Kolom

Skripsi di Musim Pandemi

Bramastia - detikNews
Kamis, 09 Apr 2020 12:35 WIB
Female student with long hair sitting in the library while writing on the book with laptop at desk
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Di tengah pandemi virus corona (Covid-19) yang semakin meluas di Indonesia, muncul petisi untuk dunia pendidikan, menuntut penghapusan kewajiban skripsi bagi mahasiswa tingkat akhir. Hingga Sabtu (28/3) malam, petisi untuk dunia pendidikan ini telah diteken oleh 14.530 orang dari target petisi mendapat 15 ribu tanda tangan. Petisi di situs change.org tersebut dibuat oleh Fachrul Adam dan ditujukan kepada Mendikbud Nadiem Makarim serta Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia.

Dalam pengantar petisi "manja" mahasiswa itu disebutkan bahwa kondisi Covid-19 membuat para mahasiswa kesulitan mengerjakan tugas akhir. Dalihnya, bimbingan online tidak efektif karena jaringan yang tidak memadai dan harus mengeluarkan biaya membeli kuota di tengah ekonomi yang mulai melemah. Seminar harus online, penelitian dan pengambilan data harus tertunda gara-gara pandemi, sehingga membuat mahasiswa tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelesaikan skripsi sebagai tugas akhirnya.

Tragisnya, pihak Kemendikbud justru menyebutkan bahwa penghapusan skripsi bisa saja dilakukan lewat program Kampus Merdeka. Dalam penjelasannya, kalau setiap kampus bisa menerapkan program Kampus Merdeka, maka skripsi dapat digantikan dengan riset atau kegiatan sosial lainnya. Artinya, ke depan tugas akhir mahasiswa, baik yang berupa skripsi, tesis, ataupun disertasi lambat laun dengan mudah dihapuskan dan diganti dengan kegiatan lain. Ironis bukan?

Pandemi Covid-19 memang mempengaruhi ke berbagai sektor, termasuk pada sektor pendidikan. Imbauan menjaga jarak (social distancing) yang diserukan pemerintah substansinya untuk menekan angka penyebaran Covid-19, sehingga perguruan tinggi berinovasi melalui model digitalisasi pendidikan dalam proses setiap proses pembelajaran.

Namun, terlalu berlebihan apabila pandemi Covid-19 disebut menciptakan suasana tidak biasa bagi mahasiswa semester akhir, yang berujung pada keinginan menghapus tugas akhir.

Ketahanan Intelektual

Bagi saya, skripsi mahasiswa (begitu pula tesis dan disertasi) memiliki bobot tinggi bagi kaum akademisi. Mahasiswa harus membaca referensi yang sebanyak-banyaknya untuk menyelesaikan dengan menulis skripsi. Andaikan semakin lama menunda dan membangun jeda pengerjaan skripsi, maka semakin sulit memulai dan akhirnya semakin lama selesai skripsinya. Hingga akhirnya muncul pemeo, "Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai."

Skripsi dapat mengakibatkan stres berat dan menjadi problem utama yang paling biasa dirasakan mahasiswa. Skripsi dapat menimbulkan ketegangan psikis yang memburuk dan memunculkan kesehatan mental, seperti depresi, perfeksionisme, gangguan obsesif kompulsif, dan lainnya. Kondisi emosional, kognisi, fisik, dan fungsi intrapersonal menentukan kondisi psikis mahasiswa pada saat mengerjakan skripsi.

Bahkan aspek kemampuan individu dalam hal kepercayaan diri, persepsi terhadap kompetensi dan keahlian, serta kesanggupan mengatasi masalah turut berkontribusi besar dalam menyelesaikan pengerjaan tugas skripsi mahasiswa.

Kalau mau jujur bahwa membuat skripsi bukan hanya sebatas riset, mencari data, dan konsultasi semata. Mengerjakan skripsi merupakan ketahanan diri bagi intelektual dalam mengkonstruksi simulasi untuk berkarya dan bekerja pascalulus kuliah. Mahasiswa harus sabar dan tabah dalam menaklukkan diri sendiri saat kerja mandiri.

Ketahanan dan keuletan dalam mengerjakan skripsi menjadi potret diri mahasiswa saat menyusun kerja mandiri, dan begitu pula bagi mahasiswa pascasarjana yang mengerjakan tesis maupun disertasi.

Di era Revolusi Industri 4.0, dalih bimbingan skripsi secara online tidak efektif gara-gara Covid-19, jaringan internet tidak memadai, dan harus keluar biaya beli kuota bukan alasan rasional bagi mahasiswa sebagai kaum intelektual. Bimbingan skripsi adalah puncak dari ketahanan dan ketangguhan mahasiswa dalam menulis, menjelaskan, dan berargumentasi dengan pembimbingnya.

Coretan salah dari pembimbing yang bagi mahasiswa kemudian harus melakukan revisi puluhan kali ibarat gemblengan guru kepada anak didik supaya tangguh dan sabar secara emosional. Perasaan benar sendiri bagi mahasiswa dan tidak ingin disalahkan tulisan skripsi oleh pembimbing menunjukkan masih dangkal ilmunya. Urgensi skripsi adalah melatih mahasiswa lebih rendah hati terhadap ilmu karena kesombongan (dan manja) mahasiswa hanya membuat ilmu pergi menjauh dari dirinya.

Dr. Bramastia, M.Pd pengamat kebijakan pendidikan, doktor Ilmu Pendidikan UNS Surakarta

(mmu/mmu)