Kolom

Pertahanan Diri Menghadapi Covid-19

Etik Rahmawati - detikNews
Selasa, 07 Apr 2020 11:13 WIB
ilustrasi konseling
Foto ilustrasi: thinkstock
Jakarta -

Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Jawa Tengah semenjak membuka layanan pada Senin, 23 Maret Senin lalu, sampai dengan Sabtu (28/3) telah melayani konseling sejumlah 288 orang. Hampir semua mengutarakan ketakutan dan was-was mengenai penyebaran wabah virus corona yang sampai saat ini masih menjadi pandemi dunia.

Pada Maret 2020 masyarakat tiba-tiba dihadapkan pada perubahan dalam segala sisi. Dari kebijakan pemerintah yang berdampak pada pendidikan, pekerjaan, hingga ibadah agama dan pola sosial. Hal ini membawa perubahan perilaku; siap tidak siap harus rela untuk berubah. Perubahan ini yang membuat banyak orang shock dan kaget, ibarat tubuh yang jatuh dari sepeda motor, walau tidak mengalami luka namun menimbulkan trauma dan ketakutan.

Dan itu belum impact dari Covid-19 selanjutnya; baru perubahan perilakunya itu sendiri.

Resistensi pasti ada. Tidak semua orang siap dengan perubahan, apalagi mengubah diri sendiri. Tidak mudah mengubah kebiasaan yang biasanya nongkrong, tiba-tiba diminta di rumah saja. Yang biasanya meeting dan menguasai "panggung" tiba-tiba disuruh work from home. Mau piknik pada weekend tempatnya tutup semua. Mau ke kafe takut diusir polisi. Kuliah mendadak banyak tugas. Mau keluar diminta jaga jarak, tidak berdekatan, apalagi bersentuhan. Harus rajin semprot-semprot disinfektan.

Ribet. Grup Whatsapp berlomba mengirimkan pesan menakutkan. Hidup ini tiba-tiba mencekam seperti baru diserang musuh.

Tentu pula, tingkat ketahanan mental juga berbeda antarorang satu dengan lainnya. Proses kognitif yang bekerja dalam menghadapi perubahan ini juga tidak sama. Hal ini menimbulkan persepsi dan pemahaman yang berbeda. Namun, yang jelas bagaimana seseorang harus cepat keluar dari resistensi itu atau ia akan mati konyol, baik itu arti sesungguhnya maupun arti secara harfiah. Hal ini tidak hanya berlaku karena wabah Covid-19 ini, namun untuk semua perubahan yang harus terjadi dalam fase kehidupan seseorang.

Meminjam teori Sigmund Freud, tokoh psikoanalisis, bahwa setiap manusia akan melakukan mekanisme pertahanan ego untuk berhadapan dengan ancaman dari luar yang menimbulkan pertentangan terhadap kepercayaan dalam diri, lebih tepatnya di dalam superego. Mekanisme pertahanan diri ini muncul karena adanya kecemasan; jika sudah mengganggu, maka ego akan melakukan tugasnya untuk melindungi individu.

Selanjutnya, muncul perasaan dan sikap defensif atau mempertahankan diri dari sesuatu yang dianggap membahayakan. Mekanisme ini akan bekerja membelokkan impuls id ke dalam bentuk yang bisa diterima dan tanpa disadari menghambat impuls tersebut. Bahasa sederhananya memutarbalikkan kenyataan atau melakukan penipuan diri sendiri atau menolak sesuatu yang tidak ia inginkan walaupun kenyataan tersebut ada.

Mekanisme pertahanan diri ini harus ada pada setiap individu sebagai wujud perlawanan menghadapi ancaman yang membahayakan baginya. Mekanisme ini berjalan seperti halnya lebah yang bersengat, mimikri pada bunglon yang menyerupai sesuatu, atau cecak yang memutus ekornya. Semua dilakukan karena ingin menyelamatkan diri dari ancaman.

