Obituari

Arief Budiman: Panutan Kaum Demonstran

Bandung Mawardi - detikNews
Jumat, 24 Apr 2020 13:57 WIB
University of Melbourne Keluarkan Ucapan Duka Atas Meninggalnya Prof Arief Budiman
Arief Budiman (Foto: ABC Australia)
Jakarta -

Kehidupan manusia bukanlah sesuatu yang berjalan dengan tenang dan damai, lancar dan licin. Sebaliknya, kehidupan manusia penuh dengan bahaya, sejak masa bayi sampai menjadi dewasa dan tua.

(Arief Budiman, Indonesia Raja, 23 April 1969)

Pada masa 1960-an, Arief Budiman di Jakarta bergaul dengan kaum sastra. Ia bersama Goenawan Mohamad rajin dolan ke rumah Wiratmo Soekito. Di situ, mereka membaca buku dan bercakap mengenai sastra, filsafat, politik, sejarah, dan lain-lain. Arief Budiman yang berpredikat mahasiswa Universitas Indonesia sudah mulai menulis esai-esai dan membuat sketsa.

Di Jakarta, ia menemukan orang-orang rajin omong secara argumentatif. Ia pun selamat dari lapar gara-gara ditraktir Wiratmo Soekito di warung-warung pinggir jalan. Arief Budiman justru terkenang dengan buku-buku selama dolan atau bermalam di rumah Wiratmo Soekito.

Pengalaman itu memberi pengaruh besar. Pada masa berbeda, Arief Budiman adalah penulis buku-buku, menambahi koleksi bagi para pembaca yang menekuni sastra dan ilmu-ilmu sosial. Skripsi Arief Budiman diterbitkan Pustaka Jaya berjudul Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan (1976). Buku tipis itu pembuktian Arief Budiman serius dalam studi sastra, psikologi, dan filsafat. Buku itu dimulai dengan kalimat-kalimat mengenai puisi gubahan awal Chairil Anwar mengenai kematian.

Pada puisi berjudul Nisan, Arief Budiman memberi tafsir: "Kematian adalah sesuatu yang pasti harus dihadapi oleh setiap manusia. Sehingga dia menjadi rutin. Sehingga dia kurang dihayati lagi, tidak dikenal secara pribadi. Kematian menjadi sesuatu yang abstrak, sampai dia secara pribadi datang mendekat kepada kita."

Kini, kita diminta mengenang kematian Chairil Anwar. Sekian tahun, April selalu mengingatkan Chairil. Kita berlanjut mengenang dan menghormati penekun puisi-puisi gubahan Chairil Anwar bernama Arief Budiman (lahir 3 Januari 1941), yang meninggal dunia Kamis (23/4) kemarin.

Lelaki Pemberani

Dua tahun lalu, buku persembahan untuk Arief Budiman terbit berjudul Arief Budiman (So Hok Djin): Melawan Tanpa Kebencian. Penerbitan buku itu tanpa acara heboh atau perbincangan berkepanjangan. Buku sederhana dan bukti penghormatan dengan kata-kata. Kemauan menulis (lagi) mengenai Arief Budiman seperti kerja menguak puisi yang belum selesai dan esai yang masih bertaburan pikat.

Arief Budiman lelaki pemberani. Pada saat politik membara (1965-1966) ia bersuara di jalan dan menulis. Di hadapan kekuasaan, ia melawan dengan kedirian unik. Pada elite politik yang berdandan necis dan berpeci, Arief Budiman mengoreksi mereka dengan tampilan berpeci dalam demonstrasi bersama KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) 1966. Lelaki muda berpeci itu menjelma seribu tanda seru bagi penguasa.

Tanda seru tak mau redup saat muncul penguasa baru bernama Soeharo. Lelaki itu tetap kurus tapi keras. Tulisan-tulisan keras bermunculan di koran dan majalah. Di mata penguasa, Arief Budiman harus digebuk agar kata-kata tak memberi petaka ke tata kekuasaan baru. Goenawan Mohamad di Tempo, 19 Juni 1971 menulis tentang si lelaki bertanda seru:

Ia sebenarnja tak perlu djadi pembangkang. Umurnja 30, sardjana psichologi jang berpenghasilan baik, bapak sepasang anak dan kepala rumahtangga jang tanpa kekurangan (TV, skuter, kamera, musik, dan buku-buku - semua hasil keringatnja) serta reputasi jang lumajan sebagai penulis. Rambutnja ditjukur amat pendek, dan meskipun tingkahlakunja mungkin tidak netjis, dia bukan tipe urakan. Tapi ini mungkin tjuma sosok lahirnja. Sebab gambaran Arief Budiman kini hampir 100% identik dengan tukang protes profesional.

