Kolom

Perjuangan Rakyat Semesta Perangi Wabah Corona

David S Perdanakusuma - detikNews
Minggu, 05 Apr 2020 12:56 WIB
detikX
Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Bangsa Indonesia sedang mengalami Bencana Nasional Pandemi Covid-19. Dalam 33 hari setelah pengumuman terjadi peningkatan yang sangat cepat dari 2 menjadi 1986 kasus dengan kematian 181 orang atau 9,1%. Kematian di negara kita lebih tinggi dari angka kematian rata-rata global yaitu 5% atau 58.773 kematian dari 1.094.068 kasus. Kondisi ini menjadi ancaman serius dan mencemaskan bagi seluruh rakyat Indonesia yang berimbas pada berbagai aspek kehidupan.

Bencana ini tidak hanya sekadar permasalahan kesehatan semata walaupun berpangkal dari masalah kesehatan, namun sangat kompleks menyangkut juga permasalahan sosial, ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan. Bila kondisi ini dianggap sebagai medan pertempuran menghadapi bencana, dokter dan petugas kesehatan adalah prajurit yang harus berada di garis depan.

Namun tidaklah cukup hanya mengandalkan dokter dan petugas kesehatan saja dalam berjuang memerangi bencana Covid-19 ini. Juga tidak hanya meminta pemerintah untuk bertanggung jawab mengatasi bencana ini dengan berbagai kebijakan dan upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi bencana ini. Gerakan masif seluruh komponen bangsa sangat dibutuhkan saat ini.

Indonesia memiliki sejarah semangat pertahanan keamanan semesta, yang mana saat negara diserang oleh musuh dari luar maka seluruh rakyat Indonesia akan bersatu dan bergerak membela negara. Tidak hanya tentara saja yang berjuang, seluruh rakyat ikut berjuang membantu membela negara dengan bersenjatakan apa saja yang dimilikinya seperti bambu runcing, kayu, golok, pedang, dan apa saja yang bisa digunakan untuk melawan musuh.

Tidak hanya di garis depan, rakyat juga membantu memberi dukungan dengan segala yang dimilikinya seperti makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan yang diperlukan para pejuang. Saat ini tentunya perjuangan membela negara tidak seperti masa lalu bentuknya. Tetap bersatu padu bahu membahu berjuang untuk keselamatan dan kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan perannya masing masing.

Seluruh rakyat ikut terpanggil dalam berbagai aktivitas berjuang memerangi Covid-19 dengan menjaga dan memelihara kesehatan sesama rakyat Indonesia. Orang sakit akan terbantu dalam mengurangi penderitaannya. Mereka yang terancam sakit dapat terhindar dari sakitnya. Demikian pula bagi yang sehat dapat terjaga dan terpelihara kesehatannya. Semua bergotong royong tolong menolong berbagi kontribusi mewujudkan kesehatan semesta.

Seluruh masyarakat perlu ikut bertanggung jawab atas kejadian bencana ini dan menjadi bentuk perjuangan yang perlu dibangun dalam rangka mewujudkan kesehatan semesta bangsa Indonesia. Dorongan dari pemerintah, berbagai profesi, tokoh agama, tokoh panutan, dan berbagai unsur terkait dapat menjadi sumber penggerak.

Dorongan tersebut perlu disampaikan dalam bentuk arahan bahwa kontribusi menjaga diri, keluarga, dan masyarakat adalah upaya gotong royong yang perlu dilakukan serta senantiasa dikumandangkan secara terus menerus. Hal ini memungkinkan timbulnya kebiasaan positif yang kemudian diharapkan dapat menjadi suatu budaya yang baik bila dapat saling menjaga dan mengingatkan bila ada perilaku yang membahayakan yang tidak sesuai dengan upaya pencegahan penyebaran/penularan Covid-19.

Berbagai seruan telah disampaikan senantiasa menjaga jarak (physical distancing), tidak batuk sembarangan, tidak berkerumun, membersihkan berbagai alat yang bisa menjadi media penularan, tetap di rumah bila tidak ada keperluan mendesak, dan melakukan isolasi diri secara patuh bila berpotensi sakit atau berpotensi menularkan.

Saat ini menjaga jarak adalah upaya yang sangat krusial dapat mengurangi laju penularan dari Covid-19. Untuk itulah diperlukan kepatuhan untuk melaksanakannya. Sampai saat ini belum sepenuhnya semua komponen masyarakat melaksanakan seruan tersebut. Kesadaran terhadap hal Ini menjadi modal utama dalam proses memerangi bencana Covid-19 ini.

Perlu dibangun budaya yang membuat seseorang merasa bersalah bila berbuat sesuatu yang berpotensi menulari diri sendiri dan orang lain apalagi sampai sakit. Perlu pula dibangun budaya yang membuat seseorang merasa bersalah bila tidak berbuat apapun bagi orang dalam kekurangan, menderita sakit, atau yang tidak tahu terhadap bahaya penularan. Ini menjadi modal besar dalam upaya membangun kesehatan semesta seluruh rakyat Indonesia --membawa Indonesia dari suatu situasi penderitaan menuju kebaikan dan kondisi yang sudah baik menjadi lebih baik lagi.

Semangat gotong royong merupakan semangat kebersamaan yang perlu dibangun untuk mewujudkan Indonesia yang sehat, kuat, dan hebat. Pemantapan semangat ini memerlukan tokoh panutan yang memberikan arahan pada masyarakat. Upaya ini diharapkan dapat membangun berbagai komunitas swadaya masyarakat yang peduli dengan sesama untuk saling menolong demi kemaslahatan bersama. Semua orang yang mampu membantu yang kurang mampu, yang berlebih membantu yang kekurangan, yang sehat membantu yang kurang sehat, dan yang berpengetahuan membantu yang belum tahu.

Pada kondisi saat ini gerakan tetap tinggal di rumah juga merupakan suatu perjuangan, yang tentunya gerakan ini perlu didukung oleh banyak pihak. Contoh konkret yang bisa dilakukan masyarakat adalah satu orang yang mempunyai penghasilan bulanan dan ada kelebihan dapat membantu minimal satu orang yang berpenghasilan harian yang dalam kondisi kekurangan sebagai dampak dari imbauan tinggal di rumah (seperti pedagang kecil pasar tradisional, pedagang keliling, ojek, tukang becak, dan lain lain). Suasana ini akan mendorong persatuan sehingga budaya gotong royong yang sudah mengakar pada berbagai sendi kehidupan bangsa Indonesia benar terwujud.

Kolaborasi berbagi peran adalah kata kunci yang tepat dalam menangani bencana Covid-19 secara nasional maupun secara lokal di daerah. Seluruh komponen bangsa bersatu padu ikut menanggulangi masalah ini sesuai dengan tugas dan keahlian masing masing.

Para dokter dan petugas kesehatan berada di garis depan memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Alat pelindung diri (APD) dicukupi untuk terlaksananya pelayanan kesehatan dengan baik. Alat deteksi dan diagnostik dicukupi untuk dapat melakukan screening yang sakit dan tidak sakit. Seluruh komponen masyarakat membantu dengan dukungan serta membatasi diri tidak keluar rumah, menjaga jarak, membatasi mobilitas intra dan antarwilayah, saling membantu dalam penghidupan.

Semoga bencana ini cepat berlalu dengan semangat perjuangan semesta. Salam sehat.

Prof. Dr. David S Perdanakusuma, dr, SpBP-RE(K) Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia

(mmu/mmu)