Kolom

Hari Bumi 2020: Melanjutkan Tren Aksi Iklim

Abiyyi Yahya Hakim - detikNews
Rabu, 22 Apr 2020 16:00 WIB
Logo peringatan 50 tahun Hari Bumi (Foto: earthday.org)
Jakarta -

Pada 22 April ini kita bertemu lagi dengan Hari Bumi atau Earth Day. Peringatan tahun ini menjadi peringatan ke-50 tahun Hari Bumi. Ketika itu, 22 April 1970, 20 juta rakyat Amerika Serikat turun ke jalan untuk mengecam kerusakan lingkungan. Jumlah yang cukup besar karena itu sejumlah 10% penduduk Amerika Serikat ketika itu. Lima puluh tahun berlalu dan Hari Bumi diakui menjadi aksi massa terbesar (largest civic event). Dan biasanya kita suka memberikan perhatian khusus kepada peringatan "emas" seperti ini.

Peringatan yang sudah berusia "emas" ini juga menyadarkan kembali kepada kita semua bahwa kesadaran terhadap adanya kerusakan lingkungan sudah muncul sejak lama. Lima puluh tahun lalu pemicunya adalah tumpahan minyak di California setahun sebelumnya, 1969. Seorang senator bernama Gaylord Nelson merencanakan suatu aksi massa terbuka pada musim semi, yang akhirnya aksi itu mengumpulkan 20 juta orang. Desakan aksi tersebut setidaknya menghasilkan pembentukan Environmental Protection Agency (EPA) di AS sebagai komitmen memasukkan kepentingan lingkungan dalam agenda nasional.

Tren Aksi Iklim

Dalam dua tahun ke belakang, tren aksi iklim kembali mencuat, dimulai dengan munculnya Greta Thunberg yang menyita perhatian dunia dengan aksi mogok sekolahnya pada Agustus 2018. Sebelum itu, gerakan aksi bukan tidak ada. Hanya saja tidak ada perbaikan secara signifikan dari lingkungan. Keadaan bumi tetap semakin rusak, dan dampak-dampaknya kian terlihat.

Mungkin memang butuh anak polos seperti Greta yang di umur 8 tahun heran mengapa dengan keadaan seperti ini tidak ada yang bertindak. Tujuh tahun kemudian ia makin geram, lalu bolos sekolah pada hari Jumat, duduk sendirian di depan gedung parlemen Swedia. Baginya, untuk apa sekolah jika masa depan generasinya tidak ada.

Hari Bumi tahun ini mengangkat tema Climate Action. Setelah aksi mogok sekolah hari Jumat Greta mendapat perhatian dunia, pemuda lokal di bagian dunia lainnya mengikuti, sampai kemudian menjadi gerakan "hari-hari Jumat untuk masa depan" (Fridays for Future), yang dengan cepat menjadi inspirasi untuk membuat gerakan di tiap negara, berbasis anak muda. Tidak lupa Extinction Rebellion (XR) yang bermula di Inggris juga menggemparkan karena bentrok dengan petugas aparat. Kini gerakan XR beriringan bersama Fridays for Future dengan Climate Strike-nya tersebar di negara-negara.

Tren aksi iklim ini mencapai puncaknya pada 20 September 2019, ketika aksi Global Climate Strike ketiga (setelah Maret dan Mei) diselenggarakan serentak di 150 negara, dan di dalam negeri berlangsung di 18 kota. Bukan tanpa momentum, tema senada juga digaungkan Hari Perdamaian Internasional (21 September) atau International Day of Peace ketika itu, yaitu Climate Action for Peace.

Puncaknya, seakan menyambut Hari Perdamaian Internasional yang bertema aksi iklim tersebut, pada 20 September 2019, jutaan manusia dari seluruh dunia turun ke jalan melakukan climate strike atau jeda untuk iklim, meminta perhatian pemerintah negara-negara dunia untuk memberi perhatian terhadap krisis iklim. Aksi ini juga menyambut UN Climate Action Summit di New York pada 23 September 2019, pertemuan pemimpin negara-negara dunia untuk membicarakan aksi iklim yang dinaungi oleh PBB. Komitmen mematuhi Paris Agreement 2015 dibicarakan kembali.

