Sentilan Iqbal Aji Daryono

Optimisme Tanpa Modal

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 07 Apr 2020 17:02 WIB
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -

Kalau wabah ini sudah berlalu, hal pertama yang ingin kulakukan adalah jajan cilok di pinggir jalan, lalu joging keliling Monas, terus makan nasi padang dengan gulai otak sepuasnya, diakhiri nongkrong ngopi sama teman-teman sampai pagi.

Tiga hari terakhir, berseliweran kalimat-kalimat sejenis itu di layar ponsel saya. Entah di Facebook, Twitter, atau status Whatsapp. Semuanya terdengar penuh harapan indah yang meletup-letup tentang masa depan.

Tak ayal, saya pun ingin ikut-ikutan. Toh selama kami sekeluarga melakukan lockdown, eh, maksud saya pembatasan-sosial-berskala-besar dalam hampir sebulan, ada beberapa hal yang sudah saya rindukan, namun tak bisa saya jalankan.

Sialnya, begitu jari saya mulai mengetik, yang keluar justru kalimat perih: "Hal pertama yang ingin kulakukan setelah wabah Corona berlalu adalah memastikan apakah aku masih tinggal di alam ini bersama kalian, ataukah sudah bobok di alam sana bersama ratusan ribu korban lainnya."

Tak semua orang setuju dengan unggahan saya itu. Ada beberapa kawan yang memberikan nasihat serius bahwa semestinya kita optimistis dan menjauhkan diri dari segala pikiran buruk. Tentu saya setuju bahwa pikiran buruk itu racun. Pertanyaannya, kalau memang kita mau jadi optimis, bekal apa yang bisa membuat kita percaya bahwa sekarang ini optimisme cukup relevan?

Kita sudah melihat pengalaman-pengalaman menyeramkan yang dijalani banyak negara lain. Mereka punya sistem dan fasilitas kesehatan yang jauh lebih baik, kesadaran warga yang jauh lebih matang, dan pemerintah yang menjalankan strategi penanggulangan wabah dengan jauh lebih meyakinkan. Hasilnya, tetap saja korban yang tumbang mencapai puluhan ribu, itu pun masih terus bertambah. Lah, kita?

Optimisme memang penting untuk menjalani hidup. Keyakinan bahwa kita akan meraih hal-hal baik di masa depan selalu menjadi bahan bakar yang hebat untuk menyalakan semangat, membangun etos, dan mengumpulkan segenap energi positif. Namun, selalu ada syarat-syarat yang dibutuhkan untuk membangun optimisme demi optimisme.

Saya orang Indonesia, dengan tingkat kecerdasan rata-rata, pendidikan ala kadarnya, tidak punya jaringan pertemanan yang kuat selain di sini-sini saja. Kalau saya mau optimistis bahwa suatu hari saya bisa jadi Bupati Bantul, misalnya, itu masih rasional. Tapi coba, pantaskah saya yakin dan percaya diri bahwa kelak saya bisa jadi Presiden Amerika?

Anda pasti menilai yang kedua itu ngaco. Kenapa? Karena saya tidak punya cukup syarat untuk membangun optimisme. Tak bedanya saya bercita-cita menjadi dokter, sangat optimistis untuk meraih cita-cita itu, tapi saya memilih kuliah di jurusan Sastra Jepang. Atau ibaratnya saya yakin dalam sebulan akan sampai di Jakarta dengan berjalan kaki, padahal saya melangkah ke arah Surabaya.

Demikian pula yang terjadi sekarang ini. Kita sedang melangkah ke arah mana? Atau, jangan-jangan kita tidak melangkah sama sekali? Jika pun kita melangkah, seberapa cepat gerakan langkah kaki kita? Cukupkah untuk mencapai tujuan tepat pada waktunya?

"Jangan begitu, dan jangan begitu. Tuhan akan sesuai dengan prasangka hamba-Nya."

Ya, ya. Betul sekali. Saya pun punya keimanan yang sama. Masalahnya, Tuhan dalam iman saya juga bilang bahwa Dia tidak akan mengubah nasib manusia sampai si manusia itu mengubah nasibnya sendiri, alias berikhtiar untuk itu.

"Lho, kan kita sudah berikhtiar, Mas. Buktinya kita tidak lagi kumpul-kumpul, tidak keluar rumah kecuali sangat penting, bahkan tidak lagi ke masjid buat jumatan. Itu ikhtiar juga, kan?"

