Analisis Zuhairi Misrawi

Puasa di Timur-Tengah pada Masa Corona

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 23 Apr 2020 17:00 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Puasa tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Seluruh umat Islam akan menjalani dalam suasana yang tidak seperti biasanya, di tengah wabah corona. Timur-Tengah pun akan menjalani ibadah puasa pada bulan Ramadhan tahun ini dengan suasana sunyi. Hal ini harus diambil untuk memastikan penyebaran corana tidak meluas.

Tabloid Shawt al-Azhar, yang diterbitkan oleh al-Azhar, Mesir secara khusus menyajikan kajian dan informasi seputar corona, termasuk apa yang harus dilakukan selama di bulan Ramadhan. Al-Azhar memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya terhadap para tenaga medis, khsusunya dokter, perawat, dan para relawan. Al-Azhar menyampaikan rasa solidaritas yang tinggi terhadap para martir yang telah berjuang di medan penyembuhan pasien corona.

Bulan Ramadhan di Timur-Tengah merupakan bulan yang penuh makna, sebagaimana di belahan dunia Islam lainnya. Namun kekhasannya selalu memberikan kesan tersendiri. Pada umumnya, hampir sebagian besar negara-negara di Timur-Tengah menyambut bulan suci Ramadhan dengan suka cita, meriah, dan gegap-gempita. Tidak hanya syiar agama, melainkan juga kegiatan-kegiatan kemanusiaan yang tidak ditemukan pada hari-hari lainnya.

Salah satunya adalah tradisi Maidatur Rahman, yaitu hidangan kasih-sayang. Hampir di seantero Timur-Tengah mempunyai tradisi memberi dan berbagi, yang dilakukan secara masif. Sebab itu, selama bulan Ramadhan ini kita akan menemukan masjid menyuguhkan makanan buka puasa dan sahur bagi para jamaahnya. Tidak hanya itu, pinggir jalan dan sudut-sudut kota dipenuhi dengan tenda-tenda yang disediakan bagi orang-orang yang hendak berbuka puasa.

Filosofinya, orang-orang yang tidak mampu selama bulan Ramadhan tidak perlu memikirkan apa yang harus dimakan saat berbuka dan sahur. Orang-orang mampu sudah menyediakan makanan bagi mereka. Tidak hanya itu, masih ada zakat harta bagi warga miskin yang disalurkan melalui masjid dan lembaga-lembaga zakat.

Maka dari itu, kasih-sayang Tuhan selama bulan suci Ramadhan melimpah ruah yang disalurkan oleh mereka yang mampu kepada mereka yang tidak mampu. Inilah bulan Ramadhan yang mempunyai kekhasan sebagai bulan berbagi di antara sesama. Setiap orang yang mampu berlomba-lomba dalam kebajikan (fastabiqul khairat).

Selama kuliah di al-Azhar, Kairo, Mesir saya begitu takjub melihat fenomena tersebut. Ramadhan tidak hanya menjadi bulan ketika umat Islam melaksanakan ibadah puasa, tetapi juga menjadi bulan berbagi bagi sesama. Kasih-sayang Tuhan benar-benar dibumikan di bulan puasa.

Orang-orang yang tidak mampu akan menyambut bulan puasa dengan suka cita, karena mereka sudah dijamin melalui Maidatur Rahman. Sedangkan orang-orang yang mampu juga akan merasa senang dan bahagia, karena mereka bisa membahagiakan orang lain, mereka yang selama ini hidup tidak berkecukupan.

Kami para mahasiswa yang biasa hidup dari beasiswa pas-pasan selalu berbahagia menyambut bulan Ramadhan. Bagi kami, bulan Ramadhan adalah bulan penuh kebahagiaan, karena kami akan mendapatkan makanan yang bergizi. Bahkan di antara kami ada yang hafal jadwal menu yang disajikan setiap masjid.

Misalnya, jika kami ingin makan daging sapi, maka kami biasanya mencari masjid yang biasa menyajikan daging sapi. Jika kami ingin daging ayam, maka kami mencari tempat yang biasa menyajikan daging ayam. Itulah pengalaman indah selama menimba ilmu di Timur-Tengah. Ramadhan menjadi bulan meningkatkan gizi.

Dalam suasana wabah seperti sekarang ini, pemandangan itu tidak akan terlihat kembali. Pasalnya, masjid-masjid ditutup dan tidak ada lagi tempat yang memperbolehkan kerumunan massa. Meskipun demikian, al-Azhar sudah mengeluarkan pandangan atau fatwa agar Maidatur Rahman pada tahun ini tetap digelar secara delivery.

Jika biasanya makanan untuk berbuka disediakan di masjid-masjid dan tenda-tenda di pinggir jalan, maka sekarang dapat disalurkan langsung dengan cara diantarkan kepada mereka yang membutuhkan. Warga diperintahkan untuk terus menetap di rumah. Nanti makanan yang akan mengunjungi orang-orang yang tidak mampu selama berbuka dan sahur.

Saya membayangkan jika tradisi ini juga berlangsung di negeri ini selama bulan puasa, pasti akan meringankan beban mereka yang terdampak dari wabah corona. Tradisi Maidatur Rahman dapat menginspirasi kita semua agar berbagai kepada mereka yang tidak mampu. Saatnya berlomba-lomba untuk berbagi kepada mereka yang tidak mampu.

Al-Azhar juga mengingatkan agar Salat Tarawih dilaksanakan di rumah saja. Selama wabah masih terus mengancam kita, maka Salat Tarawih di rumah merupakan pilihan yang paling baik, bijak, dan membawa kemaslahatan bagi sesama. Sesuai protokol World Health Organization (WHO), kita diminta agar terus menjaga jarak, baik secara fisik maupun sosial.

Salat Tarawih di rumah merupakan ikhtiar bersama agar wabah ini tidak menyebar dan meluas. Kita ingin cepat-cepat agar wabah ini berlalu, dan caranya membatasi penyebarannya dengan cara berdiam di rumah dan beribadah di rumah.

Seluruh negara-negara di Timur-Tengah sepakat untuk menggelar Salat Tarawih di rumah masing-masing untuk mengutamakan keselamatan jiwa umat. Salat Tarawih di rumah pada hakikatnya sejalan dengan prinsip kemaslahatan dan keselamatan di dalam Islam. Hendaklah apa yang kita lakukan tidak membahayakan diri kita dan membahayakan orang lain. Prinsip ini dikenal dalam khazanah Islam dengan la dharar wa la dhirar.

Maka dari itu, hendaklah kita belajar dari pengalaman dunia-dunia Islam, termasuk dari Timur-Tengah. Spirit berbagi dan kasih-sayang selama bulan Ramadhan sejatinya tidak kendor, melainkan harus lebih "cetar" lagi. Mari kita jadikan bulan Ramadhan sebagai bulan berbagi dan menebarkan kasih-sayang di antara sesama.

Mari kita pastikan agar mereka yang tidak mampu dapat menjalankan puasa dengan tenang, yaitu melalui kedermawanan dan keramahtamahan yang dilakukan oleh orang-orang yang mampu. Jika kita dapat melakukan ini, pada hakikatnya kita sedang benar-benar beragama dan benar-benar berpuasa. Marhaban Ya Ramadhan.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)