Kolom

Covid-19 dan Komunikasi Berapi-Api Gubernur BI

Tjipta Lesmana - detikNews
Sabtu, 18 Apr 2020 16:51 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Selasa, 7 April 2020 sekitar pukul 15:00 Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, tampil di forum press briefing secara virtual dari kantornya. Kali ini ia tampil menggebu-gebu, sangat bersemangat tetapi dengan ekspresi wajah seperti bahagia. Ia bicara super-cepat bak orang takut ketinggalan kereta api.

Apa yang dilontarkan Gubernur BI? Pemaparan kesiapan BI menangkal dampak dahsyat pandemi Covid-19, khususnya menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) supaya tetap terkendali. Perry berusaha sekuat tenaga untuk membangkitkan optimisme masyarakat, terutama dunia bisnis bahwa Bank Sentral tidak diam, bahkan sudah mempersiapkan "three-line of defense", pertahanan tiga lapis untuk membendung dampak moneter serangan Covid-19.

Dengan tiga lapis pertahanan yang sudah kita siapkan, kita akan menjaga stabilitas moneter, menjaga supaya nilai rupiah tidak jebol (benteng pertahanan Rp 20.000 ?).
Apa tiga-lapis pertahanan BI itu?

Lapis pertama, cadangan devisa yang BI miliki sebesar US$ 121 miliar. Cadangan devisa sebesar ini diyakini cukup untuk mengintervensi pasar, manakala terjadi gejolak nilai tukar rupiah. Selama beberapa pekan, BI sudah melakukan intervensi di pasar. Alhamdulillah, nilai rupiah cukup stabil, bahkan beberapa hari terakhir menguat terhadap dollar Amerika, kata Gubernur BI.

Lapis kedua, kerja sama SWAP dengan berbagai bank sentral sejumlah negara yang juga telah disiapkan BI.

Lapis ketiga, menyepakati kerja sama repurchase agreement (repo) line dengan bank sentral AS, The Fed. "Repo line ini adalah suatu kerja sama untuk kalau BI membutuhkan likuiditas dolar, ini bisa digunakan," kata Perry dalam video confference hari itu. Menurut Perry, The Fed hanya mau bekerjasama dengan sejumlah negara di emerging market termasuk Indonesia.

Hal ini menandakan kepercayaan The Fed pada Indonesia, "bahwa kita punya prospek bagus dan kebijakan kami prudent dan ini membuat mereka yakin bekerja sama dengan kita dalam bentuk Repo Line," tuturnya. Repo Line, lanjut Perry, adalah FIMA atau facility for foreign and international monetary authorities.

Banyak sekali istilah teknis yang dipergunakan Gubernur Bank Sentral dalam teleconference tersebut. Kami tidak tahu apakah wartawan memahaminya atau tidak. Gubernur menjelaskan Repo Line tidak serta-merta digunakan untuk menambah cadangan devisa kita. Kebijakan Repo Line merupakan merupakan bagian dari skenario terburuk, jika diperlukan.

Yang lebih menakjubkan lagi, jumlah repo line itu bisa mencapai US$ 2 miliar, dengan Singapura US$ 3 miliar, bank-bank sentral lain US$ 500 hingga 1 miliar dolar!

Sebenarnya, apa yang dipaparkan oleh Gubernur Bank Sentral hari itu hanyalah berita yang "sangat menggembirakan" bahwa Bangsa Indonesia tidak usah khawatir apalagi takut menghadapi pandemi Covid-19. Seburuk apa pun situasi yang bakal kita hadapi, bank-bank sentral sejumlah sentral siap mengucurkan utang kepada Indonesia.

Utang, sekali lagi "kabar gembira" yang disampaikan Perry Warjiyo hari itu tentang kesiapan bank-bank sentral luar negeri untuk mengucurkan utang dalam jumlah raksasa yang terkait dampak dari ancaman Corona.Dengan kabar gembira itu, Gubernur Bank Indonesia ingin meyakinkan seluruh bangsa Indonesia tidak usah takut. Sepanjang nilai rupiah bisa kita kendalikan (hingga tidak tembus Rp 20.000 per dolar AS), situasi moneter Indonesia akan aman; dengan sendirinya situasi ekonomi nasional pun tidak usah terlalu dirisaukan.

