Kolom

Mengenang Arief Budiman: Disiden Keras Kepala yang Sentimentil

M. Wahid Supriyadi - detikNews
Sabtu, 25 Apr 2020 15:17 WIB
Dubes RI untuk Rusia M Wahid Supriyadi
Wahid Supriyadi mengenang Arief Budiman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Profesor Arief Budiman meninggal tepat sehari menjelang bulan suci Ramadhan. Saya mengenal lebih dekat ketika bertugas di KJRI Melbourne sebagai Konsul Muda Pensosbud pada 1995-1999, dan kemudian sebagai Konsul Jenderal 2004-2007. Sebelum mengenal secara pribadi, saya mendapat kesan dia seorang aktivis '66 yang sangat garang dan anti Orde Baru. Ternyata kesan itu tidak seluruhnya benar.

Kesalahan Arief Budiman mungkin karena dia terlalu apa adanya --bloko, bahasa Jawa-- dan apa yang ada dalam hati itulah yang dia keluarkan. Dia tidak akan berpikir apakah pernyataan-pernyataannya akan membuat marah para pejabat atau menyinggung seseorang. Tapi, dia juga tidak punya pengikut yang fanatik. Boleh dikata Arief Budiman adalah seorang single fighter.

Arief Budiman juga ternyata memiliki kepribadian yang sangat sensitif dan terkadang sentimental. Ketika terjadi bencana tsunami, 26 Desember 2004, Dharma Wanita KJRI Melbourne menggandeng Arief Budiman untuk melakukan penggalangan dana. Dengan jabatannya sebagai Kepala Pusat Studi Indonesia di Melbourne University, dia memiliki kewenangan untuk menyediakan tempat semacam teater yang dapat menampung sekitar 500 orang. Sementara Dharma Wanita bekerja sama dengan KJRI Melbourne mengisi acara, menjual tiket, makanan, dan barang-barang kerajinan sumbangan warga Indonesia di Melbourne. Hasilnya lumayan, dan cukup untuk membangun sebuah asrama pemuda di Aceh.

Ketika memberikan sambutan, di situlah untuk pertama kalinya saya melihat seorang Arief Budiman menitikkan air mata dan sempat berhenti berbicara selama beberapa menit. Dia seolah kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan betapa hebatnya bencana itu, dan betapa besarnya korban manusia yang tidak berdosa.

Ketika awal perjumpaan saya pada 1995, dia sempat heran mengapa saya berani mendekatinya dan menanyakan apakah saya tidak takut dipecat. Saya sampaikan bahwa saya juga dulu pernah aktif ketika menjadi mahasiswa walaupun di tingkat kecil-kecilan, dan saya tetap menjaga idealisme saya. Saya adalah seorang profesional dan kebetulan berkecimpung di bidang diplomasi. Saya tanyakan, apakah sebagai PNS dan diplomat saya boleh bergabung dengan Melbourne Discussion Group (MDG), sebuah forum diskusi mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Melbourne yang didirikannya.

Tanpa ragu Arief mempersilahkan saya bergabung dalam setiap diskusi, baik yang diselenggarakan di Melbourne University maupun sebagai anggota di email-group. Banyak para aktivis Indonesia baik dari kalangan akademis maupun LSM yang bergabung di MDG dan awalnya tidak sedikit yang mencurigai saya sebagai mata-mata pemerintah. Arief Budiman meyakinkan anggotanya bahwa saya bukanlah seorang mata-mata dan dia mengenal secara pribadi. Buat saya ini adalah forum yang bagus untuk saling berbagi informasi.

Pernah suatu ketika sekitar akhir 1999 saya diminta untuk menjadi salah satu narasumber pada acara seminar yang diselenggarakan oleh gabungan berbagai LSM di Melbourne, dan saya diminta untuk mewakili Pemerintah RI karena pembicara dari Pusat "berhalangan" hadir. Sungguh suasana yang tidak nyaman karena temanya tentang Indonesia pasca jatuhnya Presiden Soeharto yang diikuti dengan "jajak pendapat" Timtim dan rangkaian berbagai krisis di Indonesia. Image Indonesia di mata Australia terutama di kalangan LSM dan media sangatlah tidak menguntungkan.

