Kolom

Membayangkan Masa Cerah Usai Wabah

Zacky Khairul Umam - detikNews
Selasa, 14 Apr 2020 15:00 WIB
Poster
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Seberapa hebat krisis akibat wabah kali ini bisa mengubah sebuah negeri? Di media sosial, ada beberapa suara yang terkesan menjanjikan: habis krisis berbuah manis. Maklum, dulu wabah Black Death pada abad keempat belas di Eropa benar-benar menghantam kawasan itu, membuat efek yang mempercepat lahirnya dunia baru: dari abad pertengahan ke era modern. Dua hal yang terjeda seketika saat itu, yakni perdagangan internasional dan penghentian perang.

Akibat jangka panjangnya, terjadi perubahan struktur para buruh pekerja yang lebih berupah tinggi, sebab sebelumnya banyak dari mereka yang mati akibat wabah. Para profesional di pusat perkotaan pun sama-sama berkembang pesat. Peningkatan mobilitas sosial dan pelemahan posisi kaum feodal pun mendasari suatu perubahan besar pasca wabah yang mengerikan.

Kondisi tersebut menjadi latar belakang dari masa Renaisans di Eropa, yang menjadi awal dari "dunia baru" yang mendorong banyak kuasa imperial di Eropa untuk menjelajah, mengarungi lautan, hingga kemudian melandasi kolonialisme di Asia dan Afrika.

Proses kebangkitan dan perkembangan itu tidak singkat seketika. Kita justru harus melihatnya lebih jeli lagi dalam rentangan waktu yang tidak sebentar, melainkan jangka panjang. Intinya, sebuah wabah yang mengerikan tidak memberikan tiket gratis untuk maju.

Lagi pula, jika kita masih berkutat pada awal kemajuan Eropa, hanya gara-gara Portugis berhasil menaklukkan Malaka pada 1511 dan kemudian disusul dengan ekspansi perusahaan dagang internasional dari Belanda bernama VOC pada periode selanjutnya, maka narasinya tidak lengkap, alias masih Eropa-sentris.

Sementara itu, perkembangan wilayah sekeliling Eropa di sepanjang Lautan Mediterania yang dikuasai oleh imperium Islam relatif memiliki riwayat dan cerita yang lain, tapi dalam banyak sisi saling tertaut dan terpaut dengan dunia Kristen Eropa. Perlahan, penerjemahan dan sirkulasi ragam teks ilmu pengetahuan dari bahasa Arab ke bahasa Latin pada era kebangkitan Eropa itu ikut melatarbelakangi berbagai penemuan baru di Eropa sejak era Galileo dan Newton.

Proses kebangkitan itu panjang dan sering kali terjadi tidak mulus begitu saja. Dengan cerita kebangkitan era baru itu, lantas ada harapan serupa agar wabah kali ini menjadi momentum bagi sebuah negeri bahari, negeri kita sendiri, untuk cepat maju.

Namun, wabah virus corona dari China kali ini, seperti halnya wabah Flu Spanyol seabad lalu, terjadi lebih mengglobal, bukan lagi terbatas satu kawasan. Sehingga efek dan daya lecutnya juga sama. Jangankan perdagangan internasional, yang domestik dan lokal pun terhenti cepat. Masing-masing negara punya dampak yang hampir serupa soal merosotnya pendapatan nasional tahun ini, drastis. Ini berarti peluang dan kesempatan untuk bangkit sama-sama kuat.

Bahkan ada yang bilang, negeri yang mampu keluar dari krisis global kali ini akan menjadi negara adidaya yang baru. Tidak semudah itu melompat pada kesimpulan, sebab kita hidup di masa ketika multilateralisme itu semakin kentara. Meski ada beberapa negara dengan jumlah penduduk dan kekayaan yang banyak, tidak otomatis mereka akan menjadi kekuatan adidaya yang baru, unilateral lagi. Kekuatannya tetap di negara besar, seperti Amerika Serikat, China, Jerman, dan beberapa yang lain.

Jika diukur dari cara penanganan atas corona, Indonesia tampaknya masih enggan untuk menjadi negeri yang maju melesat melebihi yang lain. Ketimbang menjadi peramal masa depan negeri kita usai wabah yang mendunia ini, saya ingin mengajukan pengandaian. Mungkin inilah yang lebih terukur, daripada, misalnya, kita berpatokan pada takaran sejarawan Yuval Noah Harari yang belum tentu pas sesuai dengan latar belakang negeri kita.

Andaian pertama soal matinya birokratisasi yang rumit dan melelahkan. Dalam beberapa bulan ke depan, jika pemerintah mau mengubah cara birokrasi bekerja yang cepat, efisien, dan punya sistem yang meringkus korupsi --sepertinya sesuai keinginan Presiden Jokowi-- maka pertama-tama yang mesti dihapus ialah meniadakan finger print untuk ASN. Siapa tahu, akibat kerja dari rumah, ukuran termudah ke depan ialah bukan setor jari tangan melainkan kinerja di berbagai lembaga pemerintah, termasuk dunia pendidikan.

