Jika Ini Perang, Kuburkan Para Tenaga Medis di Makam Pahlawan

Sultan B. Najamudin - detikNews
Kamis, 09 Apr 2020 16:42 WIB
DPD
Foto: DPD RI
Jakarta -

Akhir tahun 2019, dunia dikejutkan dengan munculnya Coronavirus disease 2019 (COVID-19) atau yang biasa dikenal virus Corona. Virus yang awalnya hanya dianggap menyerang Wuhan, kota di Hubei, salah satu provinsi di China ini, berkembang sedemikian cepat. Saat ini hampir seluruh negara di belahan bumi kita terserang virus Corona. Tidak peduli negara itu negara kaya ataupun negara miskin. Tidak peduli status orang yang dihinggapi baik kaya maupun miskin, tua, muda, semua tidak luput dari ancaman serangan virus Corona. Tidak terhitung lagi banyaknya warga dunia yang terpapar dan ribuan nyawa yang melayang karena virus Corona ini.

Di Indonesia, setelah sekian bulan aman dari wabah berbahaya ini, apa mau dikata sekitar awal Maret 2020, virus Corona mulai menyebar di kota-kota besar di Tanah Air. DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara dan kini hampir seluruh provinsi di Tanah Air muncul penderita COVID-19. Ada yang berpendapat bahwa Indonesia agak terlambat dalam mengantisipasi masuknya virus corona. Yang lain juga berpendapat, negara secara diam-diam telah mengamati dan memprediksi serta menyiapkan langkah-langkah untuk mengatasi penyebaran virus Corona. Bahkan jauh sebelum Jakarta diumumkan darurat Corona, Pemerintah juga telah bertindak dengan menjemput langsung sekaligus menyelamatkan warga negara Indonesia dari Wuhan yang kemudian sempat diisolasi di pulau Natuna.

Dan begitu virus ini sudah mulai terdeteksi di sejumlah kota, pemerintah juga sudah menyiapkan langkah-langkah untuk menangani dan mengantisipasi dampak yang ditimbulkan mulai dari dijadikannya wisma atlet di Kemayoran sebagai rumah sakit khusus menangani PDP Corona. Menjadikan rumah sakit pemerintah sebagai rumah sakit rujukan, mengalokasikan sebagian besar anggaran untuk masalah ini, dan menjadikan kesehatan masyarakat sebagai prioritas pertama penanganan pemerintah.

Melalui Perpres 54 tahun 2020, anggaran belanja pemerintah pusat akan diutamakan untuk penanganan virus corona dan dipakai untuk mengatasi ancamaan yang membahayakan perekonomian nasional. Belanja akan difokuskan pada kesehatan, jaring pengaman sosial dan pemulihan perekonomian. Selain itu, pemerintah juga membuat aturan agar dana desa yang menjadi bagian dari TKDD (Transfer ke Daerah dan Dana Desa) dapat digunakan untuk jaring pengaman sosial berupa BLT (Bantuan Langsung Tunai) bagi warga miskin dan kegiatan penanganan wabah COVID-19.

Semua struktur negara bergerak dari yang paling atas sampai paling bawah. Dari pemerintah pusat sampai pemerintah daerah bahkan tingkat desa, RW dan RT. Semua lembaga formal menyatakan waspada dan darurat corona. Tidak ketinggalan para tokoh agama, tokoh masyarakat, seniman, politisi dan semua lapisan masyarakat, semua bersuara perang terhadap corona. Mereka mengambil peran masing-masing untuk menyelamatkan, diri, keluarga dan lingkungannya dari wabah COVID-19.

Tak ketinggalan juga kami dari lembaga Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. Sebagai representasi formal masyarakat daerah di pusat, kami juga mengambil inisiatif dan langkah cepat sebagai bentuk antisipasi penyebaran COVID-19. Jauh hari sebelum Jakarta ditetapkan darurat Corona, kami telah mengadakan rapat pimpinan dan mengambil keputusan agar anggota DPD RI yang saat itu masih kegiatan reses di daerah pemilihannya yang seyogyanya harus kembali lagi ke Jakarta untuk rapat paripurna, dimohon untuk tetap tinggal di daerah pemilihan masing-masing.

