Kolom

Kemungkinan Tak Terbatas Selama Pandemi

Aqil Neariah - detikNews
Kamis, 09 Apr 2020 11:25 WIB
Pandemi, secara tak diharapkan, menjadi bagian dari upaya memperbaiki lingkungan.
Jakarta -

Apa yang tampak seperti kemungkinan tak terbatas (perekonomian global) mulai terlihat jauh lebih rapuh jika berhadapan dengan ekologi; inilah senjakala umat manusia di mana segala sesuatunya hanyalah kemungkinan-kemungkinan tak terbatas.

Kurang lebih begitu pernyataan Rachel Carson melalui bukunya yang berjudul Silent Spring. Buku itu membahas topik yang sangat terbatas: pengaruh negatif penggunaan pestisida berlebihan terhadap lingkungan.

Mungkin hal itu terkesan normal, tetapi Carson membuka mata kita bahwa dari sudut pandang alam, tindakan itu sama saja dengan tindakan-tindakan destruktif; perampasan, perbudakan, diskriminasi rasial bahkan agama, dan peperangan yang memungkinkan orang-orang miskin tersingkirkan, dan sebagian kecil orang kaya menikmati keuntungan. Jika demikian, lalu bagaimana dengan banyak perbuatan segelintir orang yang tampak normal namun nyatanya jahat?

Satu deduksi muncul; apakah mungkin bahwa hubungan antarmanusia dan kejahatan saling inheren? Tidak mungkin menghadapi kesadaran moral dari manusia itu sendiri, seperti halnya mustahil mengharapkan manusia terangkat dari bumi dengan menarik rambut sendiri. Untuk mencapai kesadaran moral dibutuhkan kekuatan dari luar umat manusia.

Menghadapi Pandemi

Salah satu buletin WHO pada 2018 yang berjudul The Global Virome Project menunjukkan tren global di mana ancaman tersebut tak lain datang dari wabah. Seiring bertambahnya populasi, ancaman wabah justru semakin kompleks. Semakin berkembangnya sains seiring jalan juga penyakit kian bervariasi. Sehingga perekonomian global tidak cukup siap untuk menghadapi pandemi yang telah datang, yakni Covid-19.

Beberapa minggu belakangan juga, bursa saham dunia mengalami periode terburuk dalam 10 tahun terakhir, melebihi krisis finansial global pada 2008. Pembatasan pergerakan manusia sebagai langkah kontrol penyebaran coronavirus berdampak terhadap aktivitas ekonomi di seluruh negara.

Beberapa tahun terakhir kita telah menyaksikan kemunculan para penyair akhir zaman (pemuka agama garis keras), para penimbun uang (1% penguasa kekayaan global) yang merencanakan pelarian, yang memprediksi malapetaka pra-resesi, dan tentang cara mereka mengatasinya jika terjadi kehancuran sosial/ekologi.

Belakangan juga, otoritas berwenang telah merevisi prediksi ekonomi di tengah pandemi ini, namun mereka masih mengindikasikan pertumbuhan ekonomi pada 2020. Sebagai contoh, Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) menurunkan estimasi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2020 dari 3% (dibuat pada November 2019) menjadi 2,4% (dibuat pada Maret 2020). IMF juga menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi --data terbaru akan terbit bulan depan.

Bagi para pecinta lingkungan ini adalah pergulatan antara ekosistem dengan perekonomian. Bagi kita ada risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seperti Carson yang lebih suka berfokus pada peluang yang belum pernah terjadi sebelumnya --kalau dugaannya benar bahwa perekonomian global sama lemahnya dengan ekologi-- saya berani bertaruh, berdasarkan asumsi efisiensi karbon ekonomi dunia yang meningkat 2,5% per tahun dalam rentang rata-rata 10 tahun, prediksi pertumbuhan ekonomi dari OECD mengindikasikan emisi karbon dioksida yang bisa turun 0,3% pada 2020.

Ini adalah zaman di mana kepunahan manusia dan keabadian manusia dibahas sebagai kemungkinan yang asli. Pandemi global dapat memiringkan persepsi kita terhadap modus eksistensi manusia rasional di tengah krisis. Benar, pengalaman dari krisis finansial global menunjukkan bahwa efisiensi karbon dari ekonomi dunia tetap mungkin meningkat, walau lebih lambat, di tengah krisis. Jika hal ini terjadi pada 2020 akibat coronavirus, emisi karbon dioksida tetap akan meningkat.

Kerentanan Baru

Kerentanan yang menentukan dari pandemi adalah neurofisiologi manusia yang berorientasi pada kemapanan finansial, sedangkan ekosistem sama lemahnya dengan pertumbuhan ekonomi. Ada dua cara wabah penyakit menstimulasi kita. Pertama, melalui krisis legitimasi.

Jean Francois Lyotard dalam Postmodernisme berpendapat bahwa krisis legitimasi memicu narasi-narasi kecil; kebohongan dikatakan, metanarasi diungkapkan, yang disembunyikan oleh otoritas saat itu adalah ketidaktahuan.

Kedua, memicu lahirnya strukturalisme. Dunia seakan diperingatkan kembali tentang ancaman dari resistensi antibiotik, perlambatan ekonomi (resesi), dan kerusakan ekosistem. Ancaman itu terasa dekat. Bagaimana pertumbuhan ekonomi dan teknologi mundur mempersepsikan kerapuhan manusia dengan segala kemungkinan yang meningkat.

