Pustaka

Yang Terbentang dalam Sebuah Perjalanan

Wahid Kurniawan - detikNews
Sabtu, 25 Apr 2020 14:02 WIB
tokyo
Foto: akun Twitter @ruthpriscilia
Jakarta -

Judul Buku: Tokyo dan Perayaan Kesedihan; Penulis: Ruth Priscilia Angelina; Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2020; Tebal: 208 halaman.

Apa motivasimu melakukan perjalanan? Pergi ke suatu tempat yang jauh seorang diri, menjadi asing di antara lautan manusia dan geliat kehidupan kota, untuk mencari tetapi sering kali kau tak tahu apa yang kau cari. Mungkin kau hanya butuh kesendirian, tanpa seorang pun teman. Waktu yang kau dedikasikan untuk mengenal dirimu sendiri, meredam suara orang terdekatmu, merenungi hidupmu selama ini, tentang mimpi-mimpimu, keinginan, harapan, dan bagaimana hidupmu sekarang.

Perjalanan, terutama seorang diri, acap berlandaskan motivasi-motivasi tadi. Begitulah, seperti yang dilakukan salah satu tokoh utama dalam novel terbaru Ruth Priscilia Angelina, Tokyo dan Perayaan Kesedihan ini.

Perempuan itu bernama Shira Hidajat Nagano. Ia perempuan karier yang memutuskan berlibur ke Tokyo seorang diri, membawa setumpuk perasaan yang runyam penuh pertanyaan di kepalanya. Ia adalah representasi dari suara orang-orang yang menginginkan kehidupan lebih bebas, lepas dari cengkeraman, sehingga kepalanya teredam dari kekhawatiran-kekhawatiran.

Hidupnya penuh keteraturan, sebab itulah yang dibentuk oleh orangtuanya, terutama sang ibu, untuk selalu tampil baik di segala kondisi; mematuhinya, dan dituntut bisa memenuhi keinginan sang ibu untuk begini dan begitu. Ia mencari kebebasan, ingin sejenak mengangkat kepala dari kehidupan yang terjejal keteraturan itu. Dan Tokyo-lah tujuannya. Kota itu, kendati menjadi kampung halaman ayahnya yang tak mengenal kata pulang itu, pada akhirnya menjadi opsi untuk dikunjungi.

Di kota itu, ia mendapati jawaban atas segenap kecamuk hebat dalam kepalanya. Di kota yang menggigil oleh salju penghujung tahun, alih-alih mendapatkan waktu untuk dirinya sendiri, tetapi takdir rupanya membelokkan angin dalam hidup Shira. Angin itu menjelma seorang lelaki, yang kemudian ia kenal bernama Joshua Sakaguchi Widjaja, seorang yang sekonyong meminta Tolak Angin ketika mereka masih di bandara.

Pertemuan yang sesungguhnya sama sekali tak ia harapkan itu ternyata memberi keterlanjutan. Lelaki itu bukan orang biasa, ia pemain biola, yang tiba di kota tersebut dalam sebuah resital grup musiknya. Perkara Tolak Angin itu pun menjadi mula hari-hari mereka, sebab sebagai ganti atas obat tersebut, Shira mendapatkan tiket untuk hadir dalam resital Jushua. Shira hadir di sana, dan cerita ini kemudian bukan saja monolog Shira seorang diri; ia mesti berbagi tempat dengan lelaki itu.

Ia masuk dalam pusaran angin yang diembuskan oleh Tuhan untuknya. Lalu apakah kehadiran lelaki itu mengubah tujuan Shira? Mungkin, iya. Tetapi, bisa jadi juga tidak. Sebab di lain kesempatan kebersamaan mereka, ketika Joshua menanyakan perihal alasan Shira melakukan perjalanan seorang diri, ia mantap menjawab:

Karena gue nggak pernah dikasih jalan sendiri. Selalu ditemani. Gue mau tahu saat sendiri begini gue mau apa, gue mau pulang jam berapa, mau tidur jam berapa, pilih makan apa, pilih kafe kayak apa. Gue mau sekali aja dalam perjalanan gue, gue nggak perlu mikiran orang lain. Nggak perlu diperintah-perintah.

