Kolom

Kecemasan yang Tak Terhindarkan

Lya Fahmi - detikNews
Selasa, 07 Apr 2020 12:00 WIB
ilustrasi corona
Ilustrasi: Instagram/@alirezapakdel_artist
Jakarta -

Suami saya tiba-tiba saja menumpahkan kecemasannya saat kami sedang makan malam. Ia biasanya mandiri mengelola kecemasannya, namun saat ini kecemasan yang ia rasakan tampaknya sudah tak bisa ia tampung sendirian. Sudah tiga malam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Perkembangan yang tak menggembirakan terkait wabah virus corona mengganggu kenyamanan psikologisnya.

Kami memang menghadapi banyak tantangan, untuk tak menyebutnya sebagai kesulitan, karena merebaknya virus ini. Andai orang yang menumpahkan kecemasan itu bukanlah suami saya sendiri, tentu mudah saja bagi saya untuk memvalidasi kecemasannya. Merasa cemas pada saat-saat begini adalah hal yang wajar. Perasaan cemas adalah respons normal atas situasi yang abnormal, inilah doktrin utama psychological first aid dalam situasi bencana.

Tapi, ekspresi kecemasan dari seseorang yang selama ini menjadi sandaran emosi bukanlah hal yang bisa dengan mudah saya terima. Hampir saja saya meminta suami untuk berhenti bicara. Hampir saja saya menutup kanal emosinya semata-mata agar emosi saya terjaga. Hingga akhirnya saya sadar, memangnya siapa pada saat begini yang bisa merasa biasa-biasa saja?

Kecemasan menjadi nuansa emosi yang dominan dirasakan oleh kebanyakan orang pada hari-hari belakangan. Seiring dengan perkembangan wabah virus corona yang belum juga menunjukkan tanda-tanda kapan berakhirnya, kecemasan menjadi respons stres yang tak terhindarkan. Kita rasanya terus menerus dihantui oleh kekhawatiran tertular, menularkan, atau terdampak secara ekonomi dan sosial akibat wabah virus ini.

Setiap orang mengalami kecemasan dalam bentuk yang berbeda-beda. Jika kecemasan yang dialami oleh suami saya membuatnya sulit tidur pada malam hari, saya mengalami kesulitan berkonsentrasi sehingga mengganggu pekerjaan sehari-hari. Ada pula beberapa orang teman yang bercerita bahwa mereka kerap mengalami mimpi buruk semenjak wabah virus corona ini melanda.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya, kecemasan yang dialami ternyata tidak hanya manifes dalam bentuk ketidaknyamanan psikologis yang dirasakan secara individual. Kecemasan ini juga tampak mengganggu kenyamanan hubungan sosial. Wabah virus corona membuat sebagian orang beradaptasi dengan standar perilaku baru, seperti social distancing dan rajin mencuci tangan.

Sayangnya, adaptasi dengan standar perilaku baru ini tak berlaku untuk semua orang. Ada saja orang-orang yang merasa dunia ini sedang baik-baik saja dan tetap hidup dengan standar perilaku yang lama. Ketika perbedaan standar perilaku terjadi diantara orang-orang yang hidup dalam lingkungan sosial yang sama, maka hal itu segera saja memicu ketegangan dan perasaan kesal di antara mereka.

Dalam beberapa kali konseling online yang saya layani belakangan ini, ada begitu banyak pertanyaan tentang kecemasan. Apakah kecemasan yang mereka alami ini wajar? Bagaimana caranya mengatasi perasaan-perasaan cemas yang begitu mengganggu? Atau, jangan-jangan perasaan cemas yang mereka rasakan memang sesuatu yang berlebihan?

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, respons negatif apapun yang muncul dalam situasi abnormal adalah normal. Sangat sulit menghilangkan perasaan terancam sebelum virus corona benar-benar hilang. Maka dari itu, untuk saat ini kehadiran rasa cemas itulah yang normal.

Pada dasarnya, rasa cemas adalah salah satu respons stres yang secara alami muncul setiap kali kita berhadapan dengan ancaman atau tekanan (stressor). Respons stres lainnya dapat berupa rasa marah, sedih, takut, kecewa, dan sebagainya --bergantung dari stressor apa yang sedang dihadapi.