Di buku persembahan, Goenawan Mohamad memberi esai berbeda rasa dari tulisan tahun 1971 itu. Mereka bersahabat sebelum sah menjadi penulis tenar, sejak masa 1960-an. Goenawan Mohamad menulis esai berjudul Yang Akrab dengan Yang Murni. Ingatan sulit terhapus saat mereka berkuliah di Universitas Indonesia:

Selama kami berkuliah bersama (saya setahun lebih dahulu), kami akan ketemu dan bicara tentang yang kami masing-masing pikirkan, dan hampir ke mana-mana kami berjalan berdua, dengan mulut dan kepala penuh seni dan filsafat." Mereka terus berjalan bersama sampai turut memberi tanda tangan dalam Manifes Kebudajaan.

Sejak masa 1960-an, Arief Budiman memiliki pergaulan seni dan intelektual. Ia tercatat sebagai pendiri majalah sastra Horison. Esai-esai mengenai seni dan sastra mengukuhkan maksud pemajuan sastra di Indonesia, tak tercecer dari nafsu kekuasaan. Pengabdian di sastra dan kerja mengoreksi kekuasaan itu mendapat pengakuan dari Mustofa Bisri (Gus Mus) di gubahan puisi apik:

mereka yang kini/ menganggap demonstrasi/ sebagai gaya hidup tak mengenalmu/ padahal kaulah meski/ tak meneriakkan takbir/ pelopor demokrasi jalanan sejati/ yang mendemonstrasikan kejujuran/ dan nurani tanpa mencibir/ melawan kemungkaran/ dan ketidakadilan tanpa kebencian.

Ia memang melintasi jalan-jalan demonstrasi tanpa takut dipenjara atau dimusuhi Soeharto. Vedi R Hadiz mengatakan bahwa peran itu menjadikan Arief Budiman panutan bagi kaum intelektual dan kaum demonstran pada masa 1980-an dan 1990-an.

Leila Ch Budiman memberi nostalgia, sejak asmara sampai hari tua. Semula, Leila itu penerima surat-surat cinta gubahan Arief Budiman. Perkara asmara dan surat, si pembangkang justru tampil sopan dan romantis. Mulut belum berani berucap dengan kata-kata menjatuhkan hati perempuan. Surat ditulis mirip doa kenekatan. Di mata Leila: Ia tampak lusuh, sangat kurus, dan sering menyendiri.

Surat mulai ditambahi gubahan puisi-puisi berkhasiat. Lakon pun berubah. Mereka sampai ke pembuatan janji hidup bersama. Puluhan tahun mengarungi hidup sebagai suami-istri, Leila mengakui penuh gejolak: kadang indah memukau, kadang jatuh terpuruk.

Pada masa lalu, predikat sebagai penulis surat dan puisi tertutupi kegemasan dan kegandrungan orang membaca esai-esai dan buku-buku garapan Arief Budiman. Biografi intelektual lebih memancar ketimbang diri di jalan sastra. Orang-orang sering mengetahui keampuhan Arief Budiman di jalan, kampus, dan ruang-ruang kekuasaan. Keampuhan di rumah jarang diwartakan saat ia bermukim di Salatiga, Prancis, Amerika Serikat, dan Australia.

Pengisahan yang terlambat sampai ke pembaca ditulis Susanti Kusumari, putri Arief Budiman-Leila Ch Budiman. Si putri menganggap sang bapak adalah manusia lembut dan humoris. Pembaca diajak sejenak membuat selingan agar tak melulu mengesahkan Arief Budiman adalah pembangkang sepanjang masa atau lelaki bertanda seru yang tak pernah mau tamat.

Bandung Mawardi kuncen Bilik Literasi

(mmu/mmu)