Pimpinan lembaga memberikan tugas khusus kepada semua senator untuk fokus membantu penanganan wabah corona bersama-sama dengan stakeholder dan masyarakat di daerah masing-masing. Seperti melakukan edukasi ke masyarakat terkait dengan saran pemerintah mengenai sosial distancing, work from home, pembagian masker dan hand sanitizer serta Alat Perlindungan Diri lainnya kepada para petugas medis serta masyarakat sembari melakukan fungsi pengawasan sebagai anggota DPD RI.

Kami juga telah mengambil keputusan untuk menghentikan/meniadakan SR (kegiatan ke luar negeri) ke sejumlah negara. Beberapa anggota yang seharusnya berangkat SR bulan Januari juga sudah dilarang. Beberapa anggota DPD RI juga sudah meminta agar Pilkada 2020 ditunda terlebih dahulu. Ini dilakukan sebelum kemudian DPR bersama pemerintah dan KPU membahas dan menyatakan akhirnya Pilkada 2020 ditunda.

Semua dilakukan dalam rangka perang terhadap wabah corona. Apapun jabatannya, bagaimanapun statusnya, di manapun keberadaannya, saat ini semua siaga perang terhadap COVID-19. Anjuran untuk physical distancing, anjuran untuk cuci tangan dengan sabun sesering mungkin, jaga jarak, tetap tinggal di rumah, work from home, beribadah dari rumah terus menggema setiap hari di semua media. Semua dilakukan dalam rangka membangun kesadaran bersama akan pentingnya untuk menghentikan laju penyebaran COVID-19.

Kesadaran semua pihak semakin meningkat. Persatuan dan kesatuan semakin terasa. Sikap gotong royong di tengah masyarakat semakin tumbuh. Semua bahu membahu untuk menghentikan penyebaran virus corona. Di banyak group medsos kita melihat peran serta masyarakat dalam membantu meringankan beban para pejuang tenaga medis kita. Di banyak sudut, kita juga melihat banyak lembaga-lembaga/relawan ataupun individu yang mengulurkan bantuan kepada saudara-saudara kita yang terkena dampak wabah corona. Semua dilakukan dengan hati yang tulus sebagai perwujudan dari rasa persatuan dan kesatuan kita sebagai sesama bangsa dan sesama makhluk ciptaan-Nya.

Melihat kondisi itu, tidak sedikit yang berpikir bahwa ternyata isu dan musuh bersama Corona bisa menyatukan bangsa kita. Dengan perang dan adanya musuh bersama, kita bisa menghilangkan perbedaan kepentingan. Dan bagi bangsa Indonesia, sejarah juga telah memberikan pelajaran bahwa kita pasti dan akan bersatu tatkala kita menghadapi musuh bersama. Ingat. Tatkala timnas kita bertanding melawan timnas negara lain, apalagi Malaysia, beda organisasi, beda kelompok, beda agama, beda politik, semua menyatu membela Timnas Indonesia.

Bagi umat beragama COVID-19 selain dianggap sebagai wabah, ada juga yang menganggap sebagai musibah dan ada juga yang mengaggap sebagai Ujian. Ujian kita sebagai bangsa untuk mengukur kekuatan dan kesiapan kita dalam menghadapi perang. Karena ke depan setiap saat selalu ada potensi untuk perang, perang di abad kini yang situasinya unprediktable, khususnya perang ekonomi, teknologi dan hankam. Ujian sekaligus pelajaran agar kita selalu waspada untuk menyiapkan skenario terburuk dalam berbagai bidang baik ekonomi, politik dan pertahanan keamanan jika suatu saat perang dan musuh bersama itu datang.