Perubahan Iklim

Kita juga telah menemukan bahwa orang-orang yang terkena bencana alam lebih cenderung menyatakan keprihatinan tentang perubahan iklim, mengambil tindakan pribadi untuk mengurangi penggunaan energi fosil, dan mendukung kebijakan-kebijakan pengurangan emisi. Meskipun Covid-19 tidak disebabkan oleh perubahan iklim, tetapi itu menimbulkan jenis gangguan yang akan kita hadapi sebentar lagi.

Berdasarkan skenario terburuk OECD, pertumbuhan ekonomi global pada 2020 hanya akan mencapai 1,5%. Apabila semua faktor berlaku sama, diperkirakan bahwa emisi karbon dioksida akan turun 1,2% pada 2020. Penurunan ini bisa dibandingkan dengan krisis finansial global, ketika pada 2009 terjadi penurunan PDB 0,1% dan emisi 1,2%.

Sejauh ini, baik OECD maupun IMF juga memperkirakan virus corona dapat membawa PDB dunia ke zona merah. Kepedulian lingkungan anjlok selama krisis finansial global, karena publik memiliki masalah ekonomi yang lebih mendesak. Tapi kali ini justru semakin parah. Covid-19 datang setelah serangkaian bencana melanda seperti kebakaran hutan di California dan Australia, banjir di mana-mana dari Inggris hingga Indonesia.

Jurgen Habermas, ahli sosial Mazhab Frankfurt pernah menulis bahwa setelah perang dingin umat manusia hidup dalam antisipasi bencana yang konstan. Mungkin faktor yang paling berkontribusi terhadap lemahnya mitigasi adalah ketidaktahuannya yang hampir total terhadap serangan bencana beruntun. Lalu apakah kita tahu apa yang harus dilakukan untuk menghentikan perubahan iklim, apakah hanya dengan mengatakan kita hanya harus melakukannya?

Dalam The Precipice: Risiko Eksistensial dan Masa Depan Kemanusiaan, filsuf Oxford Toby Ord mengatakan, pada abad ke-20 kami hanya memikirkan satu perang nuklir. Sekarang ada beberapa, di antaranya tidak bisa dicegah --perubahan iklim, kecerdasan buatan, dan biowarfare.

Ketiga hal itu, risiko kita saat ini, tidak cukup untuk menghadapi ancaman yang begitu mengerikan sehingga harus diminimalkan. Kita perlu memikirkan kembali sepenuhnya. Covid-19 adalah tempat yang tidak sempurna untuk memulai refleksi itu (kemungkinan tak terbatas): bahkan pandemi terburuk, Black Death, dan influenza 1918 bukanlah jalan menuju kepunahan. Namun, pandemi paling tidak menjadi bagian dari kurva pencegahan untuk memperbaiki lingkungan dan moralitas.

Fenomena ini menuntut kita untuk dapat menerima pembatasan emisi. Bersama-sama negara-negara G-20, mungkin kita bisa memanggil semangat yang sama lagi, yakni pengurangan energi, jika kita hendak bahu-membahu menciptakan solidaritas kemanusiaan. Tetapi solidaritas tersebut sampai detik ini hanya angan-angan. Kita menderita krisis kemanusiaan akut oleh tirani pasca-modernitas.

Mencari Keselamatan

Kemungkinan terburuk tak terhindarkan. Namun demikian, ada beberapa faktor yang bisa memberi kita semangat. Pertama, makin banyak orang yang menyadari kebenaran pernyataan Mesarovic dan Pestel, Elich dan Erlich, Jurgen Habernas, dan yang lainnya, bahwa dalam bidang ekonomi diperlukan etik baru, sikap baru terhadap alam, solidaritas manusia, dan kerja sama, jika peradaban hari ini tidak ingin musnah akibat pandemi.

Relasi subjek-objek yang harmonis, yang tidak terlepas dari pertimbangan emosional dan moral, mungkin menggerakkan kita untuk mengurangi energi. Jika pemerintah menyadari perubahan sosial hari ini, reaksi neurofisiologis normal akan mengambil alih, karena pandemi coronavirus tidak akan mengubah tren emisi global jangka panjang. Kewaspadaan mereka pada ancaman vital akan menggerakkan aksi yang tepat untuk kemanusiaan dan solidaritas antarsesama.

Kedua, tanda lain yang bisa diharapkan adalah meningkatnya ketidakpuasan pada sistem kebijakan yang ada sekarang. Semakin banyak orang, para pekerja, pemberi jasa atau pelayan publik (dokter, ojek online, pedagang kaki lima, aparat keamanan) yang merasa depresi; mereka sadar akan hal itu, meskipun sudah berusaha menekannya.

Mereka merasa betapa tak bahagia keterasingan mereka, dan betapa hampa kebaikan mereka di mata segelintir orang yang hanya mencari keuntungan. Maka buatlah kesempatan itu sesegera mungkin untuk menginvestasikan dana stimulus pada perubahan struktural yang menghasilkan penurunan emisi setelah pertumbuhan ekonomi pulih, seperti pengembangan teknologi hijau.

Tanda-tanda ini membawa kita pada pernyataan bahwa bukanlah virus dan lingkungan yang sangat berbahaya, tetapi ketika mutasi patogen terus terjadi, bukan tidak mungkin virus yang mengerikan, perubahan iklim akan bermunculan lagi. Kondisi ini disebabkan pola hubungan antarmanusia dengan lingkungan yang tidak lagi selaras, karena ketamakan manusia yang merusak alam semesta.

Aqil Neariah Direktur Bidang Penelitian Lembaga Pers Himpunan Mahasiswa Islam

(mmu/mmu)