Itu motivasi utamanya, dan jelas saja tak bisa serta-merta tergoyahkan kendati lelaki itu membawa beberapa hal baik bagi dirinya. Ia, si Joshua itu, setidaknya memberi saran terbaik yang ia miliki bahwa masalahnya bukan pergi dari orang-orang yang selalu ribut ini-itu, tapi gimana kamu dengar suaramu sendiri di tengah banyaknya suara.

Itu ia sampaikan dengan menambahkan bahwa lari sekencang mungkin sampai jantung rasanya mau meledak adalah tindakan bagus untuk membungkam suara-suara itu. Shira melakukannya, tentu saja. Namun, yang ia bawa melekat bak noda hitam di kain putih yang membandel, sesuatu yang tak bisa hilang begitu saja.

Novel ini memecah dirinya menjadi dua bagian. Bagian pertama lewat sudut pandang Shira, lalu kedua lewat sudut pandang Joshua. Bagian pertama adalah narasi dan monolog Shira, yang memakai penutur "gue", dan juga cukup baik dinilai sebagai suara seorang perempuan. Di bagian kedua, Joshua mengambil peran dengan memakai penutur "saya", yang juga baik sebagai medium suara lelaki semacam Joshua; sopan, cuek, necis, dan tampak kaya.

Ia pun ternyata memiliki rahasia tentang latar belakang dirinya. Ia sesungguhnya tak baik-baik saja, tidak serupa yang terlihat oleh kacamata Shira yang memandang lelaki itu tak menderita luka apa pun. Lain daripada Shira, ia terlahir di keluarga yang mendukung penuh dirinya, dimanja, dan menjadi idola ayahnya atas prestasi yang gemilang. Lalu apakah itu selamanya baik? Tidak. Di bagian ini disinggung habis tentang konflik dirinya dengan ayah, kakak, dan luka masa lalu yang menyertainya.

Itu hal lain selain fakta ia liburan seusai konser resitalnya yang ia ingin berjalan tanpa suatu hal apa pun, yang justru dihantam oleh pertemuannya bersama Shira, dan membuatnya mau tak mau ia menganggap penting perempuan itu. Sesuatu dari masa lalu mendesaknya untuk peduli pada Shira; ia tak bisa membiarkan perempuan itu berlalu saja ditelan lubang hitam kesendirian yang mengantar pada keberakhiran.

Pada akhirnya, kendati bukan akhir, mereka menemukan diri mereka seperti dua puzzle yang dipertemukan. Sesuatu yang membebani hati Shira ditambal oleh hal yang datangnya dari Joshua. Sementara bagi diri Joshua, apa yang ia beri dan lakukan seperti sudah menemukan saatnya untuk diberikan untuk perempuan itu. Perpaduan keduanya pun membuat novel yang terbilang tipis ini menjadi kaya arti, terutama ihwal kesendirian dan keputusasaan, dan beberapa hal yang bisa kau lakukan untuk menyikapinya.

Ini novel yang baik, tentu saja. Apalagi bagi jiwa-jiwa yang menemukan dirinya sudah dewasa, dijejali harapan orang lain, dan diatur ini-itu, harus bagaimana dan bagaimana. Hanya saja, novel ini masih memiliki kesalahan minor, yakni kecolongan penggunaan kata ganti, juga typo di beberapa tempat. Tapi memang pasti ada, mengingat novel ini ditulis hanya dalam tempo 11 hari, ditambah waktu revisi atau rewriter yang bahkan oleh penulisnya menvalidasi, ia tak banyak merombaknya.

Akhirnya, memang bukan membawa permasalahan segenap manusia, tapi novel ini setidaknya memberi gambaran atas satu persoalan hidup yang hampir pernah kita rasakan. Maka, untuk menutup ulasan ini, ada satu kalimat yang pas sekali:

Perjalanan yang kauambil bisa menjadi sebuah kenangan yang sangat buruk. Orang yang kauinginkan tinggal, besok bisa jadi sudah menghilang. Menjadi kalah, salah, dan kehilangan akan memberimu ruang untuk menyesal. Menyesal akan membuatmu sedih, tapi itu membuatmu mengingat masa-masa baik yang pernah kaudapatkan. Dari situ kau belajar menghargai hidup.

(mmu/mmu)