Kolom Kang Hasan

Satu Suara Melawan Corona

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 06 Apr 2020 10:46 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Sepertinya tak mudah bagi banyak orang untuk memahami situasi yang sedang kita hadapi ini. Ada dua ribu lebih pasien yang dinyatakan positif tertular virus corona di negeri kita. Angka 2000 itu kalau dibandingkan dengan 250 juta penduduk kita terasa tak berarti. Bahkan di daerah padat seperti Jakarta, dengan angka positif tertular sebanyak 1000 orang pun, dibanding penduduk Jakarta yang hampir 10 juta jiwa, terasa sangat kecil. Hanya satu orang di antara 10.000. Demikian kecil sehingga sulit untuk merasakannya.

Kita baru sekitar sebulan mengkonfirmasi adanya pasien positif corona. Posisi kita saat ini tak jauh berbeda dengan posisi Amerika Serikat tiga minggu yang lalu. Saat itu setelah sebulan mendeteksi pasien pertamanya, Amerika "baru" memiliki sekitar 2000 orang pasien yang dinyatakan positif tertular. Saat ini di Amerika sudah ada 336 ribu pasien, setiap hari bertambah antara 20-30 ribu. Sudah ada 9600 orang meninggal, setiap hari ada 1000 lebih orang meninggal.

Saat ini kita masih bisa agak santai, tidak merasakan apa-apa. Tapi ingat, dalam tiga minggu kita mungkin akan mengalami nasib seperti Amerika itu. Kita akan menyaksikan lebih dari 1000 orang mati setiap hari, dan sangat mungkin berlipat-lipat dari jumlah itu, mengingat fasilitas kesehatan kita tidak sebaik di Amerika. Kalau itu terjadi, mungkin kita tak lagi bisa santai.

Saya tidak bermaksud menakut-nakuti. Tapi cobalah kita bertanya, apa yang membuat situasi kita tidak akan menjadi seperti di Amerika sana? Penyebaran virus corona ini seperti air mengalir dari sebuah tangki bocor. Selama dibiarkan mengalir, ia akan terus mengalir, tanpa batas. Perhatikan bahwa di China yang selama ini dianggap sudah berhasil mengendalikan pun masih terjadi penularan baru, walau tidak banyak.

Berapa orang yang mungkin akan tertular? Kalau kita tidak melakukan apa-apa, jumlahnya tak terbatas. Semua orang akan tertular. Sekali lagi mari bayangkan ada sebuah tangki bocor yang diletakkan di atas lantai di sebuah ruangan. Air yang keluar dari tangki itu membasahi lantai di dekat lubang bocor. Tapi air tak berhenti di situ. Air mengalir, melebar, makin lama makin besar permukaan yang dibasahi. Itu akan berlangsung terus sampai satu ruangan basah semua.

Yang harus kita lakukan adalah menahan agar air itu tidak terus menyebar, sambil mengeringkan lantai yang sudah telanjur basah. Mengeringkan ini artinya menyembuhkan yang tertular. Dalam hal ini harus kita akui bahwa kemampuan kita sangat rendah. Saat ini jumlah yang mati lebih banyak dibanding yang sembuh. Artinya, seperti saya ungkap di atas, situasi kita mungkin akan jauh lebih parah daripada Amerika.

Bagaimana menahan air yang sedang mengalir? Kalau kita tahan misalnya dengan deretan bata, air akan sedikit tertahan, tapi tetap saja masih akan bocor. Meski tertahan sedikit, bocor di mana-mana itu tidak menghentikan laju pertambahan lantai basah. Seiring dengan berjalannya waktu, tempat yang harus ditambal makin banyak, karena setiap titik yang baru kena air langsung menjadi titik penyebaran baru.

Selama sebulan sejak diumumkannya pasien pertama, kita boleh dibilang tidak membuat kemajuan apapun. Angka pertumbuhan pasien terus meningkat secara eksponensial. Bahkan setelah diserukan untuk tinggal di rumah tiga minggu yang lalu, nyaris tak ada efeknya pada pertumbuhan jumlah pasien. Kenapa? Karena memang hanya sedikit yang benar-benar tinggal di rumah.

Di banyak tempat orang masih keluar rumah, bekerja, berjualan, terus berinteraksi dalam jarak dekat, menularkan virus. Orang masih belum merasakan kekhawatiran. Kalau ini dibiarkan terus, dalam waktu 3-4 minggu kita akan segera menyusul Amerika tadi.

Yang kita lakukan sekarang mirip dengan orang yang menjejerkan bata untuk menahan perambatan air bocor tadi, jarak antarbata menganga lima senti atau lebih. Atau, di sebelah sini ditutup dengan bata, tapi di sebelah sana dibiarkan terbuka.

Kenapa ini bisa terjadi? Karena kita tidak bersama, tidak satu suara. Di sisi sini orang mencoba menahan, di sisi sana orang membiarkan kebocoran. Bahkan tak cuma membiarkan, ada yang dengan sengaja membuat lubang-lubang baru. Masih ada yang ngotot berkumpul di rumah ibadah, melakukan hajatan, dan pesta di hotel mewah.

Peran pemerintah sejauh ini adalah sebagai pengimbau. Orang diimbau untuk tetap di rumah. Perusahaan diimbau untuk meliburkan karyawan. Pemilik mall diimbau untuk menutup mal milik mereka. Bagian sini mengatakan orang tidak boleh mudik, bagian sana mengatakan orang boleh mudik. Pemerintah pusat bilang A, pemerintah daerah bilang B. Kualitasnya memang masih parah. Tak heran bila tak terlihat hasilnya.

Sekarang ini adalah saat genting. Gentingnya sekarang. Kalau kita tidak bertindak sekarang, yang akan kita hadapi bukan lagi suasana genting, tapi kiamat.

Yang paling segera harus ada sekarang adalah satu suara. Pemerintah satu suara. Suara hari ini harus senada dengan suara besok. Jangan sampai plin plan, sebentar begini, sebentar begitu. Suara kementerian ini, pejabat anu, harus senada dengan suara kementerian itu pejabat situ. Jangan sampai pejabat-pejabat negara berbeda-beda suara, berbeda-beda sikap. Suara pemerintah daerah harus senada dengan suara pemerintah pusat. Jangan sampai ada pemerintah daerah yang bersuara berbeda.

Suara berbeda itu bisa muncul karena dua sebab, yaitu kepala daerah yang ingin menonjolkan diri, atau pemerintah pusat yang tidak bisa dipercaya.

Mohon maaf, yang terlihat sekarang adalah suasana compang-camping. Pemerintah memang sudah bekerja, itu kita hargai. Tapi kerjanya compang-camping. Ini harus diperbaiki, dan harus sekarang. Presiden tidak bisa lagi menyerahkan koordinasi penanganan kepada Kepala BNPB. Presiden sendiri yang harus memimpin, baik jajaran pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Presiden bukanlah sekadar pemimpin kabinet, tapi pemimpin Republik Indonesia. Tunjukkan bahwa Republik Indonesia bersatu melawan corona, di bawah pimpinan Anda.

(mmu/mmu)