Kolom

Tata-Pan-Demi Indonesia Jaya

David S Perdanakusuma - detikNews
Senin, 20 Apr 2020 09:15 WIB
Ilustrasi Corona
Jakarta -

Saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami bencana nasional pandemi Covid-19. Ancaman untuk seluruh rakyat Indonesia ini berimbas pada berbagai aspek kehidupan secara kompleks. Istilah pandemi berasal dari bahasa Yunani, "pan" yang artinya semua dan "demos" yang berarti orang. Pengertian secara umum adalah wabah penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menimbulkan banyak korban, dan meluas ke seluruh dunia.

Mengupayakan pengelolaan dari semua pihak, mulai dari kehadiran negara dan dukungan dari masyarakat diperlukan untuk menata pandemi agar dapat segera teratasi. Sebagai ilustrasi adalah kasus panfacial fracture, suatu kelainan patahnya tulang wajah secara luas akibat trauma. Kelainan yang timbul sangat kompleks. Diperlukan urutan sistematis pada rekonstruksi semua tulang yang patah untuk mendapatkan hasil terbaik.

Penanganan panfacial fracture dilakukan oleh dokter bedah plastik rekonstruksi dengan menata dan mengembalikan posisi semua tulang wajah yang patah untuk kemudian diimobilisasi. Upaya ini tidak cukup bila penderita tidak memberi respons baik dalam proses pemulihan. Bila tidak ada dukungan dan kepatuhan pasien, proses bisa berjalan lama dan mendapat hasil akhir yang kurang baik. Sama halnya bila tidak dilakukan upaya perbaikan oleh dokter, bisa terjadi penyembuhan dengan kondisi tulang yang tidak beraturan dan mudah bergeser mengakibatkan deformitas permanen yang sulit diperbaiki. Wajah akan berubah, tidak mudah lagi dikenali.

Penataan pandemi Covid-19 ini dapat dianalogikan dengan rekonstruksi reposisi dan imobilisasi pada panfacial fracture dalam bentuk lain yaitu dengan mencegah penularan, deteksi penyakit yang baik dan respon penanganan yang cepat dan tepat. Semua pihak perlu terlibat untuk mendapat keberhasilan maksimal. Pemerintah berupaya menangani pandemi ini dengan berbagai kebijakan, keputusan, dan sarana. Para peneliti mengupayakan obat dan vaksin untuk Covid-19. Para dokter dan tenaga kesehatan mengupayakan pencegahan dan penanganan penyakit bagi yang tertular dan juga bagi yang sakit.

Tentunya tidak cukup upaya pengelola negara dan bidang terkait. Perlu didukung pula dengan upaya dari masyarakat untuk senantiasa menjaga jarak (physical distancing), tidak batuk sembarangan, sering mencuci tangan, tidak berkerumun, membersihkan berbagai media penularan, berusaha tetap di rumah bila tidak ada keperluan mendesak, imobilisasi dan melakukan isolasi diri secara patuh bila berpotensi sakit atau berpotensi menularkan. Menjaga jarak dan imobilisasi adalah upaya yang sangat penting dalam mendapat hasil yang terbaik dari pemberantasan Covid-19. Diperlukan kepatuhan untuk melaksanakannya.

Bila penanganan hanya dari unsur pengelola negara, dokter, dan tenaga kesehatan lain saja tanpa disertai kepatuhan masyarakat rantai penularan tidak akan putus dan pada akhirnya sistem pertahanan kesehatan akan roboh. Pandemi akan terus berlangsung dan tidak terkendali. Di sisi lain, pandemi ini akan meninggalkan kerusakan yang permanen bila masyarakat yang telah bergotong royong dan melakukan imobilisasi tidak dipimpin secara sistematik dan terpadu. Kerusakan permanen akan terjadi, seperti halnya deformitas permanen pada patah tulang wajah luas.

Pertanyaan yang muncul kemudian: bagaimana menatap pandemi ini sebagai tantangan atau peluang dengan sikap optimis? Banyak hal baik yang bisa didapatkan dari situasi pandemi yang penuh keterbatasan ini. Pandemi ini telah melahirkan budaya baru sebagai hikmah yang dapat dipetik. Contoh dari sisi perilaku: membuat tidak sombong, lebih sabar, bertambah keimanan, ibadah lebih teratur, mensyukuri kesehatan, menjaga kebersihan, dan menumbuhkan budaya hidup sehat.

Selain itu juga menumbuhkan semangat gotong royong saling membantu dan beramal misalnya dengan membuat alat pelindung diri (masker, face shield, hazmat), hand sanitizer dan juga membantu sesama dalam penghidupan. Menghadapi Covid-19 tidak dengan ketakutan yang berlebihan dan tidak pula dengan mengabaikannya.

Di rumah, terjalin kebersamaan yang lebih banyak dan akrab antara bapak, ibu, suami, istri, anak, dan keluarga lain. Semua saling menjaga supaya tetap sehat dan terhindar dari peluang tertular dan sakit. Keterampilan memasak bertambah, membuat kue dengan mencoba resep baru, menjahit, melukis, diskusi bertukar pikiran, menulis buku, menulis artikel dan membuat materi atau modul pembelajaran online.

Pengetahuan juga bertambah dengan adanya waktu luang dan kesempatan membaca buku lebih banyak. Pengetahuan bertambah melalui televisi, media online, dan webinar. Pembelajaran dan ujian online bahkan dimungkinkan dari rumah. Teknologi informasi (zoom meeting, skype) semakin populer dan dimanfaatkan Berbagai ide kreatif muncul dalam berbagai bidang.

Dari berbagai tekanan dan keterbatasan dapat lahir pemikiran lain untuk dapat memenuhi berbagai tuntutan meraih kembali stabilitas kondisi. Usaha ekonomi yang selama ini dijalani menjadi terhambat atau tidak berjalan. Hal ini dapat menimbulkan pemikiran usaha lain sebagai pilihan di luar yang selama ini ditekuni. Bila suatu pintu tertutup ada pintu lain yang terbuka. Kemungkinan adanya peluang baru selalu ada.

Lahirnya optimisme dan berbagai budaya baru yang positif untuk kemajuan bangsa dapat ditajamkan sebagai suatu semangat bersama. Melalui proses pembelajaran dari bencana pandemi ini, Indonesia dapat bangkit menjadi negara yang lebih kuat. Ujian membangun sinergi antara pengelola negara dengan masyarakatnya dalam menghadapi masalah wabah Covid-19 akan dapat terlewati bersama dalam semangat gotong royong. Mengelola masalah luas dan kompleks memerlukan dua arah penyelesaian yang bertemu pada titik temu antara pengelola negara dan masyarakat dalam tata dan tatap.

Masalah pandemi diselesaikan secara sistematik didukung dengan upaya kuat dengan semangat yang menyatu dan mengkristal untuk kebaikan Indonesia. Banyak hal baik bisa melebur dalam akar kebersamaan dimulai dari solid dan sejahteranya satu keluarga. Ini kemudian meluas ke masyarakat kemudian menjadi suatu kesatuan bangsa yang kuat dan sejahtera. Semoga dengan tata yang baik dan tatapan nilai positif akibat pandemi akan terwujud semangat juang demi Indonesia jaya. Salam sehat!

Prof. Dr. David S Perdanakusuma, dr,SpBP-RE(K) Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia

(mmu/mmu)