Sentilan Iqbal Aji Daryono

Saatnya Mengusir Tikus-Tikus

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 21 Apr 2020 16:25 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Ada dua hal paling menyebalkan yang saya jumpai pada dua pekan terakhir. Pertama, seorang lelaki batuk-batuk tanpa masker dan tanpa menutup mulutnya saat saya membeli pecel lele di dekat jalan sana. Kedua, iklan racun tikus melintas di linimasa Facebook dengan memajang foto tikus betulan, dalam tampilan close up yang begitu menyeramkan.

Ya, saya memang membenci tikus. Bahkan saya sangat yakin bahwa Homo sapiens yang lurus, yang baik dan benar, yang setia kepada khittah kemanusiaan sejati, semestinya membenci tikus-tikus. Inilah keyakinan saya yang tertancap sejak lama, dan akan terus saya yakini selama-lamanya.

Relasi saya dengan tikus memang tidak pernah baik. Dan saya tidak pernah berencana untuk membuatnya menjadi baik.

***

Saya ingat hari itu. Saat itu saya masih berstatus pengantin baru. Sebagai suami pemula, sudah menjadi kewajiban tertinggi saya untuk menunjukkan kepada istri bahwa saya adalah sosok lelaki yang pantas dikagumi, layak dijadikan pengayom, dan siap melindunginya dalam menghadapi segala jenis marabahaya penghadang laju perahu rumah tangga.

Sialnya, tantangan yang muncul pada hari itu bukanlah kemiskinan ataupun omongan buruk tetangga, melainkan seekor tikus yang tiba-tiba nyelonong masuk ke dalam rumah kontrakan tanpa kami duga. Kurang ajar. Segeralah, dengan gagah perkasa saya menyambar sapu, lalu dengan hati-hati berusaha menemukan tikus sialan yang ngumpet di balik lemari baju.

Niat saya dalam hati sama sekali bukan untuk menggebuknya, berbeda dengan harapan istri saya. Saya hanya ingin memergokinya, lalu pura-pura mengejarnya. Tentu biar dia lari cepat menjauh dari saya, minggat melalui pintu rumah yang sengaja saya buka.

Tapi, apa yang terjadi kemudian? Tikus itu melesat berlari di sela kaki-kaki kami! Sontak, insting survival saya pun memberikan respons. Saya menjerit panik. Ketika sadar, saya dan istri ternyata sama-sama sudah berdiri di atas meja.

Sejak hari itu, terbukalah jati diri saya. Istri saya tak mungkin mengandalkan saya dalam menghadapi tikus-tikus. Dan itu membawa potensi persoalan yang sangat-sangat besar di kemudian hari.

***

Saat anak pertama kami sudah lahir, kami tinggal di sebuah rumah kontrakan yang berbeda. Rumah itu berdiri agak berdempetan dengan rumah tetangga, dengan celah antartembok sejengkal saja.

Bagian dapur rumah itu, oh Tuhan, sering diserbu tikus-tikus. Belasan jumlahnya. Kadang-kadang mereka sampai naik ke atas kompor, juga menyentuh piring dan panci-panci. Benar-benar nggak ada akhlak sama sekali. Lalu saat salah satu di antara kami ada yang membuka pintu dapur, barulah mereka berebut melarikan diri. Hiii.

Ini tak dapat dibiarkan. Maka, sambil membawa segumpal dendam, saya pun membeli bubuk racun. Konon racun itu bisa bikin tikus-tikus MDT, kalau istilah polisinya. Meninggal di tempat. Rencana saya, setelah tikus-tikus itu mampus di sekeliling wadah racun, saya akan meminta ART kami untuk memunguti mayat-mayat mereka, lalu membuang semuanya tanpa saya perlu melihatnya.

Kampretnya, iklan MDT itu cuma iklan saja. Fakta yang terpampang kemudian tikus-tikus itu terkapar di mana-mana. Di sudut sana, di pojok sini, dan yang paling merepotkan adalah di celah antara dua tembok rumah yang sempit sekali. ART kami tidak bisa meraihnya. Jadilah, dia mengadu kepada saya.

Tak ada pilihan lain, saya pun mengintip ke celah itu. Tentu sambil bergidik ngeri berkali-kali. Sampai kemudian muncul ide cemerlang di otak saya yang jenius ini: saya akan memerciki bodi tikus-tikus itu dengan bensin, lalu membakarnya sampai jadi arang. Semacam proses kremasi. Tentu, nantinya kami tak akan perlu memindahkan arang-arang itu, sebab arang dan abu tak bakal jadi bangkai berbau.

