Analisis Zuhairi Misrawi

Nasib Palestina di Tengah Wabah Corona

Zuhairi Misrawi - detikNews
Kamis, 09 Apr 2020 18:30 WIB
zuhairi misrawi
Zuhairi Misrawi
Jakarta -

Palestina menjadi salah satu negara yang tidak bebas dari wabah Covid-19. Menteri Kesehatan Palestina Mai al-Kaila mencatat ada 261 warga positif Covid-19 dan 42 dinyatakan sembuh. Warga yang dinyatakan positif langsung dikarantina di rumah masing-masing dengan pengawasan khusus dari Otoritas Palestina. Hingga saat ini ada 15.000 rapid test terhadap warga Palestina yang diduga mempunyai hubungan langsung dengan pasien positif.

Membayangkan Palestina menghadapi wabah Covid-19 pasti terasa menyayat hati. Bayangkan, tanpa wabah Covid-19 pun Palestina sudah tertatih-tatih menjalani kehidupan sosial, ekonomi, dan politik tanpa ketidakpastian. Kondisi geopolitik yang menimpa negara-negara Timur-Tengah lainnya menyebabkan nasib Palestina sama sekali tak tersentuh, bahkan kondisinya makin terpuruk di tengah tekanan bertubi-tubi dari Amerika Serikat, Israel, dan beberapa negara di Timur-Tengah, seperti Arab Saudi, Mesir, dan Uni Emirat Arab.

Di tengah pandemi Covid-19, Palestina termasuk di antara negara yang tidak mempunyai pilihan kebijakan, sebagaimana negara-negara lainnya yang berlomba-lomba memberikan insentif perlindungan finansial. Palestina akan menghadapi dampak wabah ini dengan serentetan masalah yang tidak bisa diramal di masa mendatang. Kondisi ekonomi yang terus memburuk dan tekanan dari Israel yang kian kuat.

Yang pasti, negara-negara di kawasan Timur-Tengah saat ini sedang fokus untuk menghadapi dampak Covid-19, yang membuktikan bahwa mereka tidak akan mengalihkan perhatian pada isu-isu regional, khususnya Palestina. Krisis ekonomi akan menjadi pukulan yang telak bagi setiap negara di kawasan. Tidak mudah untuk bangkit, karena ekonomi benar-benar lumpuh, apalagi harga minyak terus merosok akibat perseteruan antara Arab Saudi dan Rusia.

Palestina akan semakin terpinggirkan, karena setiap negara lebih memfokuskan perhatiannya terhadap isu-isu domestik yang tidak kalah rumit. Apalagi jika upaya melawan Covid-19 yang bisa berlangsung lama, maka secara otomatis Palestina akan menanggung beban yang lumayan berat. Sebab selama ini, Palestina mempunyai ketergantungan pada negara-negara lain, seperti Qatar, Iran, dan Turki. Negara-negara tersebut saat ini sedang menghadapi masalah yang serius dalam upaya mengantisipasi dampak ekonomi dari Covid-19.

Semua negara, termasuk negara-negara Timur-Tengah saat ini sedang memikirkan dampak yang terburuk dari Covid-19. Sebab negara-negara yang selama ini relatif maju dan modern dalam pelayanan medis pun terseok-seok dalam menghadapi dampak Covid-19. AS, Prancis, Italia, Spanyol, dan Inggris adalah negara-negara yang sempoyongan dalam menghadapi dampak Covid-19, karena penyebaran virus yang meluas dengan korban yang lumayan besar melebihi China.

Selain itu, posisi Netanyahu yang semakin kuat di Israel juga menjadi tantangan serius yang lain bagi Palestina. Covid-19 menjadi berkah bagi Netanyahu yang secara politik sebenarnya sedang rapuh akibat perolehan suara yang cenderung statis dan kasus korupsi yang menimpa dirinya dan keluarganya.

Covid-19 yang meluas di Israel, telah menyebabkan posisi Netanyahu semakin kuat karena ia mendapatkan dukungan politik dari Partai Biru dan Putih yang selama ini menentangnya. Belum lagi kasus korupsinya ditangguhkan dengan alasan agar Netanyahu lebih fokus dalam mengatasi masalah Covid-19 yang melanda dunia saat ini. Netanyahu sekarang memimpin Israel dengan mandat yang lebih kuat.

Tentu saja, kuatnya posisi Netanyahu akan menjadi masalah serius bagi Palestina. Sebab Netanyahu selama ini dikenal sebagai pemimpin yang membawa agenda-agenda politik yang sangat merugikan Palestina, khususnya dalam masalah pembangunan ilegal di Tepi Barat. Bukan hanya itu saja, Netanyahu ingin mengusir Palestina dari Jerusalem dan menjadikan Jerusalem di bawah kekuasaan Israel.

Yang dikhawatirkan banyak pihak, Netanyahu justru menjadikan situasi yang penuh ketidakpastian untuk terus mengambil langkah-langkah yang semakin menjerat Palestina. Di tengah negara-negara lain yang sedang fokus pada masalah domestik masing-masing, Netanyahu bisa saja mengambil langkah di luar dugaan. Sebab itu, nasib Palestina di tengah pandemi Covid-19 menjadi semakin tidak menentu.

Otoritas Palestina sudah menyatakan, masalah ekonomi akan menjadi dampak yang paling buruk, karena jika situasinya semakin tidak baik dalam beberapa hari mendatang, maka Palestina akan mengalami kelumpuhan total. Selama ini, sebelum meluasnya wabah Covid-19, Palestina sudah berdarah-darah dalam mengatasi masalah ekonomi, khususnya di Jalur Gaza yang terus mendapatkan tekanan dari Israel.

Tidak terbayangkan jika wabah Covid-19 bisa menyebar luas di Jalur Gaza. Situasinya pasti akan sangat sulit dan tragis. Populasi penduduk yang sangat padat dengan minimnya pelayanan kesehatan, dan situasi ekonomi yang sangat tidak menentu akan menjadi pukulan telak. Apalagi dalam beberapa hari yang akan datang mereka akan menunaikan ibadah Ramadhan.

Pandemi Covid-19 akan menjadi momen yang sangat tidak menguntungkan bagi Palestina. Mereka memerlukan perhatian khusus dari dunia agar tidak menjadi target diskriminasi dan ekstremisme Israel. Sebab Israel tidak akan pernah berhenti mengganggu Palestina, khususnya Netanyahu yang mendapatkan dukungan dari sayap Yahudi fundamentalis di Israel.

Diperlukan sebuah komitmen dan perhatian yang serius dari beberapa negara di Timur-Tengah dan dunia Islam agar Palestina tidak sendirian dalam menghadapi situasi yang sulit ini. Masih ada sedikit asa agar Palestina terus dipikirkan bersama, bahwa di tengah pandemi Covid-19 masih ada Palestina yang terus dijajah oleh Israel, dan bisa saja Israel terus melakukan tekanan dan penindasan, baik secara terbuka maupun secara diam-diam.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute, Jakarta

(mmu/mmu)