Ini kan paradigma yang konyol. Perekonomian suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kurs mata uang. Multi-faktor lain ikut berperan penting. Faktor-faktor lain itu, seperti anjloknya ekspor dan investasi asing, terpukulnya sektor pariwisata, penurunan drastis harga minyak dunia, spending anggaran yang "gila-gilaan" untuk meredam jeritan rakyat akibat dihantam Corona, semua itu membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani pusing. Belum lagi pengeluaran langsung untuk penanganan ratusan ribu pasien Covid-19!

Paparan pimpinan tertinggi Bank Sentral, tampaknya, ada kaitannya dengan peringatan Menteri BUMN Erick Thohir, 4 hari sebelumnya, 3 April, bahwa bangsa kita harus siap-siap menghadapi dua skenario buruk akibat Covid-19. Menurut Erick Thohir dalam rapat secara teleconference dengan Komisi VI DPR, 3 April, "Perekonomian Indonesia saat ini sudah berada di skenario berat dan berisiko akan turun ke skenario sangat berat."

Skenario berat ketika nilai rupiah merosot sampai Rp 17.500 per dolar AS; namun kalau rupiah terus melorot hingga Rp 20.000 per dolar AS, itulah skenario terberat yang dimaksud. Skenario berat akan memelorotkan pertumbuhan ekonomi jadi 3-4%; sementara pertumbuhan ekonomi nasional bisa "nyungsep" ke angka 0% bahkan minus, manakala rupiah menembus Rp 20.000 per dolar AS.

Erick Thohir adalah pebisnis yang kaya akan pengalaman di lapangan. Sebagai pemain lapangan, Erick pasti tidak happy dengan kondisi negara yang dililit utang. Bagaimana pemerintah mampu membayar lilitan utang dalam jumlah monster. Untuk bayar bunga utang sekarang pun, pemerintah sudah "ngos-ngosan" ketika utang pemerintah baru mencapai sekitar Rp 4.500 triliun.

Hanya sehari setelah teleconference Gubernur BI yang menggebu-gebu itu, di Komisi XI DPR Menteri Keuangan mengumumkan (dengan suara kalem) pemerintah sudah merilis global bond sebesar US$ 4,3 atau sekitar Rp 68,8 triliun (dengan kurs Rp 16.000 per dolar AS). "Ini merupakan global bond terbesar yang pernah diterbitkan Indonesia. Selain itu, ini menjadi global bond pertama di Asia yang berhasil diterbitkan sejak terjadi pandemi pada Februari 2020," kata Sri Mulyani seolah bangga sekali.

Emisi global bond dilakukan 3 tahap: 1,65 miliar US$, 1,65 miliar US$ dan 1 miliar US$, masing-masing bertenor 10,5 tahun, 30,5 tahun dan 50 tahun. Simak baik-baik, pemerintah mengeluarkan surat utang berdenominasi US$, 1 US$ di antaranya untuk jangka waktu 50 tahun, atau jatuh tempo tahun 2070. Fantastis! Hal ini berarti, setiap bayi yang lahir di negara kita pada 2070 otomatis sudah terbebani utang.

Uniknya, terdapat perbedaan yang mencolok --dari perspektif komunikasi-- antara Gubernur BI dan Menteri Keuangan ketika mengumumkan kiat atau strategi menangani dampai pandemi Covid-19. Yang satu menggebu-gebu dan ekspresi wajah gembira; yang satu lagi dilontarkan dengan suara tenang dan ekspresi wajah datar.

Sri Mulyani menyadari betul apa arti utang bagi suatu negara. Beberapa tahun yang lalu, usai diterima Presiden SBY di Istana --ia mengatakan kepada pers bahwa utang selalu membebani APBN. Maknanya, makin besar utang pemerintah, makin berat beban APBN, makin sulit Negara mencukupi kebutuhan sandang, pangan, kesehatan dan pendidikan rakyat. Maka, Sri Mulyani tidak bisa memperlihatkan wajah yang gembira tiap kali ia bicara utang pemerintah!

Prof. Tjipta Lesmana ilmuwan komunikasi

(mmu/mmu)