.

Sejumlah lembaga internasional dalam rilis resminya memprediksikan, pertumbuhan ekonomi dunia secara umum akan mengalami penurunan drastis. JP Morgan misalnya, memprediksikan paling rendah dengan minus 1,1 persen pertumbuhan ekonomi. EIU memprediksikan minus dua kali lipat dari JP Morgan. Tertinggi, IMF bahkan memprediksikan akan terjadi pertumbuhan ekonomi minus tiga persen.

Meski demikian, IMF dalam perhitungan lebih merinci, Indonesia akan tetap kuat mengibarkan merah putih diatas angka nol. Pada tahun 2019 Indonesia tumbuh 5,0 persen dan pada tahun ini diprediksikan 0,5 persen. IMF juga menyorot langkah ekonomi yang apik akan membawa angin segar pada 2021 dengan perkiraan 8,2 persen pertumbuhannya.

Ramalan dari lembaga ekonomi internasional setidaknya bisa menjadi acuan bagi para pengusaha di Indonesia. Dengan masih adanya tren positif pada 2020 tidak perlu melakukan langkah-langkah ekstrem dalam usahanya. Permintaan Menteri Tenaga Kerja untuk perusahaan kembali memanggil karyawan yang kena PHK dapat dikaji ulang mengingat pada tahun depan laju pertumbuhan ekonomi diprediksikan telah membaik. Meski demikian, angka pertumbuhan 0,5 persen juga patut untuk diwaspadai untuk tidak terlalu mengumbar biaya produksi.

Angka Pengangguran

Menteri Perekonomian melihat, angka pengangguran pada sejumlah negara telah mencapai double digit growth. Ini tidak menutup kemungkinan terjadi di Indonesia apabila banyak perusahaan melakukan PHK untuk mengantisipasi terjadinya kerugian. Angka pengangguran yang tinggi ini pula yang dapat memicu terjadinya resesi. Lebih parahnya, jika hal ini tidak dilakukan penanganan dengan baik, Indonesia terancam mengalami depresi ekonomi, yakni suasana lebih buruk dari resesi.

Resesi ekonomi sendiri terjadi jika produk domestik bruto (GDP) menurun atau pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut atau lebih dalam satu tahun. Sementara depresi ekonomi terjadi jika resesi ekonomi berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Ujung dari depresi ekonomi adalah economy collapse. Dua hal terakhir sangat tidak kita harapkan, namun resesi ekonomi yang meskipun oleh IMF diramalkan tidak terjadi di Indonesia; kita tepat berada di gerbangnya.

Anggap saja kita akan mengalami resesi ekonomi, maka sebagai pelaku usaha harus mempersiapkan diri menghadapi fenomena ini. Hal ini mengingat bahwa perusahaan yang dimiliki tidak hanya untuk menghidupi satu dua orang pemilik usaha, melainkan juga karyawan dan keluarganya. Jika perusahaan tidak diselamatkan, maka angka pengangguran tinggi dan menjadi langkah awal memasuki gerbang resesi.

Pertama, penyadaran seluruh elemen dalam perusahaan bahwa ini situasi sulit. Untuk mengurangi biaya produksi semuanya harus memiliki loyalitas yang tinggi untuk bersama-sama menyelamatkan perusahaan dari collapse. Loyalitas tersebut bisa diwujudkan melalui kebijakan yang berlaku secara kolektif untuk mengurangi biaya produksi. Beberapa perusahaan telah menerapkan sistem penggajian separuh dengan waktu kerja separuh. Kendati sistem ini memicu kontroversial, paling tidak ini akan mampu menekan biaya produksi.

Menteri Tenaga Kerja menyebut, hingga awal April, 153 perusahaan telah merumahkan 9.183 karyawannya dan 56 perusahaan telah mem-PHK sebanyak 2.311 orang. Jumlah ini diprediksikan akan mengalami peningkatan hingga pandemi berakhir. Model bekerja separuh dengan gaji separuh paling tidak akan mampu menekan biaya produksi ketimbang harus melakukan penghentian kerja terhadap karyawan. Dalam situasi semacam ini, saling mengerti kondisi antar elemen di perusahaan sangat dibutuhkan.

Kedua, penekanan belanja perusahaan. Segala pengeluaran yang dirasa tidak diperlukan diharuskan untuk dihentikan. Langkah ini penting untuk pemborosan keuangan perusahaan. Biaya perjalanan dan pengembangan kapasitas perlu untuk dihentikan sementara waktu.

Ketiga, jika perusahaan tidak lagi produksi karena faktor bahan baku, maka mengalihkan produksi dengan bahan baku pengganti yang lebih mudah harus dilakukan. Tentu akan berpengaruh juga terhadap perhitungan matematis dan harga produk.

Keempat, sektor jasa yang mengalami penurunan omzet harus melakukan terobosan-terobosan baru. Di antaranya hotel, sejumlah hotel telah menyediakan paket karantina untuk mengisi okupansi yang menukik tajam ke bawah.

Hal tersebut dilakukan sementara untuk bertahan selama masa pandemi, namun jangan mengeluarkan semua aset pada masa ini untuk mempertahankan perusahaan karena pada tahun depan akan menyambut kemungkinan resesi ekonomi yang memaksa perusahaan kembali restart untuk eksis. Perusahaan yang akan bertahan adalah yang kuat menghadapi badai corona dengan perhitungan matematis yang ketat dan persiapan menghadapi pasca-corona lebih matang.

Semoga kita semua kuat menghadapi pandemi ini!

Abas Zahrotin Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) BPC Temanggung

(mmu/mmu)