Maka, bensin pun saya percikkan, api yang saya sulut di ujung kertas saya sodorkan. Wuzzzz! Seperseratus detik saja, dan saya melihat segalanya bergeser terlalu jauh dari rencana. Api itu membesar dengan sangat cepat, naik menjilati tembok dua rumah! Duh, Gusti!

Ingin rasanya saya melolong meminta tolong kepada siapa pun yang ada di sana. Tapi pergulatan kilat antara panik dan malu ternyata belum membuat saya gila. Seketika saya pun berlari menyambar ember, mengisinya dengan air bak mandi, menyiramkannya bolak-balik sambil merapalkan doa-doa dalam kondisi batin limit X mendekati putus asa.

Ketika api itu akhirnya padam, saya ambruk terduduk dengan lutut gemetaran. Nyaris saja saya membakar minimal dua rumah orang. Nyaris saja. Dan kini, yang tersisa di depan hidung saya adalah bangkai-bangkai tikus yang becek terguyur air, lima puluh kali lipat lebih menjijikkan daripada sebelumnya.

***

Saya coba menelusuri dari mana semua ini bermula. Saya menduga keras, dua film tayangan TVRI di masa kecil saya adalah tersangka-tersangka utamanya.

Film pertama. Saya ingat pasti, itu film berlatar revolusi fisik pasca-1945. Bisa jadi itu Janur Kuning, meski mungkin juga Enam Jam di Jogja. Yang jelas terekam di benak saya, di film itu ada penggalan cerita tentang beberapa tentara NICA yang melakukan sweeping ke kampung-kampung untuk menciduk para gerilyawan republik.

Nah, saat "anjing-anjing NICA" gagal mencokok para pejuang, dan hanya menemukan beberapa ibu dan anak perempuan, mereka itulah yang jadi sasaran. Interogasi pun dijalankan, tentu saja dengan sedikit siksaan. Dan, salah satu wujud siksaannya adalah...menjejalkan seekor tikus ke mulut seorang gadis!

Perut saya mual seketika. Sebelumnya, tak pernah ada imajinasi di kepala Iqbal Kecil bahwa seekor tikus bisa dijejalkan masuk ke mulut manusia. Tapi sejak hari itu saya jadi tahu bahwa yang semacam itu mungkin-mungkin saja.

Akibatnya, bayang-bayang mengerikan itu terus menghajar saya. Hasil finalnya, alih-alih semangat kebangsaan yang membulat dan kecintaan kepada NKRI yang menyala-nyala setelah nonton film perang gerilya, yang terjadi malah bayangan moncong tikus yang menggeliat-geliat tanpa henti menyentuhi pangkal lidah saya.

Saya benci film itu. Saya tak sudi menelusurinya lagi, meski kadang ada juga sedikit rasa penasaran, apakah teror masa kecil saya itu bikinan Usmar Ismail ataukah Alam Surawidjaja.

Teror kedua datang tak berapa lama setelah film pertama. Jika tidak selip ingatan, itu film Sunan Kalijaga. Berlatar krisis ekonomi selepas Perang Paregreg yang menghancurkan Kerajaan Majapahit, pemandangan kemiskinan dan kelaparan terpampang di mana-mana.

Dan, salah satu yang disajikan dengan vulgar adalah betapa satu keluarga kecil yang kehabisan stok makanan menangkapi tikus-tikus lalu memasaknya!

Lagi-lagi, itu referensi kehidupan yang sama sekali baru dalam khazanah imajinasi masa kecil saya yang tak seberapa. Peristiwa saya menonton film itu terjadi jauh-jauh zaman, sebelum kasus mie "ayam" daging tikus yang pernah menghebohkan Jogja.

Walhasil, tak ada pelajaran pertobatan seorang Brandal Lokajaya ataupun dakwah kultural agama yang menancap di kepala saya selepas nonton Sunan Kalijaga. Yang tinggal membekas hanyalah citra irisan-irisan daging tikus dalam sebuah mangkok. Gambaran itu terus mengusik mimpi-mimpi saya, membuat segala makanan berkuah jadi terasa mengerikan di sepanjang masa kecil saya.

***

Tikus-tikus brengsek. Saya tahu, tikus-tikus yang mampir di dapur rumah kami hari ini tidak punya dosa besar, selain cuma sesekali membobol kantong beras atau meninggalkan sisa gigitan pada buah-buahan.

Tapi manusia kadangkala memang dihidupi oleh tumpukan dendam yang sulit terjelaskan. Kita pernah tak suka kepada sesuatu tanpa kita sungguh-sungguh tahu kenapa. Kita barangkali membenci tanpa bisa menjelaskan dengan nalar kenapa kita membenci. Kita terus ngeri kepada sesuatu, padahal sebenarnya yang kita takuti hanyalah masa lalu.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)