Sementara itu, yang awalnya perhatian pemerintah ialah soal investasi, pembangunan infrastruktur, dan turisme, seperti kita lihat pada awal tahun ini, mungkin bisa dirombak. Tiba-tiba, pemerintah juga berubah haluan pada pentingnya aspek kesejahteraan sosial untuk semua warga yang tidak ditandai oleh berbagai kartu, tetapi secara radikal mengubah tatanan sistem dan peraturan yang mementingkan kesehatan publik dengan memperbesar cakupan BPJS --sehingga bisa setara dengan yang ada di Eropa Barat semisal negeri Skandinavia dan Jerman-- serta berbagai stimulus untuk menyerap ekonomi kreatif yang mandiri dari bawah.

Lalu dengan melihat data negara dengan jumlah tertinggi soal tempat tidur rumah sakit per 1000 orang, peringkat pertama hingga ketiga diduduki oleh Jepang (rata-rata 13,4 rumah sakit/1000), Korsel (9,56/1000), dan Jerman (8,27/1000). Menteri Kesehatan, mungkin akan diganti pada waktunya, mengusulkan kepada presiden dengan mengajak berbagai pihak swasta termasuk Muhammadiyah, lembaga Katolik, dan NU untuk memperbanyak fasilitas rumah sakit di seantero negeri sehingga menyerupai atau mendekati ranking di atas. Saat ini, rasio Indonesia ialah 1.04 rumah sakit per 1000 orang. Masih jauh.

Dalam bidang pendidikan, penelitian, dan teknologi dalam beberapa bulan ke depan orientasi pemerintah mementingkan berbagai riset mendasar dalam berbagai bidang selain tetap menyeimbanginya dengan ilmu terapan yang selama ini, khususnya setelah CEO Gojek diangkat sebagai menteri, menjadi prioritas utama. Dunia penelitian memiliki hibah dan ragam penghargaan yang bergengsi dan kompetitif, terbuka dengan arus lalu lintas pertukaran dengan dunia luar, dan berjangka panjang.

Perguruan tinggi yang saat ini lebih mirip seperti sistem di Amerika dengan pengangkatan dosen dan guru besar seperti di Jerman atau Prancis, berhasil disintesiskan menjadi model unik negeri ini yang mendukung insentif pemerintah, tetapi juga berkembangnya iklim wakaf pendidikan dari pihak swasta yang sama-sama saling memperkuat budaya ilmiah. Pendidikan dasar dan menengah pun ikut mengarah pada falsafah edukasi yang memerdekakan, bukan membebani, jika perlu seperti Finlandia.

Sementara itu, di balik karantina mandiri dan kerja dari rumah, kebanyakan kita memikirkan hal penting soal kemasyarakatan kita. Politikus yang terpapar virus corona maupun tidak berlomba-lomba menjadi katalisator bagi kepentingan umum. Warga lainnya, yang cendekia, keluar dari jebakan abadi pasca-pilpres yang membagi kategori masyarakat menjadi dua tipe yang keras kepala, dan terbebas dari obskurantisme serta mementingkan penyebaran pengetahuan yang sehat dan seluas-luasnya serta mengikis berbagai bentuk disinformasi dan berita palsu.

Dunia digital kita, secara mendasar, berubah menjadi ruang publik yang menyehatkan akal sehat, dengan aturan hukum dan etika yang dimengerti bersama. Ukuran peradaban tak melulu ditimbang dari tingginya dan besarnya sebuah bangunan, tetapi juga isi di dalamnya yang kaya dengan gagasan dan keseimbangan jiwa.

Jargon besar soal negeri maritim yang makmur pun menemui momentumnya jika berbagai pengandaian dengan syarat ketat di atas bisa terpenuhi, setidaknya lima puluh hingga enam puluh persen terpenuhi. Tidak harus dalam ukuran catur wulan ke depan. Setidaknya pembatasan fisik kita saat ini hanya membatasi ruang gerak jasmani, tetapi tidak ruang gerak intelektual kita untuk berbenah. Di sinilah pentingnya keinsafan budi itu.

Insaf,
sesuai semantik dalam bahasa Arab bermakna kembali ke titik tengah untuk mencapai keadilan, kesetaraan, dan kewajaran. Dengan kata lain: mencapai titik keseimbangan kosmik. Maka, momentum yang tepat di masa keheningan dan jeda karantina demi menggapai esok hari yang cerah itu ialah masing-masing menginsafi diri akan ego, syahwat, dan kehendak yang terlalu brutal dan menzalimi orang lain dan alam semesta.

Zacky Khairul Umam peneliti, aktif di Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanities Universitas Indonesia

(mmu/mmu)