Jeda

Ilmu Mendatangkan Angin dan Hujan

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 19 Apr 2020 12:32 WIB
mumu aloha
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Alkisah, setelah gagal lulus dalam ujian menjadi pejabat tinggi, Zhang Jiao, seorang terpelajar yang hidup pada sekitar tahun 184 sebelum masehi di dataran Tiongkok bagian timur, segera memutuskan untuk menyepi di sebuah desa. Setiap hari kerjanya naik gunung mencari dan memetik tumbuh-tumbuhan untuk bahan obat.

Maka, sebagaimana umumnya sebuah kisah berlanjut, pada suatu hari sesuatu terjadi; dia bertemu dengan seorang kakek tua, seorang dewa, yang sedang berjalan sambil memegang tongkat. Dewa itu mengajaknya masuk ke sebuah gua dan memberinya sebuah kitab. Siang dan malam dia menekuni isi kitab itu hingga menguasai ilmu "mendatangkan angin dan hujan".

Lalu ia mengembangkan suatu gerakan aliran agama Tao dalam skala besar. Dia juga menyebut dirinya sebagai "manusia mahabijak dan guru terbaik" yang menyebarkan agama Tao kepada murid-muridnya. Oleh karenanya dia mendapatkan penghormatan dan penyembahan dari para pengikut yang percaya padanya.

Dalam praktik pengobatan sehari-hari, ia memakai "tulisan mantra" di atas secarik kertas yang digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit kepada pengikutnya. Melalui praktik pengobatan cara ini, dia telah menyembuhkan banyak orang yang menderita sakit. Pengaruhnya makin lama makin besar sehingga ia mampu menarik ratusan ribu pengikut.

Singkat cerita, ia kemudian juga menggerakkan dan memimpin massa petani miskin yang menderita akibat ulah pemimpin dan penguasa dinasti yang bobrok dan korup kala itu, untuk melakukan pemberontakan, menggulingkan rezim. Dalam sejarah Tiongkok kuno, pemberontakan itu kemudian dicatat sebagai Pemberontakan Ikat Kepala Kuning --karena semua massa pemberontak mengikat kepala mereka dengan kain berwarna kuning sebagai tanda sambil mengibarkan bendera dengan warna yang sama.

Dalam pemberontakan itu, Zhang Jiao menyebut dirinya sebagai Jenderal Dewa Langit. Dalam situasi genting, kerajaan yang mulai terancam dan kekurangan pasukan untuk menumpas pemberontakan berskala besar itu, mengeluarkan pengumuman merekrut tentara dari rakyat untuk mempertahankan kekuasaannya. Dari situlah lahir cerita roman sejarah terkenal Sam Kok: Kisah Tiga Negara, yang mungkin di antara kita telah membacanya, dalam berbagai versi.

Demikianlah keping-keping sejarah peradaban manusia diceritakan kembali, dari satu orang yang menyepi di sebuah desa, melakukan hal yang sama setiap hari, mungkin dengan sedikit atau banyak rasa bosan, lelah, tertekan, dan putus asa pada awalnya.

Para penulis riwayat Hassan Sabah, seorang pemimpin di kawasan Timur Tengah yang lahir pada abad ke-11, menyebutkan bahwa setelah menempati bentengnya, Sang Pemimpin selama tiga puluh tahun terakhir hidupnya hanya dua kali keluar rumah, dan itu pun hanya untuk naik ke atas atap.

Untuk persediaan, pemimpin besar itu membuat sumur-sumur penyimpan minyak, cuka, dan madu. Ia juga mengumpulkan jelai, lemak anak domba, dan buah kering dalam jumlah besar, cukup untuk bertahan hampir setahun jika terjadi pengepungan total --pada masa itu, waktu setahun bisa melampaui daya tahan para pengepung.

Pagi-sore dia duduk bersila di atas tikar yang telah usang. Ia mengajar, menulis, bersembahyang, mendirikan sebuah perpustakaan yang amat besar, yang menyimpan karya-karya paling langka, sambil memimpin dan memerintahkan kelompok pembunuhnya memburu musuh. Dalam sejarah, Hassan Sabah dicatat sebagai pemimpin sebuah sekte kaum pembunuh paling kejam dan menakutkan yang pernah ada. Semua dilakukannya nyaris tanpa keluar rumah!

Hari-hari ini, kita mungkin telah menghitung, telah berapa lama berdiam di rumah untuk menghindari penularan sebuah wabah, dan masih akan berapa lama lagi. Kita mulai diserang kebosanan, kecemasan, dan berbagai perasaan yang tak menentu akibat ketidakpastian perkembangan kondisi dunia di luar sana. Kita teringat dan merindukan kembali hari-hari kita di masa lalu, yang belum lama berlalu, yang penuh dengan kesibukan, jadwal, dan rencana-rencana.

Kita pun mulai berangan-angan, seandainya semua ini berakhir, apa yang akan kita lakukan. Kita terbiasa dengan segala bentuk rutinitas, aktivitas, dan berbagai hal yang membuat kita sibuk --pertemuan-pertemuan, acara-acara, agenda-agenda yang tiada putusnya. Kita terbiasa dengan pemikiran-pemikiran besar: harus melakukan ini, harus melakukan itu, harus memberi makna pada kehidupan ini, harus menyalurkan aspirasi, mempertegas eksistensi, mengubah dunia.