Sejatinya, respons stres hadir sebagai penanda bahwa kita perlu mempersiapkan diri untuk mengatasi bahaya. Respons stres membuat kita sadar bahwa ada sesuatu yang musti kita atasi karena berjalan tidak sebagaimana mestinya. Ia ibarat rasa panas yang dirasakan kulit ketika tangan tak sengaja menyentuh panci panas di atas kompor. Rasa panas itulah yang membuat kita menarik tangan agar tak terbakar.

Dalam masa wabah virus corona, rasa cemas sebenarnya menjadikan diri kita lebih waspada. Rasa cemas mendorong kita untuk melakukan langkah-langkah pencegahan. Disadari atau tidak, perilaku baru kita dalam mencuci tangan lebih sering dan menerapkan social distancing lebih disiplin didorong oleh kecemasan kita terhadap penularan penyakit ini. Singkat kata, kecemasan yang kita alami juga berguna membuat diri kita terlindungi.

Jika kecemasan memang ada gunanya, lalu mengapa kebanyakan dari kita memandang kecemasan sebagai sesuatu yang negatif dan perlu dienyahkan? Salah satu penjelasan yang bisa diajukan ialah kebanyakan dari kita memang tidak diajarkan untuk mengenal dan menerima stres sebagai sesuatu yang wajar.

Sejak lama kita dibesarkan dengan ide bahwa mengalami stres bukanlah sesuatu yang baik. Merasa tidak baik-baik saja menjadi hal yang kurang bisa diterima. Hal ini membuat banyak dari kita kehilangan kesempatan untuk belajar menerima respons stres sebagai bagian alami dari kesehatan mental kita sendiri. Dan, ketika wabah virus corona memunculkan kecemasan sebagai sesuatu yang tak terhindarkan, kita seolah-olah merasa salah dan buru-buru ingin menghilangkannya.

Menurut Kelly McGonigal, seorang psikolog kesehatan berkebangsaan Amerika, mengubah cara pandang terhadap stres, dari memandang stres sebagai sesuatu yang negatif menjadi sesuatu yang positif, adalah kunci keberhasilan dalam mengelola stres. Alih-alih memandang stres sebagai sesuatu yang harus dihindari, kita sebaiknya memandang stres sebagai sesuatu yang berguna karena memberi kita energi untuk mengatasi masalah.

McGonigal juga meyakini bahwa dampak buruk stres bagi kesehatan sangat bergantung pada cara pandang dan pemaknaan individu terhadap stres itu sendiri. Dalam presentasinya yang memukau di panggung TEDX, ia menyebutkan bahwa stres berpengaruh buruk terhadap kesehatan hanya berlaku bagi orang-orang yang meyakini bahwa stres akan mengganggu kesehatannya. Sedangkan orang-orang yang tak mempercayai hal tersebut, stres tak berpengaruh apapun bagi kesehatan mereka.

Dengan menggunakan perspektif tersebut, ide bahwa merasakan kecemasan hanya akan menurunkan daya tahan tubuh dan membuat diri kita mudah terinfeksi virus menjadi sangat relatif kebenarannya.

Mengatur cara pandang terhadap stres menjadi hal yang paling krusial dalam mengelola kecemasan selama masa wabah berlangsung. Prinsip umum pengelolaan stres adalah respons stres akan hilang dengan sendirinya setelah kita berhasil mengatasi stressor yang ada. Dengan kata lain, kecemasan yang kita rasakan saat ini baru akan sepenuhnya hilang setelah wabah virus corona berhasil diatasi.

Mengingat masih panjangnya wabah ini berlangsung, maka harapan untuk tak merasa cemas sama sekali menjadi harapan yang tak realistis.

Dalam siaran langsung Instagram yang disiarkan oleh @mommiesdailydotcom, dr. Jiemi Ardian menyebutkan, "Dalam kondisi yang tidak ideal, tidak ada hal yang berjalan dengan ideal." Segala daya upaya yang dilakukan untuk menjaga kesehatan mental selama situasi yang abnormal ini tidak ditujukan untuk menghilangkan kecemasan, namun hanya untuk mengurangi kecemasan dan dampak-dampak psikologis lain yang kita rasakan.

Pada titik ini, ide Kelly McGonigal menjadi penting untuk kita renungkan; stres dan kecemasan adalah teman yang kita izinkan berdampingan menjalani kehidupan.

Lya Fahmi psikolog di Yogyakarta

(mmu/mmu)