Persis, Bung. Itu memang ikhtiar. Tapi ikhtiar pun ada ukuran-ukurannya, to? Apakah kita mau mendaku diri sudah cukup berikhtiar untuk jadi pilot pesawat tempur, jika model ikhtiar yang kita lakukan hanyalah belajar keras menerbangkan layang-layang kertas?

Bahwa pembatasan sosial alias pembatasan fisik itu bagian dari ikhtiar kita, itu benar. Dan sudah tepat jika kita mau menjalankannya. Masalahnya, ini wabah. Dan dalam menghadapi wabah, posisi ikhtiar kita semestinya hanyalah bagian dari orkestra besar ikhtiar komunal. Bukan cuma kita yang harus menjalankannya, namun juga setiap orang lainnya, dikendalikan kekuatan struktural yang mengontrol semuanya dan menjamin agar siapa pun yang menjalankan ikhtiar itu tetap bernyawa.

Sihir optimisme berbalut prasangka baik kepada takdir itu memang dahsyat. Saya juga melihat wajah-wajah optimis itu di dekat-dekat saya. Kemarin, dalam perjalanan untuk membeli bahan-bahan kebutuhan pokok, saya lewat di depan gapura pintu masuk desa tetangga. Pintu masuk itu ditutup palang bambu, di atasnya ada kain disemprot cat bertuliskan "Lockdown! Masuk kampung harap lapor!"

Di sebelah pintu masuk, ada gardu kecil. Di situ para pemuda kampung berjaga. Tak cuma tiga atau empat orang yang siaga di sana, tapi sepertinya tak kurang dari lima belas! Dan mereka berkumpul, dalam jarak tiga puluhan senti, merokok beramai-ramai sambil bermain kartu. Benar-benar saya melihat optimisme luar biasa bertengger gagah di wajah-wajah mereka. Saya pun lekas bertanya-tanya, dari mana bekal optimisme mereka?

Kemudian saya pulang, membuka lagi ponsel saya, dan menemukan satu video yang dibagi seorang kawan. Saya tidak melihat identitas yang jelas pada video berbahasa Inggris itu. Siapa yang membuatnya, di mana dibuatnya, dan apa kompetensi keilmuan dari pembuatnya. Yang pasti, kawan saya memaparkan bahwa video tersebut berisi hasil riset yang membuktikan bahwa virus-virus corona sekarat jika diperdengarkan suara azan! Ya Tuhan, saya kagum sekali.

Menurut pengalaman selama ini, video-video jenis seperti itu memang laris manis. Apalagi jika ia diberi subtitle bahasa Indonesia, dengan sedikit pemilihan diksi yang bombastis dan "kena". Maka, saya tinggal menunggu saja hingga salah satu anggota grup Whatsapp kampung saya membaginya.

Nah, dari video-video semacam itulah selama ini rakyat Indonesia membangun optimisme. Maka kita bisa optimistis dengan kebangkitan kembali kekuatan kuno Nusantara, percaya seratus persen bahwa cukup dengan air wudu kita akan sehat perkasa sepanjang masa, juga merasa haqqul yaqin bahwa negeri yang bergelimang suara azan sudah pasti akan selamat dari terjangan corona.

Itu baru sebagian contoh kecil tentang bagaimana cara membangun optimisme secara instan. Masih ada beberapa opsi lain, misalnya dengan teori konspirasi yang mengatakan bahwa pandemi global ini hanyalah perang antara Amerika dan China, sedangkan Indonesia berdiri agak jauh dari sentrum pertempuran mereka.

Sungguh, saya sendiri ingin percaya itu. Saya tak pernah benar-benar percaya dengan teori konspirasi, tapi juga tak pernah sungguh-sungguh ingin menolak sepenuhnya. Jauh di dasar keputusasaan, saya memimpikan semua konspirasi itu nyata adanya. Lalu wabah ini akan segera berakhir manakala dua negara raksasa sudah telak menghantam musuh utamanya, dan kita semua di negeri ini bisa keluar dari serbuan virus dengan penuh rasa gembira.

Kemudian saya akan keluar rumah, tanpa masker, mendatangi tukang cilok di pinggir jalan kota, persis sebagaimana banyak kawan bercita-cita. Malangnya, abang pedagang cilok yang saya kenal ternyata sudah tumbang bangkrut sejak bulan kedua wabah sialan ini menghajar kita.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)