COVID-19 juga merupakan tantangan dan momentum untuk menunjukkan posisi dimana negara kita berada sebagai sebuah bangsa dalam hubungan antar bangsa. Ajang eksistensi sebuah bangsa. Bukan rahasia umum lagi sebelum Covid 19 mewabah, perang dagang Amerika dan China terus menghangat. Kini terlepas ada tidaknya hubungan corona dengan itu, tapi tampaknya China dan Amerika sama sama ingin menunjukan kekuatan dan kesiapan negara mereka dalam menghadapi perang ini. Demikian juga dengan Rusia, Jepang dan Korea Selatan. Dan China yang tadinya dibenci karena dianggap sebagai negara penyebar virus ini pertama kalinya, kini mulai di elu elukan karena kesiapan mereka, kecepatan mereka dalam merespons dan kesiagaan mereka dalam menyikapi wabah corona termasuk karena bantuan mereka ke berbagai negara.

Kita tidak perlu berdebat tentang siapa, kenapa dan apa yang sebenarnya terjadi di balik COVID-19 ini. Apakah ini murni wabah alamiah atau by design. Tapi yang terpenting, dalam menghadapi situasi seperti ini adalah saatnya kita BERSATU. Tingkatkan solidaritas meskipun kita renggangkan komunitas. Kita tingkatkan ikatan batin meskipun kita kurangi silaturahim. Dan sembari kita bergandengan tangan dan bersatu melawan virus corona, kita juga mempersiapkan diri untuk cepat bangkit karena kita semua harus yakin ini semua akan cepat berlalu. Mengutip seorang penulis, "orang hebat dan kuat itu bukan karena dia tidak pernah jatuh. Tapi seberapa cepat dia bangkit setelah jatuh." Ini juga berlaku untuk pemerintah dan suatu bangsa.

Pemerintah dan kita semua sedang diuji. Kita tidak boleh terpuruk. Kita harus cepat bangkit menjadi bangsa yang kuat. Pemerintah telah menetapkan landasan-landasan, program-program untuk menangani virus ini dan menghadapi dampak yang ditimbulkan atas wabah ini. Mari kita support bersama dengan peran dan posisi masing-masing. Karena pada kondisi seperti sekarang ini, tentunya pemerintah saja tidak akan sanggup tanpa didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Hilangkan perbedaan politik dan kepentingan. Satukan tekad. Tekad untuk menghentikan laju penyebaran COVID-19 dan mempercepat Bangsa ini mengatasi dampak sosial ekonomi dari wabah corona.

Sebagai renungan, jika kita semua sepakat ini adalah situasi perang dan corona adalah musuh bersama, berarti semua juga sepakat Para Tenaga Medis, perawat dan dokter adalah Para Pejuang dan Pahlawan. Jika dianggap sebagai perang, alangkah baiknya kita menempatkan para medis yang gugur dalam menjalankan tugas mulia ini kita hormati sebagai pahlawan kesehatan dan kita makamkan di makam pahlawan. Atau setidaknya di tempat pemakaman khusus untuk Pahlawan Kesehatan. Pemakaman khusus ini kita jadikan Monument/Memorial untuk mengingatkan betapa gigihnya para Pahlawan Kesehatan kita. Betapa keselamatan masyarakat lebih mereka utamakan dibandingkan dengan keselamatan dirinya.

Tempat khusus ini juga untuk menghilangkan stigma di masyarakat tentang jasad orang-orang yang meninggal karena wabah corona. Sehingga tidak ada lagi kelompok masyarakat yang menolak daerahnya dijadikan kuburan mereka yang meninggal karena wabah corona. Selain itu, Monumen/Memorial ini juga kelak untuk mengingatkan kepada kita semua, bagaimana cara bersikap terhadap suatu wabah. Dan betapa solidaritas, gotong royong, persatuan dan kesatuan perlu terus kita pupuk sebagai bekal abadi kita sebagai bangsa yang besar.

Terakhir, terlepas dari analisa dan teori apapun, kita sebagai hamba yang tentunya banyak dosa dan khilaf, moment stay at home, dapat kita gunakan untuk banyak-banyak melakukan kontemplasi diri. Dan banyak merenung bahwa pada akhirnya tidak ada satu kekuatan pun yang bisa menghalangi kekuatan dan kehendak Sang Pencipta. Dia yang menciptakan segalanya, alam semesta termasuk apa yang terkandung di dalamnya.

Sultan B. Najamudin Wakil Ketua III DPD RI

(akn/ega)