Kita bukan hamster yang pasrah di atas roda dalam kandang mungil, melakukan hal yang sama sepanjang waktu, berlari dan terus berlari, sampai tidak bisa lagi merasakan sudah berapa lama waktu mengalir. Kita tak bisa hidup tanpa rutinitas, tapi juga bisa "mati rasa" tanpa variasi. Kita perlu bertemu dengan orang-orang, melihat laut sesekali, bersantai di kafe pada akhir pekan, melewati jalan-jalan lain yang belum pernah kita lalui.

Kita memang tidak ditakdirkan untuk menguasai ilmu mendatangkan angin dan hujan, atau memimpin pemberontakan. Hanya satu orang dalam sejarah peradaban umat manusia ini yang mungkin memang "perlu" ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin besar, yang menggerakkan para pembunuh hanya dengan duduk di atas tikar usangnya di dalam benteng sepanjang hidupnya.

Tapi, pada hari-hari yang berjalan lambat ini, kita mulai berpikir lagi, belajar lagi, bahwa ilmu "mendatangkan angin dan hujan" bukan sama sekali tak ada gunanya. Sekte kaum pembunuh jelas sudah tidak diperlukan lagi untuk zaman apapun. Tapi, berangkat dari pemikiran "kecil", melakukan satu hal yang sama, untuk memberikan dampak besar yang luar biasa, mungkin bisa kita pertimbangkan lagi, untuk setidaknya memberikan kita penghiburan.

Diam di rumah tidak harus berarti memutus rutinitas, dan menutup celah-celah kemungkinan bagi kita untuk tetap menjalani kehidupan ini dengan memberinya makna --kalau memang makna itu ada dan cukup kuat untuk kita pertahankan. Banyak di antara kita yang bahkan mungkin mulai merasakan manfaatnya. Ada yang jadi rajin membaca buku, yang sebelumnya tak pernah sempat disentuhnya sejak pertama kali membawanya pulang dari toko, dan bahkan belum membuka bungkusnya.

Ada yang rajin memasak, dan memamerkannya di media sosial, bahkan menjual hasil masakannya itu untuk tambahan penghasilan. Ada yang mendesain dan menjahit masker untuk didonasikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia. Tapi, kita masih bisa memberikan perbedaan dengan ide-ide kecil yang kita wujudkan. Mungkin filsuf Ludwig Wittgenstein benar ketika ia mengatakan bahwa "betapa kecil pikiran yang dibutuhkan untuk mengisi seumur hidup seseorang."

Ucapan Wittgenstein itu dikutip oleh Siddartha Mukherjee pada bagian awal bukunya The Gene: An Intimate History ketika mengisahkan tentang Mendel, seorang pendeta Ordo Santo Agustinus yang selalu gagal dalam ujian sains dan akhirnya memutuskan untuk berkebun di biara tempatnya bekerja di puncak bukit di jantung kota abad pertengahan, Brno, sejak 1948. Dengan indah dan puitis, Mukherjee menceritakan kembali kehidupan Mendel yang seolah penuh dengan pikiran-pikiran kecil.

Dengan kebun kacang ercis yang ditekuninya, dan tak pernah membuat para pendeta lain memperhatikan bahkan sekadar menunjukkan ketertarikan, Mendel terus menyemai, menyerbuki, membiarkan berkembang, memetik, mengupas, menghitung, dan mengulanginya. Proses itu luar biasa menjemukan. Namun, pikiran-pikiran kecil Mendel akhirnya mekar menjadi asas-asas besar.

Dengan percobaan-percobaan persilangan tumbuhan yang berjalan lambat dan harus ditangani dengan penuh kesabaran, lama-kelamaan Mendel menemukan pola-pola dalam datanya --kekonstanan yang tak terduga, rasio yang bertahan, irama angka. Dia akhirnya berhasil melongok ke dalam logika internal pewarisan sifat; sebuah temuan yang kemudian dengan amat digdaya mendasari revolusi saintifik yang menyapu Eropa pada abad ke-18, dan mengubah arah ilmu pengetahuan untuk selamanya.

Hari ini, kita mungkin terbosan-bosan harus berkali-kali membasuh tangan, sesekali dipaksa menunggui anak-anak kita yang terpaksa belajar di rumah dan dibuat repot membantu tugas-tugas mereka. Hari ini, kita mungkin jengah keluar rumah untuk berbelanja dalam jarak yang dekat saja harus mengenakan masker, itu pun masih ditambah dengan perasaan serba was-was yang tak nyaman.

Tapi, dengan sedikit kesabaran --ya, mungkin memang hanya itu yang kita butuhkan sekarang-- boleh jadi semua itu kelak membuahkan hasil yang tak pernah kita duga --layaknya Zhang Jiao yang akhirnya menguasai ilmu mendatangkan angin dan hujan, atau Mendel, nama yang sudah kita akrabi sejak duduk di bangku SMP lewat pelajaran biologi, yang memberi warisan tak ternilai pada kemajuan sains umat manusia.

Bertahanlah. Ambil tikarmu. Duduklah. Diamlah di rumah. Ciptakan rutinitas baru. Mulailah dari pikiran-pikiran kecil.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)