Namun, mekanisme pertahanan diri pada manusia akan berubah menjadi patologi ketika bertahan dalam waktu lama; menolak dan mengelabui diri sendiri sampai individu tersebut tidak menyadari realita yang sebenarnya.

Manusia yang sehat tentu langsung menyadari apa yang terjadi dengan dirinya, mencoba untuk berubah dan tidak menolak atas apa yang terjadi di sekitarnya. Menyelaraskan antara superego dan id sehingga ego memenangkan pertandingan. Menyeimbangkan kesadaran dan alam bawah sadar untuk sama-sama bekerja sama menghadapi ancaman sehingga mampu keluar dari ketakutan dan kepanikan.

Menghadapi penularan penyakit atau virus Covid-19 ini benteng pertahanan diri sudah tidak mungkin bersifat individu. Untuk itu negara hadir membuat kebijakan. Diharuskan semua individu melakukan perubahan yang sama. Sebab, jika satu orang melakukan kesalahan, maka berakibat buruk bagi sekelompok besar orang. Layaknya menghadapi musuh, gerakan rakyat harus kompak, kapan bertahan kapan menyerang.

Namun, lagi-lagi ego muncul bukan karena menghadapi virus ini, bukan karena musuh bersama, tapi menghadapi perubahan itu sendiri, menyikapi aturan dan anjuran.

Bisa jadi dengan mengubah perilaku, mereka akan miskin karena banyak orang harus berdiam diri di rumah, jualannya jadi tidak ada yang beli. Bisa jadi, mereka enggan meliburkan karyawannya karena akan rugi besar. Atau jika kota tempat ia tinggal melakukan zero mobile, bisnisnya terganggu. Jadi motif ekonomi lebih menakutkan daripada ancaman kematian itu sendiri. Tapi lagi-lagi jika penolakan ini bertahan lama, maka akan menjadi patologi.

Di sini ego akan melawan untuk menyeimbangkan, salah satunya tetap berjualan namun menerapkan kebersihan secara ketat. Karyawan tetap masuk bekerja, namun menyediakan fasilitas pencegahan penularan. Melakukan bisnis bisa via online. Hal ini membuat ekonomi tetap berjalan, karena tidak mungkin menengadahkan tangan kepada negara atau orang lain. Inilah salah satu contoh proses mekanisme pertahanan diri bekerja.

Di sisi lain, seseorang merasakan ketakutan. Bahkan ketika sedang mengalami flu sudah berpikiran bahwa kematian tengah dekat. Bertemu dengan orang pun sudah berpikir kalau dirinya tertular. Menghadapi kenyataan ini, seseorang kemudian mencari informasi dan berkonsultasi kepada ahlinya. Kemudian disarankan untuk tetap rileks, olahraga, makan makanan sehat, membaca buku, agar imun tubuh bekerja, rajin berdoa.

Inilah bentuk mekanisme pertahanan diri yang bekerja dengan baik; kecemasan yang diikuti kemauan untuk keluar menghadapi ketakutan, menerima realita yang sedang menimpa dirinya.

Seandainya seseorang menerima realita yang sedang terjadi, tentu mereka akan menaati kebijakan yang sudah ditetapkan. Yang tentu saja kebijakan tersebut telah disusun oleh orang-orang yang berpengetahuan dan berilmu. Namun, untuk sebagian orang, ancaman kematian tidaklah ditakuti. Mati itu urusan Tuhan, katanya. Banyak orang tetap melakukan aktivitas seperti biasa, banyak orang menolak untuk mengkarantina diri sendiri walau berstatus ODP, tetap mudik pulang kampung padahal diminta di rumah saja. Orang tersebut tidak tahu atau tidak mau tahu jika mereka memiliki potensi membawa ancaman terhadap orang lain.

Jadi sebenarnya mekanisme pertahanan ego kita itu sedang bekerja untuk mempertahankan diri agar tetap hidup atau sedang menolak realita untuk mengubah perilaku?

Etik Rahmawati psikolog, tim penanganan psikologis ancaman Covid-19 Himpsi Jawa Tengah

(mmu/mmu)