Saya satu panel dengan Arief Budiman, yang tentu saja sangat kritis terhadap berbagai kebijakan pemerintah di Indonesia. Hal positif yang menjadi senjata saya adalah kenyataan bahwa pada masa Presiden Habibie-lah pemerintah RI memutuskan untuk membebaskan para tahanan politik dalam jumlah yang sangat besar dan belum pernah terjadi sebelumnya. Itu adalah bentuk nyata dari niat baik pemerintahan Habibie untuk melakukan rekonsiliasi nasional. Saya harus mengakui masih banyak kekurangannnya, tetapi Indonesia telah memutuskan untuk menjadi sebuah negara demokrasi modern.

Selesai seminar kita berjabat tangan, minum kopi, dan berbicara santai. Ada satu hal yang sangat berkesan di hati saya. Terjadinya kerusuhan rasial pada Mei 1998 menyebabkan KJRI Melbourne menjadi berbagai target demonstrasi besar-besaran khususnya dari Melbourne Chinese Association. KJRI juga memiliki "unesay relations" dengan komunitas Indonesia keturunan Tionghoa di Melbourne. Atas jasa salah seorang tokoh senior Tionghoa di Melbourne, Pak Susanto, saya diperkenalkan dengan seorang tokoh muda masyarakat keturunan Tionghoa bernama Tiong Jin. Bapaknya adalah salah seorang tokoh Tionghoa nasional yang sangat dekat dengan Presiden Sukarno atau dikenal sebagai Sukarnois.

Dari pertemuan saya dengan Tiong Jin, saya diberitahu bahwa masyarakat keturunan Tionghoa di Melbourne akan mendirikan sebuah organisasi bernama Committee Against Racism in Indonesia (CARI) sebagai respons atas kejadian di Indonesia. Saya adalah satu-satunya staf dari KJRI Melbourne yang akan diundang sebagai pribadi. Saat memberikan pidato, Arief Budiman memulainya sambil setengah bercanda dengan memperkenalkan diri sebagai Kasno, alias "bekas cino" (bahasa Jawa, artinya "mantan orang China"). Kemudian dia mulai mengritik keturunan Tionghoa dan meminta agar CARI nantinya juga bersikap objektif mengingat banyak perusahaan milik konglomerat Tionghoa yang bersikap diskriminatif terhadap pribumi dalam sistem penggajiannya. Hadirin yang sebagian besar keturunan Tionghoa pun terdiam.

Itulah Arief Budiman. Ketika saya kembali sebagai Konsul Jenderal pada 2004-2009, suasananya sudah jauh berbeda dan sangat cair. Namun Arief tetaplah seorang yang sangat kritis membela orang-orang yang terpinggirkan. Saya pernah berdebat tentang kebijakan Gubernur DKI Jakarta yang melarang beroperasinya becak di Jakarta. Saya katakan bahwa tujuannya sebenarnya baik, permasalahannya adalah bagaimana para tukang becak itu ditingkatkan derajatnya untuk tidak lagi menjadi tukang becak. Akhirnya kita setuju untuk tidak setuju.

Ternyata seorang Arief Budiman memiliki sifat yang cukup "humanis". Dia suka berkaraoke. Ketika itu di Indonesia sedang sangat populer lagu Cucak Rowo. Saya punya koleksi beberapa versi penyanyi, dan ternyata dia juga punya versi lain yang berbeda dengan versi yang saya miliki. Akhirnya kita sepakat untuk "kontes karaoke" di Wisma Indonesia di daerah Brighton dengan tema lagu Cucak Rowo. Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Profesor Arief Budiman bisa menyanyi, walaupun suaranya tidak lebih baik dari saya.

Itulah sekelumit tentang Arief Budiman, seorang aktivis yang konsisten, apa adanya, dan tetap hidup sederhana. Dia bercerita pernah ditawari menjadi menteri, tetapi ditolaknya. Selama jalan, Prof!

M. Wahid Supriyadi Dubes RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus

(mmu/mmu)