Greta yang ikut berorasi dalam pertemuan tersebut menggemakan, "How dare you?" kepada pemerintah negara-negara dunia, untuk sikap yang ia anggap masih mengabaikan perubahan iklim. Setelah itu, Greta kembali berlayar ke Eropa untuk tetap mengampanyekan aksi hari Jumat-nya. Aksi massal climate strike jadi rutin diadakan, sekitar tiap dua bulan sekali.

Tetapi apakah aksi massa cukup berpengaruh? Dalam beberapa kasus, benar suatu aksi dapat mendorong kebijakan pemerintah. Dan kadang diperlukan momentum atau bencana yang menjadi pemicu untuk membangkitkan kesadaran akan kesalahan kebijakan.

Momentum Dekade

Pada akhir tahun dan dekade, UN Environment Programme menetapkan 2010-an sebagai the lost decade of climate action, dengan tidak adanya aksi signifikan yang memperlambat laju perubahan iklim. Juga, UNEP menyerukan istilah darurat iklim (climate emergency) dibandingkan perubahan iklim (climate change), seperti diunggah pada akun Instagram UNEP pada 29 Desember lalu.

Dekade telah berganti. Ternyata 2020 dibuka dengan banjir Jakarta, yang kemudian terjadi lagi bulan berikutnya, dan akhirnya tidak ditepis oleh ilmuwan bahwa hujan ekstrem yang memicu banjir tersebut tidak lain juga merupakan akibat dari perubahan iklim. Dalam lingkup mancanegara, tentu kita tidak lupa dengan kebakaran Australia yang juga dampak andil dari fenomena perubahan iklim. Dua bencana ini sudah menjadi pemicu pengamat dan ilmuwan iklim mengingatkan kembali akan nyatanya dampak perubahan iklim.

Isu mereda, tetapi kemudian dunia dihadapi krisis lain yang tidak terduga, berupa pandemi. Akibat krisis pandemi ini banyak kebijakan besar yang dilakukan demi mengantisipasi penyebaran penyakit ini. Tidak tanggung-tanggung, aktivitas mobilisasi sangat dibatasi. Pembatasan maksimal yang menjadi istilah populer baru, lockdown, diterapkan di beberapa negara yang terdampak parah. Negara-negara lainnya banyak yang mengikuti. Sekalipun tidak lockdown pun pembatasan berskala besar diterapkan. Perubahan pemandangan mulai terjadi. Kapan lagi kita bisa melihat langit maupun sungai yang lebih bersih?

Melihat semua ini saya rasa ini juga merupakan aksi massal. Bedanya, langit dan sungai yang lebih bersih ini merupakan dampak dari antisipasi lainnya, bukan murni karena kita ingin mengurangi polusi agar kita mendapatkan pemandangan langit dan sungai bersih. Namun yang dapat kita pelajari adalah kemampuan kita (warga dunia) untuk beraksi dalam mengantisipasi satu hal besar yang dianggap mendesak. Sekali lagi, UNEP pun sudah menyatakan keadaan darurat iklim.

Tidak dapat dipungkiri yang menjadi perhatian saat ini adalah krisis pandemi. Keadaan ini mengubah banyak perencanaan. Kampanye aksi Hari Bumi yang akan dijalankan secara online ini mungkin hanya akan menjadi momentum sesaat, seperti Hari Air Sedunia bulan lalu. Dua aksi Climate Strike pada April (tanggal 3 dan 24) pun sudah dibatalkan akibat keharusan pembatasan fisik.

Namun seperti halnya krisis pandemi ini, kita tak perlu perayaan seremonial satu hari dalam menghadapi krisis iklim. Karena krisis tidak berlangsung dan selesai dalam sekejap. Aksi iklim yang dituntut dalam tema Hari Bumi pun bukan sekadar unggah kampanye di media sosial, namun memulai perilaku ramah lingkungan dari diri, dan tidak hanya satu hari. Seperti diunggah Earth Day Network di akun Instagram, "Earth Day is every day and anywhere you are."

(mmu/mmu)